Advertisement

Sistem bagan terdiri dari dua bentuk yaitu bagan statis yaitu bagan yang berdiri tertancap di pantai laut yang agak dalam (sekitar 10-15 m). Pada bagan ini, beberapa bambu besar ditancapkan membentuk persegi empat dengan masingmasing sisinya sepanjang 6 m dari satu tonggak ke tonggak lainnya. Berdiri di atas permukaan air setinggi 3-4 m. Pada bagian atas tonggak yang tertancap tersebut dipasang bambu-bambu penghubung antarsisi sebagai alas untuk hilir mudik para nelayan. Di bagian tengah dari lantai atas bagan terdapat sebuah gubug kecil yang cukup untuk menampung tiga orang nelayan. Gubug tersebut juga dipakai sebagai tempat untuk terhindar dari hempasan angin dan air bila hujan, dan sebagai tempat untuk memilah-milah ikan dan hasil laut yang terjaring. Di gubug inilah segala perlengkapan jaring dipersiapkan.

Cara menjaring binatang laut melalui bagan ini adalah dengan menurunkan jaring dari gubug yang berada di tengah bagan dengan bantuan bambu-bambu yang dibuat semi otomatis yaitu dengan cara memutar sebuah tungkai untuk menaikturunkan jaring ke dalam laut. Setelah jaring berada di dalam laut, tepat di atas jaring tersebut digantungkan petromaks sebanyak enam sampai sembilan buah. Petromaks tersebut digunakan untuk menarik perhatian ikan-ikan agar dapat bermain di sekitar bagan dan di atas jaring. Dalam beberapa waktu tertentu lampu petromaks tersebut dinaikkan satu demi satu untuk dipompa kembali agar tetap terang, demikian seterusnya sampai waktu pengangkatan jaring dilakukan.

Advertisement

Penarikan jaring dari dalam laut dilakukan setiap tiga jam sekali, dan dimulai ketika nelayan sampai di bagan. Sekitar pukul 18.00. jaring diturunkan beserta petromaksnya, dan sekitar pukul 21.00 jaring diangkat, dan diambil hasilnya, kemudian langsung diturunkan kembali hingga sekitar pukul 24.00, demikian seterusnya sampai pukul 05.00 jaring diangkat dan nelayan siap-siap untuk meninggalkan bagan. Pada masa antara menaikkan dan menurunkan jaring, dua orang nelayan yang duduk di gubug menuai hasil tangkapan dari jaring yang ditarik. Setelah itu pekerjaan selanjutnya adalah memilah-milah hasil laut, seperti ikan-ikan kecil, cumi-cumi, udang dan beberapa ikan-ikan besar dan kemudian dimasukkan ke dalam tempat tersendiri agar kelak mudah melakukan penjualan berbagai jenis hasil tangkapan mereka. Biasanya pada tarikan jaring terakhir, hasil tangkapan tidak dipilah-pilah lagi.

Pada pagi hari sekitar pukul 06.00 nelayan kembali ke pantai. Mereka menunggu dijemput pemilik bagan karena sebelumnya beberapa nelayan ikut satu perahu dengan pemilik bagan, sehingga harus dijemput pemilik bagan untuk membawa hasil laut pada malam itu. Dalam perjalanan menuju pulang, ketika mereka mendekati pantai, biasanya satu atau beberapa perahu motor menghampiri perahu nelayan bagan. Seorang pemilik bagan pada umumnya merupakan toke nelayan juga, artinya bahwa orang ini memiliki lebih dari dua bagan dalam areal tertentu. Para nelayan akan mengikuti para pemilik bagan, karena mereka tidak memerlukan modal usaha, dan hanya dibutuhkan keahlian dalam memilah-milah hasil laut dan juga keahlian dalam usaha bagan.

Masih di atas perahu, pemilik bagan dan penumpang perahu yang datang dari pantai melakukan tawar-menawar harga ikan dan hasil tangkapan lain yang dibawanya. Jika mereka sepakat dengan suatu harga tertentu, hasil tangkapan mereka akan berpindah tangan. Akan tetapi, jika kesepakatan tidak tercapai, nelayan akan meneruskan perjalanan menuju ke tepi pantai. Sesampainya di pantai (biasanya pelabuhan tradisional), nelayan akan disambut oleh para ibu yang menceburkan dirinya ke pantai sekitar 50 cm dalamnya dengan membawa ember. Ibu-ibu itu melakukan tawar-menawar dengan nelayan untuk membeli hasil laut yang telah ditangkapnya, khususnya hasil laut yang merupakan pengangkatan terakhir (yang belum dipisah-pisahkan). Sementara itu, hasil tangkapan yang sudah dipisahkan menurut jenis-jenisnya langsung dibawa ke Tempat Pelelangan Ikan. Demikianlah para nelayan akan pulang dengan membawa uang dan sedikit hasil tangkapan untuk makan hari itu. Jenis bagan ini banyak dilakukan oleh orang-orang Bugis di perantauan seperti di pantai utara Jakarta dan Tangerang serta masyarakat Bugis lainnya di daerah-daerah Sumatra.

Bagan perahu atau dapat disebut juga bagan bergerak pada prinsipnya sama pola kerjanya dengan bagan statis. Perbedaannya adalah pada bagan perahu seluruh jaringnya terdapat di bawah perahu, dan perahunya dilengkapi dengan sekitar lima lampu berkekuatan masing-masing 100 watt yang diarahkan ke permukaan air laut. Perahu yang dipergunakan untuk bagan bergerak ini adalah perahu bercadik untuk menjaga agar perahu tidak oleng dan terbalik ketika terkena ombak.

Biasanya dalam bagan perahu yang dilengkapi dengan jala bekerja lima orang nelayan yang masing-masing mempunyai tugas tertentu. Seorang mualim (sopir perahu) biasanya mempunyai pengetahuan tentang kelompok hewan laut yang ada, dan mengetahui di mana terdapat banyak cumi-cumi, udang atau ikan jenis tertentu. Dengan pengalamannya itu, mualim perahu akan mengarahkan perahunya ke tempat yang sudah ditetapkan sebagai sasaran yang akan mereka kunjungi.

Perlengkapan bagan perahu antara lain: minyak solar yang cukup untuk menggerakkan mesin perahu dan menyalakan lampu-lampu sorot yang berkekuatan besar; layar yang fungsinya untuk membantu perahu manakala mesin yang ada mengalami kerusakan; dan lampu-lampu petromaks untuk menggantikan lampu sorot jika mesin perahu rusak. Selain itu, dalam bagan perahu tersedia pula bahan makanan dan air tawar yang cukup untuk bekal satu malam.

Dalam proses mencari ikan selama satu malam di laut, bagan perahu dapat juga melakukan perpindahan lokasi secara cepat ketika ternyata di daerah sasaran awal tidak banyak menghasilkan tangkapan, atau di situ sudah ada bagan perahu nelayan lain. Hasil tangkapan bagan perahu akan langsung dibawa ke pelabuhan menuju Tempat Pelelangan Ikan. Beberapa ikan yang tidak laku dijual atau dilelang akan dibeli oleh beberapa orang penjual keliling. Ada pula di antara para nelayan yang membawa ikannya langsung ke pasar yang ada di sekitar itu, dan beberapa jenis ikan tertentu dibawa ke rumahnya masing-masing untuk diproses menjadi ikan asin. Sistem bagan perahu jenis ini banyak ditemukan pada masyarakat-masyarakat nelayan di pantai barat Sumatra seperti di Sumatra Barat dan Bengkulu.

Incoming search terms:

  • pengertian bagan
  • pengertian definisi bagan
  • arti bagan
  • definisi bagan
  • pengertian bagan apung
  • bagan adalah
  • penhertian bagan
  • arti bagan nelayan
  • apa yang dimaksud bagan
  • buat bagan peredaran darah manusia lengkap dengan keterangannya

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian bagan
  • pengertian definisi bagan
  • arti bagan
  • definisi bagan
  • pengertian bagan apung
  • bagan adalah
  • penhertian bagan
  • arti bagan nelayan
  • apa yang dimaksud bagan
  • buat bagan peredaran darah manusia lengkap dengan keterangannya