PENGERTIAN ASAL USUL DAN PERKEMBANGAN AGAMA ADALAH – Asal usul agama hanya dapat dijelaskan secara spekulatif; asal usul itu tidak pernah dapat ditemukan. Ada dua metode yang digunakan orang dalam membangun teori mengenai asal usul dan perkembangan agama. Pertama adalah apa yang disebut metode komparatif. “Bukti-bukti” yang berasal dari suku bangsa-suku bangsa di seluruh dunia diambil (diangkat) dari konteksnya dan disusun menurut skema yang berurutan. Pekerjaan ini hanya bisa dilakukan menurut rencana yang sudah disusun lebih dahulu, dan didukung atas dasar bahwa rancangan ini menyusun data sedemikian rupa sehingga mendukung skema tersebut dan oleh karena itu membuktikan validitasnya (Malefijt, 1968).

Metode yang lain adalah melalui penggunaan apa yang disebut “survivals- —yakni, “proses, adat-istiadat, pendapat-pendapat, dan lainlain, yang dibawa oleh kekuatan kebiasaan (force of habits) ke dalam suatu keadaan masyarakat yang berbeda dari kondisi aslinya semula, dan karena itu unsur-unsur survival tersebut tetap bertahan sebagai bukti dan contoh dari kondisi kebudayaan sebelumnya, yang di luar itu kebudayaan yang lebih baru terus berevolusi” (Tylor, 1962 [1873]). Secara singkat dapat dikatakan bahwa survival yang ada membersitkan seberkas cahaya yang menerangi sejarah masa lampau. Namun, dengan tidak adanya catatan-catatan tertulis maka tidak ada cara apa pun untuk mengetahui bahwa suatu buda ya benar-benar merupakan sisa-sisa dari kebudayaan masa lampau. Sekali lagi kepercayaan didasarkan pada prinsip kesatuan psikis manusia—hakikat manusia pada dasarnya sama, oleh sebab itu hasil yang sama bisa muncul secara independen dari penyebab yang sama.

Landasan pemahaman kita mengenai asal usul dan perkemb,aFigan (evolusi) agama dapat dibangun dari tulisan-tulisan klasik S-e-perti dari Edward B. Tylor. Mungkin muncul skeptisime bahwa teori Tylor dianggap mengandung kelemahan terutama apabila kita hadapkan dengan teori-teori mengenai agama yang lebih kontemporer, namun sumbangannya yang mendasar tentang hakikat asal usul agama tidak boleh diabaikan. Dapat dikatakan bahwa tulisan Tylor tersebut merepresentasikan hipotesis-hipotesis yang paling awal dalam antropologi mengenai asal usul agama: Ia berpendapat bahwa agama berakar dalam gagasan tentang jiwa (soul) dan berargumentasi bahwa setelah manusia itu ada, maka muncullah keyakinan bahwa aneka ragam makhluk halus ada kaitannya dengan berbagai ruang lingkup dan hakikat kegiatan manusia.

Teori terpenting lain yang membicarakan asal usul agama adalah dari Emile Durkheim, dalam bukunya The Elementary Forms of the Religious Life (1915). la mengemukakan bahwa untuk memahami peranan agama dalam masyarakat kita harus memahami peranan itu dengan cara mempelajari agama dalam bentuknya yang paling murni dan paling sederhana, yaitu totemisme. 

Filed under : Bikers Pintar,