Advertisement

Jhon Stuart Mill dan Alexander Bain memperlunak tendesi tersebut, dan mereka berpendapat bahwa ‘komposisi mental’ dalam rasa kimiawi sebagaimana ‘campuran mental’ secara keseluruhan tak lain adalah penjumlahan dari unsur-unsur yang berpadu itu.

Keinginan untuk selalu dekat (misalnya dengan terus menguntit) adalah hal umum yang ditafsirkan sebagai pertanda adanya ikatan anak kepada orang tua; indikator lain adalah tingkah-laku anak- anak dalam situasi yang dipandang asing’ dan tindakan seperti cara senyum yang berbeda, tangisan atau jeritan sebagai protes bila ia dipisah dari orang tuanya (lihat Ainsworth 1973). Asosiasionisme Inggris mencapai puncaknya sebagai sistem psikologis manakala sederetan pemikir, David Hartley, James Mill, John Stuart Mill dan Bain berkonsentrasi membangun teori kehidupan mental yang mandiri, bukan sekedar sebuah landasan psikologis bagi sebuah epistemologi. Konsep tentang asosiasi gagasan-gagasan sudah sama tuanya dengan Aristoteles, namun pemakaiannya sebagai kerangka dasar untuk memperhitungkan secara menyeluruh kehidupan mental pada hakekatnya adalah pemikiran khas Inggris, dimulai dari Jhon Locke dan diakhiri oleh Alexander Bain.

Advertisement

Ada pula beberapa asosiasionis kontinental mutakhir dan beberapa filsuf yang menyumbangkan gagasan subsider terhadap konsep ini. Namun mereka tidak seserius kelompok yang dikenal dengan Empirisis inggris. Locke, Berkeley dan Hume menggunakan asosiasionisme untuk mendukung epistemologi empiris yang mereka kembangkan sebagai lawan dari pandangan rasionalis Descrates. Mereka berpendapat bahwa pengetahuan dan keyakinan diturunkan, dan hanya bisa diberi pembenaran oleh acuan pada pengalaman sensorik, yang berbeda dengan sifat gagasan dan syarat kebenaran yang dipegang oleh Descrates. Mereka juga berpendapat bahwa pengalaman yang didasari rasa itu bisa dibagi menjadi unit- unit dasar seperti sensasi (pengalaman yang timbul akibat pengaruh obyek-obyek eksternal terhadap indra), citra (sensasi-sensasi yang dibangkitkan atau yang diingat), dan perasaan (nilai-nilai afektif yang menyertai sensasi dan citra). Pemilihan pada unsur-unsur atomis ini barangkali dilakukan karena keyakinan bahwa pengalaman-pengalaman demikian tidak dapat diperbaiki dan juga tidak bisa diperdebatkan; apa yang saya alami pada suatu peristiwa tidak bisa dibenarkan oleh apa yang saya alami dengan peristiwa lain yang sama, kendati bisa saja disusun menjadi jaringan pengalaman. Jaringan atau rangkaian pengetahuan terpola ini dibangun ketika gagasan-gagasan saling terpisah menjadi tergabung atau terjalin berdasarkan kesamaan atau urutan waktunya. Penting dicatat adanya gejala peningkatan positivis-sensasionis pada tiga filsuf terdahulu. Locke berasumsi bahwa pikiran atau diri merupakan tempat masuknya pengaruh obyek-obyek eksternal terhadap panca indra; Berkeley dapat menerima gagasan tentang pikiran atau diri, namun ia menolak bahwa kita bisa memiliki pengetahuan langsung tetang obyek eksternal (yang bisa kita ketahui hanyalah ‘gagasan-gagasan’ kita); Hume bergerak lebih jauh dan berpendapat bahwa apa yang disebut pikiran atau diri tidak lebih dari jalan bagi ‘gagasan-gagasan’ kita. Hartley, yang lebih merupakan seorang ahli fisika ketimbang filsuf, mencoba memberi dasar neuro-psikologis bagi sensasi, citra, perasaan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan itu. Ia menduga bahwa pengaruh obyek-obyek eksternal terhadap panca indra menimbulkan getaran pada ujung-ujung syaraf perasa dan dengan demikian terjadilah sensasi. Citra muncul dari getaran-getaran kecil yang tersisa, yang disebutnya ‘vibratiuncles’, yang dibangkitkan oleh sensasi-sensasi atau citra yang berhubungan dengannya. James Mill, seorang teoritisi sejarah dan politik, menolak gagasan neuro-psikologi Hartley yang prematur namun cukup fantastis itu, dan ia mengembangkan pemikiran psikologikal lewat jalur yang lebih sistematis dan positivis. Pemikirannya amat atomistik dan mekanis. Prospek pendekatan ‘hukum-hukum’ atau kondisi-kondisi untuk berpadunya ‘gagasan’ belum disepakati. Secara universal telah disepakati bahwa frekuensi dan kesinambungan (dua atau lebih ‘gagasan’ acapkali terjadi bersamaan atau berdekatan) menentukan suatu kondisi dasar, misalnya, ‘meja’ dan ‘kursi’ dikatakan berasosiasi karena kedua ‘gagasan’ ini acapkali datang berkonjungsi. (Beberapa teori proses belajar modern mempertanyakan asumsi ini). Selain hukum dasar ini, beberapa asosiasionis menambahkan satu atau lebih hukum kuantitatif, seperti ‘hukum kesamaan’ yang menghasilkan asosiasi antara ‘gelap’ dan ‘hitam’, ‘hukum kekontrasan’ antara ‘gelap’ dan ‘terang’ serta ‘hukum sebab dan akibat’ yang mengatakan bahwa pengalaman yang diikuti oleh pengalaman lain akan berasosiasi jika yang kedua memuaskan apa yang diperlukan yang pertama; ini mendapat tempat khusus dalam teori belajar S-R. Kendati mengklaim bahwa mereka mendasarkan diri pada observasi atau pengalaman sensorik, para asosiasionis Inggris lebih mendasarkan pada akal sehat dan pembuktian anekdotal. Belakangan, von Helmhozt, Wundt, Ebbinghaus, Kulpe, G.E. Muller dan lain-lain mengembangkan metode eksperimental untuk memperkuat basis empiris dari teori asosiasionis yang telah direvisi. vertebrata secara psikologis terikat kepada orang tua mereka; bayi-bayi manusia mula-mula mengalami keterikatan dengan ibunya dan (biasanya tidak lama kemudian) kepada orang dekat selain ibu (significant-others) dalam paruh kedua usia mereka yang pertama.  Untuk menjelaskan fenomena keterikatan ini perlu ada kriteria berganda, karena adanya perbedaan antar-individu dalam mengorganisir dan mewujudkan keterikatannyaperbedaan yang muncul karena variasi dalam cara perawatan oleh ibu. Namun, karena sistem keterikatan anak sifatnya timbal-balik dengan orang tua, maka lebih tepat kalau dikatakan bahwa seorang ibu dan anak yang masih kecil membentuk sistem keterikatan tunggal yang super-ordinatif sifatnya. Rasa senang dan saling membutuhkan sifatnya saling menjalin dalam keterikatan tersebut; sehingga mustahil untuk menceritakan keterikatan yang satu tanpa menjelaskan yang lain.

Tidak banyak kesepakatan mengenai sifat proses motivasional yang amat kuat ini: segudang gagasan penjelas telah diajukan, baik dengan nama teori proses-belajar (Gerwizt 1972; Hoffman dan Ratner 1973), psikoanalisis (Freud 1946) dan etologi (Ainswoth 1973: Bowlby 1969). Bowiby. sebagai salah satu contoh, memandang keterikatan sebagai tindakan yang dikendalikan oleh sistem kontrol internal. Secara biologis, anak-anak dipersiapkan untuk membentuk keterikatan. Bisa dibilang bahwa mereka secara genetis diprogram untuk menanggapi situasi-situasi sosial dan untuk menampilkan tingkah-laku tertentu (senyum, tangis, merangkul, dan seterusnya) sejak awal kehidupannya hingga titik di mana mereka memfokuskan hanya kepada figur kedua orang tua mereka. Maka, hal yang baru ketika si anak membentuk keterikatan bukanlah bentuk-bentuk tingkah-laku atau intensitasnya, melainkan pola pengorganisasian respon itu yang terarah pada seseorang yang signifikan. Kelihatannya, semua unsur tingkah-laku anak-anak lama kelamaan dapat dikaitkan secara fungsional dengan suatu sistem kontrol atau rancangan, yang hirarkis dalam pengorganisasiannya dan bersifat mengejar target. Target itu didefinisikan sebagai pemeliharaan kedekatan dengan pemberi-perhatian dan sifat hirarkis dalam pengorganisasiannya berangkat dari kenyataan bahwa respon tertentu bisa dipakai untuk sekian fungsi yang berbeda dalam memelihara kedekatan itu. Ada pendapat (Belksy dan Nezworski) bahwa dalam dekade 1980-an terjadi ‘revolusi semu’ dalam pemahaman kira mengenai perkembangan awal anak-anak, dan khususnya dalam hal pengakuan bahwa perbedaan individual yang terukur pada tahun pertama kehidupan akan meramalkan perkembangannya selanjutnya. Ini diterapkan dalam hal perkembangan sosio-emosional dalam konteks keterikatannya. Pengukuran atas rasa aman anak dalam keterikatannya kepada ibu (di akhir tahun pertama kehidupannya) dengan sendirinya menjadi pertanda yang kompeten, paling tidak hingga tahun-tahun awal ia masuk sekolah. Prasangka kalangan ahli riset dan klinis tentang pengaruh ibu terhadap perkembangan anak, dan pentingnya ketenkatan pertama si anak memiliki dampak yang bagus juga menyoroti kebutuhan- kebutuhan psikologis anak dan perlunya pengaturan yang manusiawi dalam perawatan anak pengganti ibu. Kerugiannya adalah pada ideologi profesional, khususnya yang menjamur pada 1950-an, dimana para ibu menuduh orang lain atas terjadinya psikopatologi, mulai dari autistik anak- anak (semacam gangguan mental) hingga kenakalan remaja Rutter, salah satunya, mencoba memberi pandangan yang lebih seimbang tentang peran keterikatan dan asuhan ibu dalam perkembangan tingkah-laku normal dan tidak normal. Ketenkatan ibu kepada anak acapkali mengacu pada adanya jalinan maternal. Secara ringkas, dalam beberapa spesies mamalia, termasuk kita sendiri, para ibu menjadi terikat dengan anaknya lewat kontak yang erat (yakni persentuhan kulit) selama periode kritis yang pendek setelah kelahiran. Pandangan ini agak berlebihan juga, mengingat bahwa tidak ada tingkah-laku orang dewasa, serta kompleksitas perilaku dan sifatnya, yang mampu menjelaskan istilah yang etologis’ itu. Dalam pandangan ini, rangsangan sensorik pada bayi ketika ia baru dilahirkan amat penting untuk mendekatkan ibu dengan si anak. Selama jam-jam kritis yang menyertai kelahiran, rangsangan visual dan bau-bauan yang dirasakan ibu dari anaknya dipandang sangat signifikan.

Teori periode-kritis dan kontak yang erat dijustifikasi oleh dua landasan. Yang pertama berakar pada studi-studi tentang tingkah-laku binatang. Dukungan etologis terhadap doktrin ikatan ibu-anak ini ditarik dari percobaan-percobaan dengan kambing dan biri-biri (kesan atas bau-bauan) ternyata tidak bertahan lama. Tidak ada bukti dari studi longitudinal manusia yang membandingkan para ibu yang setelah melahirkan bayinya langsung dipisahkan atau dibolehkan melakukan kontak dengan bayinya, yang bisa mendukung teori periode ‘sensitif’ atau ‘etologikal’ itu. Akibat dari doktrin tersebut terhadap pemikiran pada praktisi di bidang kebidanan, pediatri dan kerja sosial terlihat jelas, khususnya ketika mereka menghubung-hubungkan antara gangguan dalam ikatan ibu-anak (misalkan karena penyapihan terlalu dini) dengan masalah-masalah serius seperti penganiayaan anak-anak. Aplikasi-aplikasi klinis ini ada juga tantangannya. Tampaknya teladan yang dipelajari anak, perbedaan bentuk pengkondisian, peniruan dan faktor-faktor budaya semuanya berpengaruh terhadap perkembangan ikatan ibu- kepada-anak (dan bahkan juga ikatan ayah-kepada- anak) dan melibatkan pula proses belajar ber-tahap untuk mencintai si bayi lebih dalam lagi sebuah proses yang mengalami naik-turun, dan acapkali disertai campur-aduknya perasaan terhadap si anak. Perlu diingat bahwa ikatan maternal hanya satu gagasan dari sejarah panjang teori pengasuhan anak. Gagasan-gagasan dan resep-resep untuk mengatur anak mirip dengan mode; sebentar begini sebentar begitu. Demikian pula dukungan terhadap teori-teori itu.

Incoming search terms:

  • doktrin asosiasionisme adalah suatu david
  • komposisi mental alexsander brain
  • sensasi citra afektif
  • sistem asosiasionisme
  • teori david hartley

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • doktrin asosiasionisme adalah suatu david
  • komposisi mental alexsander brain
  • sensasi citra afektif
  • sistem asosiasionisme
  • teori david hartley