PENGERTIAN AUSTRALOPITHECINES

42 views

PENGERTIAN AUSTRALOPITHECINES – Meski banyak rinciannya yang masih belum diketahui, garis besar proses evolusi manusia sudah sangat dikenal sekarang. Pada umumnya, para mahasiswa yang mempelajari evolusi manusia setuju bahwa hominid yang pertama (yakni, makhluk manusia yang dapat dianggap yang pertama, atau anggota pertama dari keluarga Hominidae) adalah makhluk yang termasuk ke dalam genus Australopithecus. Makhluk-makhluk yang membentuk genus ini secara kolektif disebut Australopithecines. Bukti fosil pertama dari Australopithecus adalah sebuah tengkorak anak-anak yang ditemukan oleh Raymond Dart di Taung, Afrika Selatan, pada tahun 1924. Sejak saat itu, banyak bukti fosil Australopithecines lainnya ditemukan. Fosil-fosil australopithecines yang telah ditemukan sampai saat ini diperkirakan berumur tiga atau empat juta tahun, dan satu varietas dari tersebut bertahan hidup dalam rentang waktu 4- 1 juta tahun sebelum sekarang. Makhluk-makhluk ini biasanya lebih sering dianggap sebagai “manusia kera”, ketimbang sebagai makhluk manusia yang sebenarnya; istilah yang terakhir ini secara umum disediakan untuk anggota genus Homo. Namun, australopithecines secara definitif tampak lebih menyerupai manusia ketimbang menyerupai kera, dan ada bukti yang sangat kuat untuk menganggapnya sebagai hominid.

Dalam hal ukuran, australopithecines sangat kecil dibandingkan dengan makhluk manusia modern, tinggi badan dalam keadaan berdiri tidak lebih dari empat atau lima kaki, berat rata-rata barangkali tidak lebih dari 50 pound. Mereka sudah memiliki postur tubuh yang hampir sudah dapat berdiri tegak dan berjalan dengan dua kaki (bipedal). Kemampuan ini jelasf memisahkan mereka dari kera, yang memiliki postur tubuh pronograde (“bungkuk”) dan berjalan dengan kaki empat (quadrupedal). Cara berdiri tegak dan berjalan dengan dua kaki pada australopithecines ini adalah ciri manusia yang membedakannya dengan makhluk lain dan dapat dijadikan bukti yang kuat untuk menganggapnya sebagai hominid.

Alasan lain untuk menempatkan australopithecines ke dalam garis hominid adalah susunan giginya. Bentuk susunan giginya lebih banyak kesamaannya dengan susunan gigi manusia kontemporer, dan sangat berbeda dengan susunan gigi yang terdapat pada kera besar. Besar gigi taringnya sudah sangat berkurang dan sangat menyerupai gigi taring pada manusia modern. Australopithecines yang lebih mutakhir juga mempunyai geraham yang sangat besar, jauh lebih besar dari yang terdapat pada manusia modern. Karena geraham adalah gigi penggiling, ini dapat diartikan bahwa australopithecines lebih merupakan makhluk pemakan tanaman (vegetarian) dan geraham yang besar ini adalah adaptasi terhadap makanan yang keras, berserat, dan seperti berpasir yang terdapat dalam habitat savana australopithecine. Walaupun australopithecus juga makhluk pemakan daging, pola giginya jelas menunjukkan bahwa pada umumnya mereka adalah pemakan tanaman.

Perkiraan terhadap kapasitas tengkorak australopithecines menunjukkan bahwa besar otaknya rata-rata sekitar 450 – 550 cm2. Ini jauh lebih kecil dibandingkan denganbesar rata-rata otak manusia modern (sekitar 1400 cm2). Implikasi dari perbedaan ini jelas bahwa australopithecines jauh lebih rendah kecerdasannya dibandingkan manusia modern. Namun, ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa australopithecines membuat dan menggunakan alat-alat, dan dengan demikian sudah mulai melahirkan permulaan kebudayaan.

Pengkajian terhadap australopithecines agak semakin rumit dengan ditemukannya beberapa species baru. Sudah sejak lama, para antropolog fisik hanya membicarakan dua species: Australopithecus Africanus ( yang seringkali disebut gracile australopithecines) dan Australopithecus Robustus (yang seringkali dikenal dengan Robust Australopithecines). A. Africanus lebih kecil dan lebih ringan dari A. Robustus. Kedua species ini mempunyai geraham sangat besar yang barangkali disebabkan karena beradaptasi dengan makanan mereka yang terdiri dari tumbuh-tumbuhan. Dapat dipastikan bahwa keduanya hidup sezaman, walaupun tidak diketahui apakah mereka berhubungan satu sama lain.

Pada tahun-tahun terakhir ini, satu species baru australopithecus ditemukan lagi, Australopithecus Afarensis. Sisa fosil dari species ini ditemukan di Afrika bagian Utaroa. Sisa-sisa ini menunjukkan hominid yang lebih primitif, terutama dalam hal gigi. Gigi taringnya, misalnya, besar dan tajam (Nelson and Jurmain, 1985). Ada bukti yang menunjukkan bahwa A. Afarensis juga lebih primitif dalam hal kapasitas tengkoraknya, walaupun ukuran tengkoraknya belum dapat dipastikan secara definitif (Nelson and Jurmain, 1985).

Bagaimana ketiga species Australopithecus ini dihubungkan ? Kita tidak dapat menentukan kriterianya, tetapi skenario yang paling mungkin adalah bahwa A. Afarensis berkembang menjadi A. Africanus, yang pada giliran selanjutnya berkembang menjadi A. Robustus. A. Africanus dan A. Robustus barangkali merupakan “cabang sebelah” dari garis langsung yang menyambung evolusi manusia (Johanson and White, 1979; cf. Nelson and Jurmain, 1985). Jika demikian, ini akan menjadikan A. Afarensis sebagai hominid Australopithecine yang tetap bertahan pada garis langsung evolusi manusia yang membawa kepada manusia modern. Tetapi, pada sekitar sejuta tahun yang lalu semua species Australopithecine ini telah punah, dan hominid yang lebih besar dan cerdas mulai muncul di permukaan bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *