STRUKTURALISME

Inggris: structuralism; dari Latin struere (membangun). Structura berarti bentuk bangunan.

Sebuah sudut pandangan, filsafat, atau gerakan filosofis dewasa ini. Ajaran pokoknya: semua masyarakat dan kebudayaan memiliki suatu struktur yang sama dan tetap.

Tujuan

Trend metodologis ilmiah ini menetapkan riset sebagai tugas me-nyingkapkan struktur objek-objek. Strukturalisme dikembangkan oleh beberapa ahli humaniora (linguistik, kritik sastra, psikologi, dll.) pada awal abad ke-20 sebagai reaksi terhadap evolusionisme positivis dengan menggunakan metode-metode riset struktural yang dihasilkan oleh matematika, fisika dan ilmu-ilmu alam lainnya.

Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual objek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Berangkat dari seperangkat fakta yang diamati pada permulaannya, strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu objek (hierarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat), dan lebih lanjut menciptakan suatu model teoretis dari objek tersebut.

Di antara faktor-faktor yang memajukan perkembangan struk-turalisme di dalam beberapa ilmu ialah diciptakannya semiotik, ide-ide F. Saussure dalam linguistik, ide-ide Levi-Strauss dalam etnologi, dan L.S. Vygotsky dan Piaget dalam psikologi, serta tampilnya metalogika dan metamatematika (Frege, Hillbert).

Bila diterapkan pada ilmu-ilmu individual, metode-metode struktural menghasilkan akibat-akibat positif: misalnya, dalam linguistik pendekatan ini membantu membuat suatu deskripsi tentang bahasa yang tidak tertulis, membuat sandi prasasti dalam bahasa yang tidak dikenal dengan cara rekonstruksi batin (inti) sistem-sistem bahasa, dll.

Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis.

Peranan Beberapa Tokoh

Muncul di Perancis sebagai hasil tulisan-tulisan Claude Levi- Strauss, arah perkembangan Strukturalisme melenceng dari asal usulnya dan menuju penspesifikasian struktur tetap hubungan-hu¬bungan yang, berdasarkan hipotesis, diterima oleh semua manusia secara tidak sadar dan pra-reflektif. Karena struktur ini juga mewujud dalam setiap aspek masyarakat atau kebudayaan, jelaslah sudah bahwa gerakan ini pasti merangkum kaum spesialis bukan saja dalam bidang antropologi tetapi juga dalam bidang linguistik, kritik sastra, sejarah, ekonomi, psikoanalisis, filsafat, dan agama.

Lebih jauh, daftar kaum strukturalis cenderung diperluas ketika orang dalam gerakan itu mencari pendahulunya. Vico, Marx, Freud, Jung, De Saussure, Merleau-Ponty, dan Piaget adalah beberapa di antara tokoh yang diklaim oleh kaum strukturalis sebagai bertalian dengan gerakan itu.

1. Ferdinand De Saussure diangkat sebagai pendiri linguistik struktural. Dengan membedakan antara signifier (petanda) dan benda (hal) yang ditandai, De Saussure memandang bahasa sebagai modal interpretasi utama dunia, dan menuntut suatu ilmu yang bernama Semiologi. Semiologi bergulat dengan hakikat tanda-tanda dan hukum-hukum pengaturnya. Keyakinannya bahwa hukum-hukum linguistik berkembang sinkron, yakni serempak dalam berbagai masyarakat, merupakan ajaran kunci gerakan ini.

2. Untuk mengkaji struktur yang sama bagi macam-macam ma-syarakat, Levi-Strauss menggunakan metode antropologi dan linguistik secara serempak. Dalam penerapan metodenya ini kemiripan atau kesamaan berbagai macam mitos dan adat istiadat dalam pelbagai masyarakat diteropongi. Dalam proses analisisnya, manusia kemudian dipandang sebagai suatu porsi dari struktur, yang tidak “dikonstitusikan” oleh analisis itu melainkan “dilarutkan” dengan analisis. Perubahan penekanan ilari manusia ke struktur merupakan ciri umum pemikiran strukturalis.

3. Jacques Lacan, pendiri mazhab Freudian Paris, mempertalikan perhatian strukturalis pada bahasa dengan dunia bawah sadar manusia. Bagi Lacan, bahasa bukan saja alat yang memungkinkan seseorang mampu menyelami dunia tak sadarnya, tetapi juga yang tidak sadar itu sendiri “distruktur secara persis” sebagai suatu bahasa. Lacan mempersoalkan nilai individualitas manusia. Kita mesti belajar bagaimana manusia. Lacan menyatakan bahwa manusia adalah subyek semu dan tidak berpikir. Sebaliknya, ia dipikirkan. Manusia, “subjek yang kabur”, hendaknya tidak lagi dipandang sebagai sentral, tetapi sebagai satu dari sekian banyak elemen dalam analisis.

4. Louis Althusser memperluas analisis strukturalis ke arah pemikiran Karl Marx. Dalam percobaan ini dilakukan usaha untuk memandang sejarah maupun ekonomi sebagai “tercaplok” di dalam struktur-struktur.

5. Roland Berthes menerapkan analisis strukturalis pada kritik sastra. Dengan menganggap macam-macam gaya ekspresi atau analisis sebagai “bahasa-bahasa yang berbeda-beda”, tugas kritik sastra adalah tugas terjemahan. Kritikus sastra mengekspresikan dengan salah satu bahasa dari zamannya sendiri sistem formal yang telah dibentangkan penulisnya dalam kondisi-kondisi zaman lain. Sasarannya ialah menyoroti kesamaan struktural di samping perbedaan-perbedaan dalam bahasa.

6. Michel Foucault menerapkan Strukturalisme pada bidang filsafat. Menurutnya, tatanan kata-kata mengandung kunci bagi pengertian, baik dalam filsafat maupun bidang lain, dan lebih penting daripada tatanan benda-benda. Dia beranggapan bahwa semua, disiplin teoretis dibebani tugas menghapuskan humanisme dengan menyoroti sistem pemikiran anonim “tanpa subjek” yang ada dalam bahasa suatu zaman.

7. Guenther Schiwy mengaitkan strukturalisme dengan kekristenan . Dia berusaha memperlihatkan bahwa penekanan atemporal strukturalisme sebenarnya cocok dengan penekanan eternalistik: kekristenan.

8. Setidaknya sampai sekarang ini dalam sejarahnya, strukturalisme menyangkal keberhargaan sejarah, dan sebaliknya menekankan keberhargaan sistem. Ia mengurangi individualitas dan humanisme, seraya menegaskan struktur. Baginya perbedaan-perbedaan di antara masyarakat-masyarakat semu semata; kesamaan-kesamaan ditekankan. Ia mengurangi penekanan pada waktu, dengan mengangkat synchrony (keserempakan) dan ditafsirkan sebagai keunggulan status bahasa atas sejarah, sebagai pengganti diachrony (keberuntunan) yang menekankan keberurutan histori s bentuk-bentuk.

9. Strukturalisme dalam psikologi memusatkan perhatian pentingnya struktur-struktur fenomena psikis yang terbuka kepada introspeksi, dengan menyajikan pendekatan struktur pada interpretasi psikologis yang dipandang lebih baik daripada pendekatan fungsional.

Incoming search terms:

  • strukturalisme
  • pengertian strukturalisme
  • definisi strukturalisme
  • pengertian strukturalisme menurut para ahli
  • Pengertian teori struktural menurut para ahli
  • strukturalis
  • apa itu strukturalisme
  • pengertian teori strukturalisme
  • arti strukturalisme
  • strukturalisme adalah

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • strukturalisme
  • pengertian strukturalisme
  • definisi strukturalisme
  • pengertian strukturalisme menurut para ahli
  • Pengertian teori struktural menurut para ahli
  • strukturalis
  • apa itu strukturalisme
  • pengertian teori strukturalisme
  • arti strukturalisme
  • strukturalisme adalah