PENGERTIAN BEBERAPA STRATEGI TEORITIS EVOLUSIONER – Strategi teoritis evolusioner adalah strategi yang berusaha mendeskripsikan dan menjelaskan rangkaian-rangkaian perubahan sosial yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Evolusionis pada umumnya berpendapat bahwa banyak masyarakat yang telah mengalami perubahan-perubahan yang umumnya serupa dari zaman dahulu sampai sekarang, dan mereka berusaha keras mengidentifikasi sifat-sifat perubahan ini dan menjelaskan kenapa perubahan tersebut terjadi.

Beberapa pendekatan evolusioner terhadap kehidupan sosial sangat populer baik di kalangan sosiolog maupun antropolog yang hidup pada paruh kedua abad xix. Dalam kenyataannya, teori evolusioner mendominasi kedua disiplin ilmu ini pada saat itu. Salah seorang evolusioner abad xix yang paling terkernuka adalah filosof dan sosiolog Inggris, Herbert Spencer (1820-1903), yang mengembangkan sebuah teori evolusi sosial yang sangat mirip dengan teori evolusi biologisnya Darwin. Spencer berusaha memahami proses terjadinya segala sesuatu di alam semesta dengan mereduksinya ke dalam prinsip universal tunggal yang disebut “hukum evolusi”. Menurut hukum ini, segala sesuatu di alam semesta ini memiliki kecenderungan “berkembang dari keadaan yang tidak tentu, kacau dan seragam kepada keadaan yang dapat ditentukan, teratur, dan beragam”. Apa yang dimaksud Spencer adalah bahwa segala sesuatu cenderung berkembang dari bentuk yang sederhana dan tidak terspesialisasi menjadi bentuk yang lebih terspesialisasi dan kompleks. Spencer melihat kecenderungan universal ini sebagai kunci utama dalam melihat semua teka-teki besar alam semesta. Dia menganggap evolusi masyarakat manusia sebagai tidak lain dari sebuah contoh kecil dari tendensi kosmologis yang melekat pada sifat alam semesta.

Evolusionis abad xix terkemuka lainnya adalah ahli hukum dan antropolog amatir Amerika, Lewis Henry Morgan, (1818-1881). Morgan banyak memberikan perhatian kepada evolusi teknologis. Dia membagi sejarah manusia ke dalam tiga tahap besar: kebuasan, barbarisme dan peradaban. Tahap kebuasan adalah tahap di mana orang menggantungkan hidupnya dengan berburu binatang liar dan rneramu tanaman liar. Transisi ke tahap barbarisme ditandai dengan domestikasi berbagai binatang dan tanaman tersebut serta adanya perbaikan tambahan dalam teknologi yang digunakan. Munculnya tahap peradaban menandai transisi dari “masyarakat primitif” (Morgan menyebutnya Societas) ke “masyarakat sipil” (Morgan menyebutnya civitas). Morgan memandang perkembangan alpabet fonetik dan tulisan sebagai karak-teristik utama tahap ini.

Walaupun gagasan para evolusionis ini dan beberapa evolusionis terdahulu terasa provokatif, gagasan-gagasan tersebut mengandung sejumlah cacat yang serius. Salah satu cacatnya adalah kecenderungan menggunakan des-kripsi transformasi evolusioner semata sebagai penjelasan bagi transformasi itu sendiri. Kecenderungan ini adalah karakteristik yang menonjol dalam karya Spencer. Spencer berpendapat bahwa evolusi sosial adalah sesuatu yang melekat pada semua masyarakat, dan tampak menganggap observasi ini cukup menjelaskan kenapa evolusi sosial terjadi. Tetapi sekadar untuk dicatat bahwa evolusi cenderung terjadi tanpa menjelaskan kenapa hal itu terjadi.

Cacat lain dalam pemikiran evolusionis abad xix adalah etnosentrisme mereka. Mereka memandang masyarakat mereka sendiri (peradaban Barat) lebih unggul dari semua masyarakat lainnya, dengan menyatakan bahwa masyarakatmasyarakat pada tahap-tahap evolusioner awal menunjukkan penilaian yang rendah kepada masyarakat mereka sendiri. Dengan demikian, mereka mengklaim bahwa evolusi sosial merup akan indikasi bagi kemajuan, bagi perbaikan secara umum dalam rasionalitas, kebahagiaan dan moralitas manusia. Mereka cenderung melihat peradaban Barat sebagai titik akhir evolusi sosial, sebagai puncak milenium kemajuan manusia. Inilah pandangan yang secara tegas ditolak oleh banyak sosiolog dan antropolog modem sekarang ini, sebagaima-na yang dibahas secara menyeluruh dalam Bab 3. Karena beberapa cacat ini dan cacat-cacat lainnya, pemikiran evolusionis menghadapi kritik tajam yang muncul menjelang akhir abad xix. Ketika kritik terhadapnya memuncak, evolusionisme akhirnya diabaikan oleh banyak ilmuwan sosial. Sepanjang beberapa dekade awal abad xx, para ilmuwan sosial mengalihkan perhatian mereka kepada pertanyaan dan problem selain yang menyangkut perubahan sosial jangka panjang. Tetapi evolusionisme tidaldah mati sama sekali, ia hanya tertidur. Pada awal tahun 1940-an, ia bangkit kembali secara signifikan, dan seluruh problem yang menyangkut perubahan evolusioner jangka panjang kembali menyibukkan pildran banyak ilmuwan sosial. Pendekatan-pendekatan evolusioner terhadap kehidupan sosial sekarang dianut banyak sosiolog dan antrop olog.

Meskipun demikian, sekarang tidak ada strategi evolusioner tunggal dalam mengkaji masyarakat manusia. Ada banyak teori evolusioner yang berbeda-beda, kebanyakan di antaranya dapat ditempatkan dalam salah satu dari dua strategi evolusioner yang berbeda: strategi evolusioner fungsionalis dan strategi evolusioner materialis. Walaupun kedua strategis ini bersifat evolusioner dalam arti yang dikatakan di atas, keduanya sebenamya lebih banyak perbedaannya daripada persamaannya. Asumsi-asumsi yang mereka buat tentang berbagai peristiwa evolusioner dan cara mereka menjelaskannya menunjukkan perbedaan mencolok yang penting diketahui.

Strategi evolusioner fungsionalis mencakup penerapart pendekatan fungsionalis dalam mengkaji evolusi sosial (A.D. Smith, 1973). Dalam strategi ini, evolusi sosial dipandang terutama sebagai sebuah proses diferensiasi sosial, proses meningkatnya kompleksitas masyarakat. Ketika masyarakat bergerak maju, mereka mengembangkan diversitas bagian-bagian yang semakin bertambah, dan bagian-bagian ini saling terkait satu dengan lainnya secara rumit. Meningkatnya diferensiasi yang terjadi akan mengakibatkan semakin besarnya kapasitas adaptif. Dengan adanya diversitas interrtal yang semakin meningkat, masyarakat menjadi semakin mampu melakukan adaptasi secara berhasil dengan lingkungan mereka. Implikasinya jelas bahwa masyarakat yang lebih kompleks lebih unggul dari masyarakat yang kurang kompleks.

Para pemikir evolusioner fungsionalis pada umumnya memandang evolusi sosial sebagai hasil dari berbagai kebutuhan masyarakat yang bersifat fungsional sebagai sistem yang menyeluruh. Oleh karena itu, perubahan evolusioner dianggap mengarah kepada konsekuensi-konsekuensi yang menguntungkan bagi seluruh masyarakat. Pandangan ini merup akan ciri yang sangat menonjol dari karya Talcott Parsons (1966), teoritisi evolusioner fungsionalis yang paling terkemuka. Parsons mengklaim, misalnya, bahwa evolusi stratifikasi sosial —ketidaksamaan dalam kekayaan dan kekuasaan—merupakan hasil utama dari evolusi sosial, karena menimbulkan konsekuensi-konsekuensi menguntungkan bagi para anggota masyarakat secara keseluruhan. Dia percaya bahwa anugerah yang tidak sama bagi para anggota masyarakat merupakan alat yang memotivasi beberapa individu untuk memperoleh posisi tanggung jawab dan kewenangan yang penting. Para individu dan kelompok yang menliliki hak-hak istimewa akan memanfaatkan posisi kewenangan mereka untuk melakukan berbagai aktivitas yang akan menguntungkan para anggota masyarakat lainnya. Karena itu, Parsons memandang munculnya stratifikasi sosial sebagai “terobosan” evolusioner yang penting.

Pendekatan evolusioner fungsionalis hampir tidak melakukan perbaikan terhadap gagasan-gagasan pokok teoritisi evolusioner abad xix, dan ia cenderung melahirkan cacat-cacat yang sama. Sebagai contoh, strategi evolusioner fungsionalis cenderung memandang masyarakat Barat kontemporer sebagai masyarakat yang paling mampu melakukan adaptasi dibandingkan semua masyarakat lainnya, ia pada umumnya berpendirian bahwa masyarakat yang berskala kecil, sederhana, dan memiliki kapasitas adaptif yang rendah. Pandangan ini sangat etnosentris. Lebih-lebih, pendekatan evolusioner fungsionalis jelas menghadapi kritik yang sama dengan yang dihadapi fungsionalisme secara umum, karena ia hanya menyajikan penerapan fungsionalisme dalam mengkaji proses-proses evolusioner. Sebagaimana fungsionalis lainnya, evolusionalis fungsionalis terlampau menekankan harmoni masyarakat, meremehkan tingkat dan dayaguna konflik sosial, dan berpendirian bahwa ciri-ciri masyarakat muncul karena keperluan fungsional. Karena itu, sebagaimana fungsionalis menyajikan pendekatan yang tidak adekuat secara umum, evolusionisme fungsiona. lis menyajikan pendekatan yang tidak adekuat dalam mengkaji perubahan sosial jangka panjang.

Strategi evolusioner materialis sangat berbeda dengan apa yang diuraikan di atas. Pendekatan ini mencakup penerapan sebuah strategi materialis yang menyeluruh dalam memahami evolusi sosial. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa perubahan sosial pada umumnya berawal dari kondisi-kondisi material yang menopang sebuah kehidupan. Perubahan-perubahan ini, sekali terjadi, akan memulai perubahan-perubahan yang saling berangkai dalam pola-pola sosial sebuah masyarakat dan dalam gagasan dan cita-citanya. Berbeda dengan evolusionis fungsionalis, evolusionis materialis tidak mengasumsikan bahwa perubahan-perubahan evolusioner akan mengarah kepada bentuk-bentuk adaptasi masyarakat yang lebih baik. Mereka tidak berasumsi bahwa perubahan-perubahan evolusioner membawa kepada keuntungan yang bertambah bagi semua masyarakat. Sebaliknya, mereka menekankan bahwa perubahan-perubahan tersebut mungkin akan membawa kepada merosotnya kualitas hidup bagi kebanyakan anggota masyarakat. Evolusionis materialis berpendirian bahwa konflik dan pertentangan merupakan unsur penting yang sangat menentukan dalam kehidupan sosial manusia, dan mereka percaya bahwa berbagai gejala ini sangat berkaitan dengan proses perubahan evolusioner. Mereka berpendapat bahwa konflik dan pertentangan merupakan sebabsebab dan akibat-akibat dari evolusi sosial. Dengan demikian ada afinitas yang kuat antara strategi evolusioner materialis dengan strategi konflik marxian.

Filed under : Bikers Pintar,