Advertisement

Istilah “bantuan” atau “bantuan pembangunan” (sering pula disebut sebagai “bantuan luar negeri”) sebenarnya agak menyimpang dari kenyataan yang diwakilinya, dan penafsirannya pun sedikit bervariasi. Meskipun namanya “bantuan”, dana ini tidaklah cuma-cuma. Hampir setiap penulis punya arti sendiri untuk istilah ini. Meskipun demikian, ada kesepakatan umum bahwa istilah ini mengacu pada transfer dana dari negara maju ke negara berkembang (atau dari negara yang relatif kaya ke negara yang relatif miskin), dan harus memenuhi tiga kriteria, yakni: (1) Tujuannya membantu usaha pembangunan, atau untuk tujuan tertentu di luar soal militer (2) Pihak pemberi tidak bermotif komersial; (3) Syarat pemberiannya lunak, dan ada unsur “hibah”. Namun setiap kriteria ini pun mengandung masalah konseptual Kriteria pertama mengabaikan faktor fimgibilitas”, yakni fakta bahwa negara penerima sampai batas tertentu cukup leluasa men,akai dana itu untuk sesuatu keperluan yang ditentukannya sendiri (misalnya bukan untuk menopang pembangunan, melainkan untuk membeli persenjataan atau bahkan untuk mempertebal rekening penguasa korup di salah satu bank di Swiss. Kriteria kedua juga tak sesuai dengan fakta, karena banyak negara maju memberikan bantuan atas dasar motif komersial, sekalipun itu terselubung atau bersifat tidak langsung Bahkan hampir semua bantuan bilateral dan satu pemerintah ke pemerintah lain. Masalahnya apa rang disebut sebagai unsur hibah di masa doner ternyata berbeda dari pengertian pihak penerima Dari seluruh bantuan D AC 1990/1991 sekitar 72 persennya adalah hibah langsung (tidak peru dibayar kembali oleh penerimanya), dan pinjaman sisanya mengandung 59 persen unsur hibah, sehingga secara keseluruhan, elemen hibah dari bantuan DAC mencapai 85 persen. DAC merupakan sumber rujukan utama statistika bantuan. Tabulasi dan definisi-definisi yang ditetapkannya digunakan oleh banyak pihak secara luas. DAC menerbitkan laporan tahunan yang berjudul Development Cooperation. Volume yang terbit di tahun 1992 memuat banyak tabel dan data yang rinci mengenai bantuan-bantuan yang telah disalurkannya. Dewasa ini keprihatinan atas tidak-meratanya penyebaran geografis aliran dana internasional terus meningkat. Persentase bantuan pembangunan resmi bagi Afrika Sub-Sahara, yang tingkat penanaman modal asingnya amat rendah, seharusnya lebih tinggi agar mereka dapat memacu pembangunan jangka panjang. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Kawasan termiskin di dunia itu kian sulit memperoleh bantuan. Di antara para donor dan para penerima telah ada semacam kesepakatan bahwa tujuan bantuan seyogyanya adalah untuk membantu tujuan-tujuan dasar pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan dan bersifat partisipatoris (pelengkap). Peran bantuan kini lebih diharapkan sebagai instrumen pengentasan kemiskinan ketimbang pencipta pertumbuhan. Kita perlu membedakan antara bantuan bilateral dan multilateral (kontribusi lembaga multilateral seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Regional dan seterusnya). Namun perbedaannya justru tidak sepenuhnya jelas. Misalnya, negara-negara Eropa Barat memberi bantuan mereka lewat EU (European Union). Bantuan EU sifatnya bukan bilateral tapi tidak pula sepenuhnya multilateral; untuk menentukan bantuan EU itu harus digolongkan bilateral atau multilateral, sampai derajat tertentu akan tergantung kepada definisinya. Bantuan multilateral lebih berharga bagi negara penerima ketimbang bantuan bilateral yang sifatnya mengikat, karena akan tersedia pilihan yang lebih luas dalam pemakaiannya, termasuk untuk memperoleh harga paling murah bagi barang-barang impor yang dibiayai dengan bantuan itu. Tentu saja bantuan bilateral yang tidak mengikat akan sama berharganya bagi negara penerima; tetapi, atas dasar pertimbangan politis, negara penerima (dan sementara donor) lebih menyukai jalur multilateral. Bantuan multilateral meliputi 25 persen dari total bantuan yang ada.

Sudah sering diungkapkan bahwa negara-negara donor dapat meningkatkan bobot bantuan mereka kepada negara-negara yang memerlukan tanpa mereka perlu mengeluarkan biaya tambahan, yakni dengan menyalurkannya secara multilateral maupun dengan meniadakan ikatan-ikatan yang ada. Akan tetapi, hal ini mungkin akan menghilangkan dukungan politik kepada bantuan bilateral itu, karena adanya ikatan-ikatan tersebut membuat produsen dan para pekerja di negara donor turut memperoleh keuntungan, sehingga dukungan politik domestik terhadap pemberian bantuan itu terjaga. Hal ini terutama berlaku untuk bantuan pangan. Organisasi-orga¬nisasi swadaya masyarakat (NGO) di Utara (negara-negara maju yang kaya), bekerja sama dengan NGO Selatan (Dunia Ketiga), kian diakui peranannya dalam mendistribusikan bantuan, khususnya untuk menyalurkan bantuan pemerintah (official aid). Selama dasawarsa 1980-an terjadi penurunan bantuan dan bahkan timbul pemikiran bahwa bantuan bisa saja merugikan kalangan miskin. Kritik-kritik kaum kiri mengatakan bahwa bantuan menjurus pada perluasan kapitalisme internasional dan mendukung motif-motif politis dari kekuatan-kekuatan neo-kolonial (tingginya persentase bantuan AS kepada Israel dan Mesir merupakan contoh bantuan yang memenuhi kriteria sebagai dana bantuan politik). Sedangkan kritik dari kaum kanan mengatakan bahwa bantuan justru memperluas birokrasi negara, yang berlawanan dengan kepentingan pasar bebas dan pembangunan jangka panjang (misalnya Bauer, 1984) dan bahwasanya negara-negara berkembang memiliki kapasitas terbatas dalam menyerap bantuan. Penilaian atas bantuan pada tingkat mikro secara umum menyimpulkan bahwa bantuan lebih banyak berdampak positif. Studi Bank Dunia tahun 1986 memperkirakan bahwa rate of return proyek-proyeknya mencapai 14,6 persen (White, 1992). Cassen menemukan bahwa rata-rata proyek tersebut memang memberi hasil yang memuaskan (Cassen 1986: 307). Akan tetapi, sejumlah studi makroekonomi tidak berhasil menemukan hubungan yang signifikan antara bantuan dan pertumbuhan ekonomi. Peran makroekonomis bantuan bisa digambarkan dalam dua model kesenjangan: kelemahan pada pembentukan tabungan modal dan kekurangan valuta asing (biasa disebut atau masalah leher botol), yang keduanya seyogyanya bisa dijembatani oleh bantuan asing. Namun sejauh ini belum bisa dibuktikan secara empiris apakah bantuan memang memenuhi perannya secara makroekonomi atau tidak. Kekhawatian yang sering diungkapkan adalah bahwasanya bantuan bisa saja dipakai untuk mengalihkan tabungan, terutama tabungan sektor publik. Tambahan bantuan bisa menimbulkan ‘penyakit Belanda’ yakni aliran bantuan asing justru meningkatkan harga relatif barang-barang yang tidak diperdagangkan secara internasional sehingga menciptakan apresiasi nilai tukar riil yang berlebihan. Hal ini akan mengarah pada penurunan daya saing ekspor sehingga membuat negara penerima semakin tergantung pada bantuan asing.

Advertisement

Bantuan darurat merupakan bagian dari ODA yang khusus untuk mengatasi akibat-akibat situasi tidak normal yang menimbulkan penderitaan manusia, termasuk di sini bantuan untuk pengungsi. Bantuan darurat acapkali dilihat secara terpisah dalam perspektif anggaran dan perencanaan negara, kendati telah diusahakan untuk mengaitkan bantuan darurat itu dengan bantuan pembangunan berjangka panjang. Pada tahun 1991 bantuan pangan meliputi 6,1 persen dari tola, bantuan ODA oleh anggota-anggota DAC (Food Aid Review, 1993:138), atau 23persen dan total bantuan multilateral, yang sama dengan porsi bantuan multilateral dalam total bantuan keuangan internasional. Sepertiga dari total bantuan pangan dikirim ke Afrika Sub-Sahara, namun penerima terbesarnya adalah Mesir dan Bangladesh.

Incoming search terms:

  • pengertian bantuan luar negeri
  • bantuan luar negeri
  • masalah bantuan luar negeri
  • definisi masalah bantuan luar negeri
  • apa perbedaan program bantuan dengan bantuan proyek manakah yang mengikat negara penerima bantuan
  • bantuan bilateral bantuan multilateral
  • apa yang di maksud negara donor
  • bantuan luar negeri artinya
  • perencanaan pembangunan bantuan luar negri
  • contoh bantuan luar negri

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian bantuan luar negeri
  • bantuan luar negeri
  • masalah bantuan luar negeri
  • definisi masalah bantuan luar negeri
  • apa perbedaan program bantuan dengan bantuan proyek manakah yang mengikat negara penerima bantuan
  • bantuan bilateral bantuan multilateral
  • apa yang di maksud negara donor
  • bantuan luar negeri artinya
  • perencanaan pembangunan bantuan luar negri
  • contoh bantuan luar negri