TAMPAKAN

Inggris: appearance; dari Latin apparere (menampakkan diri); dari ad, a (kepada) parert (tampak).

Dalam sejarah filsafat istilah ini bertolak belakang dengan realitas atau kenyataan. Kadang hubungan tampakan dengan kenya¬taan sama dengan hubungan ilusi atau kepalsuan dengan kebenaran. Setidaknya dalam filsafat Barat, hubungan itu adalah hubungan opini apa yang mungkin benar atau mungkin tidak benar dengan kebenaran.

Beberapa Pengertian

1 Apa yang dilihat, atau isi indra yang langsung disadari.

2 Isi indra yang dipercaya memiliki kesamaan atau kemiripan samar-samar dengan sesuatu dari mana isi indra itu berasal.

3. Cara sesuatu berada sebagaimana tampak. Ini berbeda dengan cara sesuatu berada di dalam dirinya sendiri.

4. Isi indra yang tidak mempunyai kesamaan dengan sesuatu dari mana isi indra itu berasal.

5. Perwujudan luar hakikat hal-hal yang langsung diamati dengan pancaindra. Atau lebih tepat, beberapa aspek hakikat.

6. Secara umum, apa yang ditangkap secara intuitif.

Pandangan Beberapa Filsuf

1. Bagi Parmenides, dunia sebagaimana kita tafsirkan dari tampakannya hampir merupakan khayal belaka.

2. Adalah Plato yang mengajukan pandangan baku yang mengidentikkan tampakan dan opini secara alegoris lewat garis yang dibagi atas dua bagian.

3. Sesuatu yang mirip dengan pandangan Platonik dipaparkan oleh Immanuel Kant, yang menamakan tampakan-tampakan phenomena dan kenyataan nourmna.

4. T.H. Green memandang pembedaan antara tampakan dan kenyataan sebagai pembedaan antara pikiran yang terbatas dan pikiran yang absolut.

5. F.H. Bradley kembali lagi kepada Parmenides. Bahkan gaya berargumentasinya sama.

Pandangan Kant

Dalam hal-hal tertentu; pengindraan kita berbeda menurut ciri tertentu dalam objek. Yang pertama yang paling umum adalah perbedaan antara tampakan dan benda-di-dalam-dirinya-sendiri. Di sini, tampakan (appearance) berarti gambaran indrawi hal yang diketahui. Dalam gambaran ini hal itu tampak kepada kita menurut ciri-ciri indra kita. Tampakan sejati berbeda dari tampakan sesat. Ini dikarenakan fakta bahwa pada prinsipnya tampakan sejati berhubungan dengan benda-di-dalam-dirinya-sendiri.

Menurut Kant, pengalaman, yang dinggap sebagai kesan indrawi yang terbentuk menurut ruang dan waktu, masih bersifat “subjektif”. Pengalaman dapat menjadi tampakan objektif, yang dia sebut fenomenon (fenomen), hanya kalau pengalaman itu ditangkap menurut salah satu kategori. Sejauh Kant berkata bahwa kita hanya dapat mengetahui tampakan dari suatu hal/benda dan bukan benda itu dalam eksistensinya yang sejati, pandangannya ini merupakan jenis fenomenalisme. Menurut realisme skolastik, gambaran indrawi bukan hanya tampakan, melainkan dalam batas-batas tertentu representasi sejati dari hal yang berpautan dengan kenyataan.

Kedua, perbedaan antara tampakan dan esensi. Di sini, “tampakan” menunjukkan objek, bukan menurut cara dia mewujudkan dirinya. Dalam pengertian ini tampakan adalah objek empiris. Perbedaan ini tidak sama dengan perbedaan pertama di atas, karena tampakan dalam arti ini tidak meniadakan eksistensi aktual dan sebaliknya esensi hanya merupakan sesuatu yang dibayangkan.

Kata “tampakan” atau fenomen juga mempunyai arti lain dalam terminologi. Di sini, fenomen berarti setiap hal yang ditangkap atau dialami secara langsung, yang berbeda dengan segala sesuatu yang hanya dipikirkan atau diketahui secara langsung. Perhatikan, dalam pengertian ini bahkan eksisten nyata (misalnya, hal-ihwal batin kita sendiri) atau objek yang ditangkap menurut esensinya dapat menjadi sebuah fenomen. Kata “fenomen” yang diartikan menurut pengertian ketiga ini bermaksud agar seluruh spekulasi mulai dengan fenomen.

Beberapa Pembedaan

1. Tampakan luar berarti data indrawi. Pengaruhnya begitu menentukan sehingga data itu bisa menyebabkan putusan (keputusan) sesat. Lantas, realitas objektif yang terungkap dalam putusan itu “seakan-akan” ada, walau sebenarnya tidak ada. Itu berarti persepsi kita menyajikan atau menggambarkan objek secara lain daripada sesungguhnya.

2. Tampakan konseptual (logis) lazimnya bertumpu pada kesamaan antara ide-ide, yang kalau tidak berhati-hati, dapat dengan mudah disamakan secara sesat. Tampakan indrawi belaka (misalnya, dayung yang bengkok dalam air) dalam banyak situasi terjadi secara regular karena rangsangan luar, sehingga orang yang sudah berpengalaman tidak akan terperangkap oleh penipuan. Dalam hal-hal semacam ini kita tidak dapat menyebutkan penipuan indrawi. Sebab hal ini terjadi hanya bila pengalaman-pengalaman indrawi ditafsirkan secara keliru karena pengaruh imajinasi. Penipuan indrawi menjadi persepsi keliru bila, karena tambahan unsur-unsur imajinasi, objek- objek tampak secara lain dari kenyataan sebenarnya (ilusi); atau bila isi persepsi kita hanya merupakan produk-produk imajinasi kita belaka dan karenanya mencuatkan hal-hal yang sebenarnya tidak ada sama sekali (halusinasi). Sebetulnya tidak ada penipuan dalam arti sesungguhnya sampai manusia terdorong membuat putusan sesat berdasarkan tampakan luar semata-mata.

3. Ilusionisme adalah pandangan bahwa segala sesuatu atau hampir segala sesuatu, yang biasanya kita anggap sungguh- sungguh nyata, tidak lain dari tampakan luar semata-mata. Pandangan ini sama dengan skeptisisme. Demikian pula, fiksionalisme Hans Vaihinger (As-lf-Philosopy). Filsafat ini menyatakan bahwa seluruh pengetahuan manusia tersusun dari fiksi- fiksi. Pragmatisme menegaskan secara tidak tepat bahwa banyak dari fiksi-fiksi ini memberikan sumbangan bagi kehidupan yang utuh.

Tampakan dan Kenyataan

Dua istilah ini menunjukkan perbedaan antara hal-hal sebagaimana tampak kepada si pengamat dan hal-hal sebagaimana ada dalam dirinya sendiri. Terhadap perbedaan ini ada pendapat yang mengatakan bahwa ada hal-hal yang tampakan-tampakannya terlepas dari pengetahuan kita. Pendapat itu juga mengatakan bahwa hal- hal ini tidak bisa kita ketahui sebagaimana ada dalam dirinya sendiri. Juga dikatakan bahwa hanya beberapa dari hal-hal itu bisa kita ketahui sebagaimana ada dalam dirinya sendiri.