PENGERTIAN BEBERAPA ASPEK PASAR DALAM MASYARAKAT PRA-KAPITALIS – Manufacturing dan Serikat Buruh. Dalam masyarakat pra-kapitalis di mana manufacturing terjadi sebagai aktivitas ekonomi substansial, terjadi dalam skala kecil, umumnya terbatas pada rumah pengrajin dan beberapa toko kecil yang berlokasi di tempat pasar (Sjoberg, 1960). Workshop yang paling besar pun di masyarakat pra-kapitalis akan sangat kecil menurut standard manufacturing modern. Dengan tidak adanya pasar massa untuk barang-barang, dan dengan demikian sangat terbatas untuk petnbentukan modal, unit produktif pastilah tetap kecil.

Bentuk-bentuk spesialisasi pra-kapitalis terjadi lebih dalam kaitannya dengan produk daripada dengan proses produksi. Setiap pengrajin memben-tuk seluruh produknya sendiri, dari awal sampai akhir. Sebagaimana yang dikatakan Gideon Sjoberg, “Spsesialisasi dalam produk seringkali mengakibatkan pengrajin menghabiskan seluruh waktunya untuk memproduksi barang-barang sejak dari bahan baku material; jadi, kita mempunyai tukang emas, tukang tembaga, tukang perak, penenun sutera, penenun wool dan seterusnya, yang masing-masing dengan serikat kerja mereka sendiri” (1960:197). Disamping itu, pengrajin pra-kapitalis biasanya berfungsi sekaligus sebagai pedagang yang menjual produk akhirnya. Sebenarnya dalam semua masyarakat pra-kapitalis berskala kecil de-ngan sektor manufacturing yang signifikan, para pedagang dan pengrajin diorganisasi ke dalam organisasi kerja yang dikenal dengan serikat kerja. Berbagai serikat kerja dispesialisasikan menurut pekerjaan; mereka mema-sukkan semua orang yang melakukan pekerjaan yang sama atau cabang suatu pekerjaan yang sangat spesialis sebagai anggotanya. Sjoberg (1960), misalnya, menyebutkan satu-persatu beberapa serikat pekerja berikut ini pada hanya sebuah kota pra-kapitalis, Beijing pada 1920-an: Para tukang (Sacred lu Pan Society), pengancing sepatu (Sewers of Boots and Shoes Guild, or Double Thread Guild), toko jam (The Clock Watch Commercial Guild Association), toko kulit (Five Sages Hide and Skins Guild), pedagang sayuran (Green or Fresh Vegetable Guild), tukang pangkas (Beauty the Face Guild) dan pelayan (Tea Guild). Fungsi serikat kerja yang paling penting adalah menciptakan dan memelihara suatu monopoli atas jenis aktivitas ekonomi tertentu: “Hak untuk memperoleh hampir semua pekerjaan yang berkaitan de-ngan manufacturing atau perdagangan atau bahkan jasa, hanya mungkin melalui keanggotaan di dalam serikat kerja yang menguasainya” (Sjoberg, 1960:190). Dalam menjalankan kekuasaan monopolistik atas berbagai pekerjaan, serikat kerja melakukan berbagai aktivitas. Sebagaimana ditunjukkan Sjoberg, mereka menentukan seleksi personel untuk suatu pekerjaan; melatih anggota, biasanya melalui hubungan guru-cantrik; meletakkan standard pekerjaan para anggota; mengontrol output yang dihasilkan anggota; melindungi anggota dari pembatasan yang semena-mena yang mungkin dikenakan oleh lembaga pemerintahan atau keagamaan; dan membantu anggota mendirikan toko atau membeli bahan baku yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Jelaslah, serikat kerja memainkan peranan krusial dalam kehidupan pengrajin dan pedagang pra-kapitalis. Sebenarnya, secara kasar tujuan dasarnya dapat diperbandingkan dengan serikat buruh dan organisasi bisnis dan profesional zaman modern ini. Penentuan Harga dalam Pasar Pra-Kapitalis. Dalam kapitalisme mo-dem, harga barang dan jasa ditentukan oleh kekuatan permintaan dan pena-waran yang abstrak. Seseorang dapat bermaksud pergi ke toko dan menemukan harga pasti yang ditetapkan untuk suatu barang tertentu. Namun, harga dalam setting pra-kapitalis, tidak ditetapkan dengan cara seperti ini, tetapi ditetapkan oleh apa yang biasanya disebut tawar-menawar. Tawar-menawar terjadi manakala calon pembeli menanyakan berapa harga yang diminta penjual atas suatu barang, penjual menjawab, dan kemudian pembeli menawarkan harga lain, yang biasanya lebih murah daripada yang telah disebutkan penjual. Pembeli dan penjual kemudian tawar-menawar harga sampai akhirnya sebuah kesepakatan tercapai atau pembeli pergi dengan perasaan tidak suka. Sjoberg menambahkan pernyataan berikut ini tentang proses tawarmenawar ( 1960:205):

Dalam prosesnya, persilatan verbal itu bisa menjadi keras. Biasanya pembeli mengecilkan arti barang yang dia tanyakan danberusaha memperlihatkan tidak seberapa bergunanya membelj barang tersebut, sedangkan penjual menggunakan sanggahan balik untuk meyakinkan pembeli agar membelinya seharga yang dia minta. Kadang-kadang kawan, atau bahkan orang lain, akan ikut serta, dengan menyatakan kesetujuan atas harga barang yang tepat. Bukan hanya keterampilan partisipan yang menentukan hasil akhirnya, tetapi hubungan antara pembeli dan penjual juga merupakan faktor yang menentukan. Kawan mungkin dapat memperoleh barang sesuai dengan harga yang dia inginkan. Tawar-menawar adalah pola tipikal penentuan harga dalam masyarakat di mana pasar massa tidak ada, dan dengan demikian pembeli dan penjual mempunyai sedikit pengetahuan tentang harga suatu barang. Disamping itu, karena tawar-menawar menghabiskan banyak waktu, waktu jelas bukan merupakan sumber daya yang berharga dan langka, sebagaimana dalam kapitalisme modern. Oleh karena itu, tawar-menawar hanya dapat terj adi dalam setting di mana orang jarang terburu-buru menyelesaikan tugas seharihari mereka (Sjoberg, 1960). Aktivitas Ekonomi Non-rasionalitas. Kapitalisme modern adalah jenis sistem ekonomi yang sangat rasional dalam pengertian bahwa ada keragaman teknik canggih yang digunakan dalam melakukan bisnis —berbagai teknik dirancang untuk memaksimalkan produktivitas ekonomi dan pertumbuhan. Dengan demikian, masyar akat kapitalis modern menggunakanbentuk-bentuk akuntansi, keuangan, organisasi tempat kerja dan pemasaran yang lebih maju dalam menjalankan aktivitas bisnis mereka, dan berbagai prosedur ini menentukan keberhasilan. Namun dalam pasar pra-kapitalis, pengorganisasian aktivitas ekonomi yang rasional itu pada umumnya tidak ada (Sjoberg, 1960). Aktivitas ekonomi non-rasionalitas (jangan dicampuradukkan dengan “irrasionalitas”) ini diekspressikan dalam berbagi cara. Salah satunya, para pengrajin dan pedagang biasanya tidak mengikuti jadwal kerja yang mengikat secara ketat menurut jam. Sebaliknya, mereka sering mulai bekerja pada jam yang berbeda-beda dalam suatu hari, sesuai dengan sifat dari aktivitas non-ekonomi lain yang dilakukan. Disamping itu, manufacturing pra-kapitalis dikarakterisasikan oleh sedikitnya sinkronisasi usaha. Para pekerja dalam satu sektor manufacturing hanya sedikit mengetahui apa yang terjadi di berbagai sektor lain, dan mereka mengetahuinya sedikit apabila suatu usaha untuk mengkoordinasikan berbagai aktivitas mereka dengan aktivitas lain terjadi di berbagai sektor lain ini. Akhirnya, pemasaran barang dalam masyarakat pra-kapitalis tidak begitu terstandardisasi. Sebagai contoh, pedagang jarang memeriksa atau mensortir produk mereka, dan tidak begitu tegas standardisasi timbangan dan ukuran. Sebagaimana dikatakan Sjoberg, kurangnya standardisasi ini berkaitan dengan tidak adanya pasar massa, dan dengan demikian sifat aktivitas pasar sangat mempribadi.

Filed under : Bikers Pintar,