TEOLOGI

Inggris: theology; dari Yunani tbeologia — dari tbeos (Tuhan, Allah) dan logos (wacana, ilmu).

 

Beberapa Pengertian

1. Ilmu tentang hubungan dunia ilahi (atau ideal, atau kekal tak berubah) dengan dunia fisik.

2. Ilmu tentang hakikat Sang Ada dan kehendak Allah (atau para dewa).

3. Doktrin-doktrin atau keyakinan-keyakinan tentang Allah (atau para dewa) dari kelompok-kelompok keagamaan tertentu atau dari para pemikir perorangan.

4. Kumpulan ajaran mana saja yang disusun secara koheren menyangkut hakikat Allah dan hubungan-Nya dengan umat manusia dan alam semesta.

5. Usaha sistematis untuk menyajikan, menafsirkan, dan membenarkan secara konsisten dan berarti, keyakinan akan para dewa dan/atau Allah.

 

Pandangan Beberapa Filsuf

1. Theologia pada awalnya dianggap bersangkutan dengan mitos. Hesiodos dan Orpheus merupakan contoh terdepan dalam arti ini.

2. Aristoteles adalah orang pertama yang menganggap teologi sebagai suatu disiplin, seraya mengidentikkannya dengan filsafat pertama, yang tertinggi dari semua ilmu teoretis, suatu studi yang kemudian bernama metafisika.

3. Philo Judaeus merintis konsep teologi negatif. Berdasarkan transendensi Allah, satu-satunya pernyataan yang dapat dibuat manusia tentang Allah ialah yang berbentuk negatif. Allah adalah transenden dan orang hanya dapat mengatakan tentang Allah apa yang bukan Allah.

4. Pada abad-abad pertama Kekristenan dirumuskan kesepakatan yang mendefinisikan materi pokok teologi Kristen. Karya pokok diselesaikan oleh kaum Apologis Kristen, dan khususnya Justinus Martir, Irenaeus, Tertullianus, dan Origen. Berjasa juga Athanasius dan rumusan “homoousia” Konsili Nicaea; kaum Kapadokia Gregorius Nazianzen, dan Gregorius dari Nyssa dan Agustinus; Keputusan-keputusan tentang Kristologi dan Roh Kudus dari sinode Alexandria (362), Konsili- konsili Konstantinopel, Efesus, dan Khalsedon.

5. Pseudo-Dionysius membedakan antara teologi positif (berdasarkan Alkitab), teologi negatif, dan teologi superlatif (sesuai dengan pandangan Neoplatonik tentang Allah sebagai yang “ter-” dalam segala segi). Karena tak satu pun pendekatan- pendekatan ini mencukupi, akhirnya dianjurkan sebuah teologi mistik.

6. Anselmus menyediakan analisis yang penting tentang Pene¬busan. Hugo dari St. Victor, Petrus Lombardus, dan Konsili Lateran Keempat (1215) menyelesaikan ajaran tentang sakramen-sakramen. Hasil-hasil yang telah dicapai ini, bersama dengan keputusan-keputusan yang disebutkan dalam (4) di atas menyediakan kerangka teologi Katolik.

7. Maimonides mengembangkan pembedaan antara teologi negatif dan positif. Teologi negatif berfungsi menjauhkan kita dari konsepsi-konsepsi keliru. Teologi positif membahas pengaruh- pengaruh Allah dalam dunia alamiah.

8. Lambat laun berkembang suatu pembedaan antara teologi natural dan wahyu. Kendati Thomas Aquinas membedakan antara kebenaran iman dan kebenaran akal, dua unsur itu digabungkan dalam karyanya. Dan menurut teorinya, William dari Ockham memandang teologi sebagai disiplin yang bertumpu pada kebenaran yang diwahyukan dan tidak tergantung pada filsafat maupun ilmu.

9. Teologi Protestan dengan mengurangi tekanan pada tradisi, menambah tekanan pada Alkitab, dan pada iman menemukan ungkapannya yang paling penuh dalam sistem Melanchthon dan Calvin.

10. Suarez berkeyakinan bahwa teologi dapat dibantu oleh kritik filosofis; dan kedua disiplin itu dapat saja berada bersama di dalam “kesatuan lebih tinggi” iman Kristen.

11. Gerakan teologi dialektis, atau teologi kritis bercikal bakal di dalam pandangan Kierkegaard, bahwa suatu lompatan iman perlu untuk mencapai tingkat Kekristenan. Tetapi sebaliknya istilah-istilah itu masuk dalam tulisan-tulisan Kari Barth. Emil Brunner salah seorang penganut sudut pandangan ini.

12. Paul Tillich memandang filsafat dan teologi mempunyai hubungan timbal balik, kendati “metode korelasi” teologi, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terakhir berdasarkan wahyu, melampaui kemampuan filsafat.

13. Pada dasawarsa 1960-an Teologi Radikal dari Altiser dan Hamilton muncul, yang memuat “kematian Allah” atau “Allah mati” sebagai ajaran sentralnya.

 

Beberapa Pembedaan

Teologi adalah ilmu tentang Allah. Kalau teologi mulai dengan pengetahuan alamiah manusia, ia disebut teologi natural, teodise, atau kadang-kadang filsafat ketuhanan. Sesungguhnya teologi merupakan bagian dari metafisika yang menyelidiki hal eksiten menurut aspek dari prinsipnya yang terakhir suatu prinsip yang luput dari persepsi indrawi tunggal. Objeknya adalah Allah: eksistensi-Nya, esensi-Nya dan aktivitas-Nya. Kemungkinan teologi alamiah sebagai suatu ilmu bersandar pada fakta bahwa kita dapat mengetahui dengan pasti eksistensi Allah dan kemudian menilai keabsahan-Nya.

Jelaslah bahwa ilmu tentang Allah tidak memberikan kita pengetahuan tentang Allah yang dalam setiap hal sama dengan pengetahuan yang kita peroleh dari ilmu tentang objek-objek pengalaman indrawi sehari-hari. Pernyataan-pernyataan konseptual kita tentang Allah tidak memberikan kita suatu pengetahuan yang memadai tentang Dia, tetapi semata-mata pengetahuan yang bersifat analogis.

Ada dua prinsip dasar yang bekerja dalam setiap putusan teologi natural. Pertama, apa ayang termasuk eksisten sebagai eksisten, juga termasuk Allah, kendati dengan caranya sendiri. Dan kedua, apa yang termasuk suatu eksisten kontingen sebagai kontingen, secara niscaya harus disangkal tentang Allah.

Teologi adikodrati atau teologi wahyu (inilah yang dimaksudkan bila seseorang berbicara semata-mata tentang “teologi”) pada akhirnya mendasarkan pada pernyataan-pernytaannyawahyu adikodrati yang datang dari Allah. Di satu pihak, tugasnya ialah memperlihatkan bahwa wahyu merupakan suatu fakta historis (teologi fundamental) dan di lain pihak, menguraikan isi wahyu dari sumber-sumber teologis (teologi positif) dan menjabarkan penyajian konseptual dan ilmiah dari wahyu (teologi spekulatif atau dogma). Objek teologi adikodrati ialah Allah, bukan pertama- tama sebagai sumber terakhir dari alam tetapi terlebih sebagai Allah keselamatan abadi.

Teologi adikodrati sedikitnya dipertentangkan dengan filsafat sebagaimana iman dipertentangkan dengan rasio. Namun, teologi menggunakan filsafat demi tujuannya sendiri tanpa merintanginya dalam pengejaran tujuannya sendiri. Teologi juga menilai filsafat, sebagaimana ia menilai semua pengetahuan manusia, menurut ukuran pengetahuannya sendiri yang lebih tinggi. Ini sama sekali tidak menyiratkan suatu peremehan terhadap rasio, karena, dalam hal ini rasio tidak dinilai menurut standar yang sama sekali bersifat asing baginya menurut ukuran pikiran Allah yang tak terbatas.

Incoming search terms:

  • pengertian teologi
  • pengertian teologis
  • teologi adalah
  • definisi teologi

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian teologi
  • pengertian teologis
  • teologi adalah
  • definisi teologi