PENGERTIAN BEBERAPA AKIBAT INDUSTRIALISASI – Dalam kenyataannya, perkembangan industri telah mempunyai akibat yang hebat bagi organisasi kehidupan sosial, dan sebetulnya setiap aspek kehidupan sosial telah tersentuh olehnya. Salah satu akibat fundamental industrialisasi ialah sangat meningkatnya produktivitas ekonomi, suatu peningkatan pada skala yang secara total belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. Contoh yang sederhana, pada tahur) 1750 impor kapas mentah untuk dipintal mencapai 3 juta poundsterling, tapi di tahun 1784 meningkat menjadi 11 juta poundsterling, pada tahun 1799 mencapai 43 juta pondsterling, dan pada tahun 1802 menjadi 60 juta poundsterling (Heilbroner, 1972). Juga terjadi peningkatan produksi lempengan besi secara dramatis dari 68.000 ton pada tahun 1788 menjadi 1.347.000 ton pada tahun 1839 (Heilbroner, 1972). Selarijutnya, produktivitas tenaga kerja meningkat secara berkesinambungan dari masa awal kapitalisme industrihingga sekarang, dan peningkatannya sekarangjauh lebih besar daripada yang terjadi pada awal abad xix.

Akibat kedua industrialisasi, seperti disinggung dimuka, ialah munculnya kaum pekerja industri di dalam masyarakat kapitalis pusat. Hal ini merupakan gelombang besar pertama proletarianisasi dalam sejarah kapitalis-me. Kaum pekerja sebagian besar terdiri dari buruh — laki-laki, perempuan, dan anak-anak — yang bekerja di pabrik-pabrik. Dalam masa awal kapitalisme industri, para buruh ini dipekerjakan dalam kondisi yang sangat menderita. Ada kerja lembur yang kejam di pabrik dan dibayar dengan upah yang sangat rendah, dalam banyak kasus sangat jarang mereka dapat mencukupi kebutuhan hidup. Mereka tinggal di wilayah kumuh yang sangat bising dan sering menderita kekurangan gizi dan penyakit. Banyak dari mereka adalah anakanak, yang dapat dibayar rendah daripada orang dewasa laki-laki dan perempuan. Situasi di paruh awal abad xix masa industri di Inggris dicirikan oleh penindasan dan keterbelakangan sebagian besar penduduk. Inilah sebenarnya situasi yang mengantar kritik pedas Marx (1967, aslinya 1867) terhadap kapitalisme. Dalam kajiannya yang terkenal mengenai kelas buruh pada abad xix di Manchester, Friedrich Engels menulis (1973:240; aslinya 1845):

Di setiap tempat kita menjumpai penderitaan, kesakitan, dan demoralisasi yang tetap atau sementara yang bermula dari sifat pekerjaan atau lingkungan yang menghidupi mereka. Dimana-mana para buruh disengsarakan. Secara pelan tapi pasti mereka tidak dianggap sebagai manusia, baik secara fisik maupun moral. Komentar tentang kehidupan di kota-kota pabrik di Inggris juga dibuat oleh Eric Hobsbawm (1968: 67-68): Dan kota-kota itu! Tidak hanya sekedar asap yang menyesakkan dan pencemaran yang membungkus mereka, pelayanan masyarakat yang mendasar — persediaan air, sanitasi, kebersihan jalan;ludara bersih, dan lain-lain — tidak sebanding dengan migrasi massal yang tumpah ke kota, yang menghasilkan, terutama setelah 1830, wabah kolera, tipus dan korban tetap yang mengerikan dari dua kelompok besar pembunuh perkotaan pada abad xix — pencemaran udara dan pencemaran air, atau penyakit saluran pernapasan dan usus. Hidup demikian tak hanya dialami penduduk kota yang baru, kadang-kadang juga mampir pada kehidupan petani yang biasa, seperti orang Irlandia, ditekan dalam pemukiman kumuh yang sangat bising dan suram, yang terasa menggetarkan hati pengamat. “Peradaban yang sungguh mengherankan,” tulis tokoh liberal Prancis de Tocqueville dari Manchester, “dan orang beradab hampir kembali menjadi manusia liar.”

Akibat ketiga industrialisasijuga telah terjadi dalam realitas kerja: yakni meningkatnya spesialisasi tenaga kerja. Gejala ini, dimana buruh cenderung menjadi sebuah gigi kecil dari sebuah mesin besar, telah berkembang secara sangat cepat dan meluas sejak akhir abad xix. Dalam pandangan Karl Marx, pertumbuhan spesialisasi buruh ini membuat pekerjaan makin kurang berarti dan mencekik buruh. Ini merupakan ciri lain kapitalisme industri yang mendorong Marx mengritiknya. Dalam arti yang paling nyata, meningkatnya spesialisasi buruh membenarkan ketiga arah kecenderungan yang penting dari perkembangan kapitalis. Hal itu merupakan hasil dari gabungan proletarianisasi dan mekanisasi pekerjaan danburuhnya. Kita sebaiknya meringkas proses ini.

Akibat yang keempat dari munculnya kapitalisme industri ialah urbanisasi yang meluas. Kehidupan sosial telah berubah dari pedalaman pedesaan menjadi kota-kota,banyak dari kota-kota ini yang berskalabesar. Sebagaimana Heilbroner (1972) mencatat perkembangan kota di Amerika Serikat dalam 1790, terdapat hanya 24 kota danberpenduduk 2500 warga, dan secara kolektif kota-kota ini hanya meliputi enam persen dari seluruh penduduk. Tapi pada 1860, 20 persen penduduk telah menempati 392 kota-kotabesar, dan pada 1970, banyak wilayah pesisir Timur praktis telah berkembang menj adi kota raksasa yang berpenduduk lebih dari 60 persen dibanding seluruh penduduk negeri. Akibat kelima dan terakhir dari industrialisasi tercatat sebagai bersifat demografis. Industrialisasi secara umum telah menghasilkan apa yang disebut transisi demografis (Harris dan Ross, 1987; dalam Handwerker, 1986). Hal ini meliputi rendahnya tingkat kematian karena perbaikan sanitasi, perawatan kesehatan, dan lain-lain. Orang mulai hidup lebih lama, dan lebih sehat. Menurunnya tingkat kematian sering diikuti dengan penurunan dramatis dalam tingkat kelahiran. Dalam masyarakat yang didominasi oleh produksi pertanian anak-anak merupakan aset ekonomi besar, karena dapat dimanfaatkan sebagai tenaga kerja pertanian. Karena itu, dalam masyarakat pertanian orang terdorong untuk mempunyai keluarga besar. Tapi dalam masyarakat industri anak menjadi beban ekonomis. Karena itu, orang cenderung memperkecil ukuran keluarga. Mereka tidak lagi mempunyai enam atau delapan anak, tetapi hanya dua atau tiga dan memberi lebih banyak kepada masing-masing anak.

Filed under : Bikers Pintar,