Negara kebangsaan.

Pengertian austro-marxism (austro-marxisme) adalah Dari perspektif yang berbeda, yakni yang difokuskan pada problem hukum Clan konstitusional dari bangsa-bangsa di dalam Kekaisaran Habsburg, Renner (1899, 1902) juga memberi kontribusi stu­di penting. Melalui studi itu dia mengaju­kan gagasan—yang orisnil pada zamannya dan relevan dengan perkembangan Eropa sekarang—tentang transformasi kekaisar­an menjadi “negara kebangsaan” yang rnungkin menjadi model bagi organisasi Immunitas dunia sosialis di masa depan. Tetapi, Renner lebih dikenal karena kontribusi rintisannya untuk sosiologi hukum Marxis. Dalam studinya (1904) tentang fungsi sosial dari hukum dia ber­usaha men.unjukkan bagaimana norma hu­kum yang ada berubah fungsinya dalam merespons perubahan dalam masyarakat clan terutama perubahan dalam struktur rkonominya. Dia kemudian mengajukan problem tentang bagaimana norma hukum int sendiri berubah dan apa sebab-sebab fundamental dari perubahan itu.

Kekuasaan negara sebagai alat. Pengertian austro-marxism (austro-marxisme).

Kubu Austro-Marxis juga melakukan studi besar di bidang lain. Mereka adalah di antara Marxis awal yang mengkaji secara sistematis perekonomian “negara inter­vensionis.” Renner (1916), ketika menulis tentang efek perkembangan kapitalis sebe­lum perang dan “ekonomi perang,” men­catat adanya “penetrasi negara ke ekonomi. privat sampai ke dasarnya: bukan nasiona­lisasi beberapa pabrik, tetapi kontrol atas seluruh sektor swasta dengan perintah dan regulasi,” dan dia melanjutkan: “kekuasa­an negara dan perekonomian mulai me­nyatu perekonomian nasional dianggap sebagai alat kekuasaan negara, kekuasaan negara sebagai alat untuk memperkuat perekonomian nasional Ini adalah epos imperialisme.” Demikian pula, dalam esai yang dipublikasikan antara 1915 dan 1924, Hilferding, berdasarkan analisisnya dalam Finance Capital, mengembangkan sebuah teori “kapitalisme yang terorga­nisir” di mana tindakan negara mengambil karakter dari strukturisasi rasional-sadar dari masyarakat secara keseluru.han (lihat SOCIALIZATION OF THE ECONOMY). Dari situasi ini ada dua kemungkinan perkembangan: menuju sosialisme jika kelas huruh meraih kekuasaan negara, atau menuju negara korporat jika monopoli kapitalis mem­pertahankan dominasi kekuasaannya. Di Italia dan Jerman, kemungkinan kedua di­wujudkan dalam bentuk FASCISM dan Bauer (1936) menyediakan salah satu penjelasan Marxis paling sistematis tentang kondisi ekonomi dan sosial di rnana gerakan fasis mampu tumbub dan berjaya. Karenanya,

Masyara­kat kapitalis. Pengertian austro-marxism (austro-marxisme).

Perubahan struktur kelas, dan kon­sekuensi politiknya, juga menjadi perhatian Austro-Marxis. Bauer memberi kontribusi penting dalam studi komparatifnya atas situasi kelompok buruh dan tani di dalam revolusi Rusia dan Jerman, dalam anali­sisnya (1923) atas revolusi Austria, dan dalam tulisan kritisnya tentang kemuncu­lan kelas dominan baru di USSR setelah diktator proletariat berubah menjadi ke­diktatoran aparatus partai yang mengua­sai segalanya (lihat terutama Bauer, 1936). Adler (1933), yang menulis dalam konteks kekalahan dan kehancuran gerakan buruh di Jerman, menganalisis perubahan dalam komposisi kelas pekerja di dalam masyara­kat kapitalis; sembari menunjukkan bahwa “dalam karya Marx telah ada konsep pro­letariat yang menampilkan diferensiasi ter­tentu,” dia berargumen bahwa perubahan yang baru ini sangat besar sehingga meng­hasilkan “fenomena baru,” dan karenanya “diragukan apakah kita dapat berbicara tentang kelas tunggal.” Dalam proletariat baru ini ada beberapa strata berbeda yang melahirkan tiga orientasi politik dasar yang kerap bertentangan: aristokrasi bu­ruh, yang terdiri dari pekerja terlatih dan karyawan kantoran; buruh terorganisir di kota dan desa; dan pengangguran per­manen atau pengangguran lama. Tetapi bahkan di antara lembaga buruh, katanya (dengan gaya mirip penjelasan Roberto Michels tentang OLIGARCHY), perkemba­ngan partai dan organisasi serikat buruh telah melahirkan perpecahan fatal antara lapisan karyawan bergaji, dan anggota pasif lainnya. Dia menyimpulkan bahwa kelemahan kelas pekerja dalam mengha­dapi gerakan fasis sebagian besar disebab­kan oleh diferensiasi kondisi sosioekonomi dan sikap politik (lihat WORKING CLASS). Sesudah Perang Dunia II, karena struktur kelas terus berubah bahkan makin cepat, Renner (1953) memfokuskan perhatiannya pada pertumbuhan strata sosial baru—pe­jabat publik dan karyawan swasta—yang disebutnya sebagai “kelas pelayan” yang digaji yang kontrak kerjanya tidak men­ciptakan “hubungan upah buruh.” Dia mengatakan bahwa banyak Marxis meng­adopsi pendekatan dangkal untuk “studi riil atas formasi kelas dalam masyarakat dan restrukturisasi kelas yang terus ber­lanjut.” Secara khusus mereka tidak me­nyadari bahwa “kelas pekerja seperti yang tampak (dan secara ilmiah akan tampak) dalam Capital karya Marx kini sudah ti­dak ada lagi.”

Kebijakan reformasi sosial.

Masa emas Austro-Marxisme adalah dari periode akhir abad ke-19 hingga ke 1914, ketika tulisan-tulisan penting dari pemikir ini dipublikasikan dan karya alir­an ini secara keseluruhan memengaruhi gerakan sosialis Eropa. Setelah Revolusi Rusia, aliran ini dibayangi oleh Lenin dan kemudian Marxisme versi Stalin; pemikir­an selanjutnya, “di antara reformisme dan Bolshevisme,” yang membuka Marxisme pada revisi dan pengembangannya dalam merespons pengalaman historis baru dan pertanyaan kritis dari pendekatan analisis sosial lainnya, tidak memberikan peng­aruh di tingkat internasional. Tetapi di Vienna, di mana SPO masih berkuasa dari 1918 sampai 1934, Austro-Marxisme ma­sih memberi kerangka yang koheren untuk ide-ide kebijakan reformasi sosial yang efektif, sampai akhirnya is dikalahkan oleh munculnya fasisme Austria dan masuknya Austria ke dalam Third Reich. Sejak akhir 1960-an muncul lagi minat terhadap Aus­tro-Marxis, bukan hanya di Austria di mana ide ini masih berpengaruh signifikan terhadap perkembangan sosialisme, tetapi juga di negara Eropa lainnya, tetapi juga di negara Eropa lainnya. Dalam kondisi yang ditimbulkan oleh disintegrasi “Marxisme resmi” di seluruh Eropa Timur, barangkali ide-ide ini, dan elaborasinya, akan mem­beri pengaruh lebih besar pada organisasi ekonomi, konstruksi institusi demokrasi, dan sikap terhadap problem kebangsaan, di dalam sistem Eropa baru.

Filed under : Bikers Pintar,