PENGERTIAN BEBERAPA STRATEGI TEORITIS PENTING DALAM SOSIOLOGI MAKRO KONTEMPORER – Strategi Idealis. Para sosiolog telah lama berdebat tentang kelebihan relatif pendekatan idealis versus materialis dalam mengkaji kehidupan sosial manusia. Pendekatan-pendekatan idealis berusaha menjelaskan ciri dasar kehidupan sosial dengan merujuk kepada daya kreatif pikiran manusia. Pendukung pendekatan ini percaya bahwa keunikan manusia terletak dalam fakta bahwa manusia memberikan makna-makna simb olik bagi tindakan-tindakan mereka. Manusia menciptakan rangkaian gagasan dan cita-cita yang rinci dan menggunakan konstruk mental ini dalam mengarahkan pola perilaku mereka. Berbagai karakteristik pola perilaku yang berbeda-beda dalam masyarakat yang berbeda dilihat sebagai hasil serangkaian gagasan dan cita-cita yang berbeda pula. Namun, para idealis biasanya tidak banyak memberikan perhatian kepada problem bagaimana serangkaian gagasan dan cita-cita yang berbeda tersebut muncul pada saat pertama kalinya, dan inilah kelemahan serius teoriteori mereka.

Salah satu versi idealisme kontemporer yang paling terkenal terdapat pada karya antropolog Perancis Claude Levi-Strauss (1963). Levi-Strauss mengajukan sebuah pendekatan dalam kajian terhadap berbagai masyarakat, yang dikenal dengan strukturalisme. Gagasan pokok di belakang pendekatan ini adalah bahwa manusia di manapun juga mempunyai kecenderungan untuk berpikir dalam kaitan dengan pertentangan kembar (binary-oppsitions), atau tegasnya pasangan konsep yang saling bertentangan. Kecenderungan berpikir dalam kaitan pertentangan kembar ini diyakini sangat melekat dalam pikiran manusia. Pertentangan kembar dasar meliputi juga pasangan-pasangan, seperti lelaki/perempuan, alam/kebudayaan, bumi /langit, mentah/matang, tanah/ air dan seterusnya. Organisasi masyarakat pada dasarnya, menurutnya, mengikuti pola pertentangan kembar yang sangat penting dalam kebudayaan atau masyarakat yang kini ada.

Antropolog Sherry Ortner (1974) telah menerapkan teori strukturalis untuk menjelaskan peranan jenis kelamin dalam berbagai kebudayaan dunia. Secara khusus, dia berusaha menjelaskan kenapa wanita secara universal merupakan jenis kelamin yang tersubordinasi — kenapa dalam setiap masyarakat wanita dan aktivitas mereka dinilai rendah. Penjelasan atas kenyataan ini, menurutnya, meliputi pertentangan kembar “alam /kebudayaan”, sebuah pertentangan yang mendasar dalam semua masyarakat. Dalam pikiran manusia, wanita diassosiasikan dengan “alam” dan lelaki dengan “kebudayaan”. Wanita dilihat lebih dekat dengan alam, baik dalam kaitannya dengan proses fisiknya maupun dalam aktivitasnya. Wanita mengalami menstruasi, hamil, menyusui dan mempunyai hubungan dekat dengan anak-anak, dan fakta ini membuat wanita tampak lebih dekat dengan alam dibanding lelaki. Sebaliknya, lelaki dilihat lebih dekat dengan kebudayaan karena mereka lebih dekat dengan berbagai aktivitas budaya, — seperti politik dan agama — di mana manusia mengatasi (trancend) alam. Karena secara universal manusia meletakkan kebudayaan di atas alam, maka secara universal wanita dipandang rendah.

Sebuah teori serupa dikembangkan juga oleh, seorang antropolog lainnya, Marshall Sahlins (1976a). Sahlins telah membuat penjelasan provokatif tentang kebiasaan makan orang Amerika, namun sayangnya sulit diterima. Dia menyatakan bahwa daging sapi adalah makanan yang paling dinilai tinggi oleh masyarakat Amerika kontemporer. Dia yakin bahwa pemilihan makanan ini berkaitan dengan assosiasi Indo-Eropa kuno yang mengaitkan sapi dengan kejantanan, sebuah assosiasi yang telah dipertahankan selama ribuan tahun dan terus mengarahkan pikiran kita tentang “makanan -yang tepat”. Sahlins juga merasa heran kenapa orang Amerika tidak memakan anjing, sementara masyarakat lain memakannya (seperti masyarakat Indian Amerika Utara dan Cina). Kita tidak makan anjing, katanya, karena “anjing-anjing itu mengingatkan kita kepada orang” (Harris dan Ross, 1978; 88). Karena kita memelihara anjing sebagai binatang kesayangan rumah tangga dan kita me-ngembangkan hubungan yang dekat dengan mereka, pikiran kita tidak dapat membenarkan kita untuk menjadikannya santapan makan malam.

Versi idealisme lainnya terdapat pada tulisan-tulisan sosiolog kontemporer Amerika Talcott Parsons (1937, 1966). Parsons menyatakan bahwa inti setiap masyarakat adalah jalinan makna, kepercayaan dan nilai yang dianut bersama. Kepercayaan dan nilai suatu masyarakat dapat membentuk struktur cara-cara dasar mereka dalam mengorganisasikan kehidupan sosialnya. Sebagai contoh, Parson melihat masyarakat Barat modern sebagai sangat terorganisasi dengan bingkai dasar nilai-nilai kekristenan dan demokrasi liberal. Dia percaya bahwa karena orang Barat telah mengembangkan sistem nilai politik dan keagamaan ini, mereka mampu memecahkan problem kemasyarakatan tertentu yang masih menimpa banyak masyarakat lain, yang anggotanya hidup dengan nilai dan kepercayaan yang sangat berbeda.

Strategi Materialis. Para materialis menolak keras berbagai jenis teori seperti yang baru saja disebutkan. Alih-alih memberikan prioritas kepada gagasan dan cita-cita sebagai sebab atas suatu tindakan, mereka berusaha menjelaskan ciri-ciri dasar kehidupan masyarakat dalam kaitannya dengan kondisi pxaktis-material dari eksistensi manusia. Kondisi-kondisi ini meliputi sifart lingkungan fisik, tingkat teknologi, dan sistem organisasi ekonomi. Para materialis melihat berbagai faktor ini sebagai pembentuk prasyarat dasar eksistensi manusia. Bagian terpenting dari kehidupan manusia adalah adaptasi terhadap lingkungan fisik, dan ini harus dilakukan dengan menciptakan teknologi dan sistem ekonomi. Sekali teknologi dan sistem ekonomi diciptakan, maka ia akan menentukan sifat pola-pola sosial lain yang dilahirkan masyarakat manusia. Jenis teknologi dan sistem ekonomi yang berbeda akan melahirkan jenis pola-pola sosial yang berbeda pula. Bahkan, para materialis umumnya menganggap gagasan dan cita-cita manusia berasal dari pola-pola sosial yang diciptakan sebelumnya. Sebagaimana para idealis, mereka juga mengakui kapasitas kreatif pikiran manusia. Namun, mereka berpendapat bahwa gagasan dan cita-cita bukanlah sesuatu yang lahir dengan sendirinya, tetapi lahir sebagai respons terhadap berbagai kondisi material dan sosial yang telah mapan.

Pendekatan materialis terhadap kehidupan sosial mulai muncul melalui karya teoritisi sosial Jerman terkemuka yang hidup pada abad xix, Karl Marx (1818 – 1883) dan Friedrich Engels (1820-1895). Marx dan Engels (1970, aslinya 1846) mengembangkan apa yang disebut sebagai “konsepsi materialis tentang sejarah”, dan apa yang sejak saat itu terkenal sebagai materialisme historis (sering pula disebut Materialisme Dialektis). Ini adalah pendekatan teoritis terhadap kehidupan sosial yang dikembangkan sebagai perlawanan langsung terhadap idealisme yang saat itu banyak berkembang dalam filsafat Jerman. Walaupun materialisme historis dibangun terutama sebagai alat untuk memahami masyarakat kapitalis modern, Marx dan Engels menganggapnya dapat diterapkan juga terhadap seluruh kehidupan masyarakat manusia, baik masa lalu maupun masa kini.

Marx dan Engels membagi masyarakat manusia ke dalam dua komponen pokok. Salah satu di antaranya disebut sebagai infrastruktur, kadangkadang disebut juga pola produksi. Selanjutnya, infrastruktur dibagi ke dalam dua kategori : kekuatan-kekuatan produksi dan hubungan-hubungan produksi. Kekuatan-kekuatan produksi terdiri dari bahan-bahan mentah yang diperlukan masyarakat dalam produksi ekonomi: tingkat teknologi yang tersedia dan sifat khusus dari berbagai sumber daya alam, seperti kualitas tanah. Hubungan-hubungan produksi merujuk kepada pemilikan atas kekuatankekuatan produksi. Marx dan Engels menyatakan bahwa pada sebagian masyarakat, kekuatan-kekuatan produksi dimiliki secara komunal oleh seluruh masyarakat, tetapi dalam masyarakat lain pemilikan pribadi atas kekuatan produksi telah terjadi. Kelompok yang memegang kekuatan-kekuatan produksi dapat memaksa kelompok-kelompok lain bekerja untuk mereka. Marx dan Engels menyatakan bahwa beberapa bentuk hubungan pribadi dalam produksi yang berbeda terjadi dalam berbagai masyarakat yang berbeda.

Komponen penting lain dalam masyarakat manusia yang diidentifikasi oleh Marx dan Engels adalah suprastruktur. Komponen ini terdiri dari semua aspek kehidupan masyarakat yang tidak termasuk dalam infrastruktur, seperti politik, hukum, kehidupan keluarga, agama serta gagasan dan cita-cita. Marx dan Engels berpendapat bahwa infrastruktur dan suprastruktur masyarakat saling berkaitan. Walaupun dinyatakan bahwa suprastruktur terkadang dapat mempengaruhi infrastruktur, mereka menegaskan bahwa arus utama hubungan kausal itu bergerak dari infrastruktur ke suprastruktur. Dengan kata lain, mereka percaya, pola-pola pikiran dan tindakan manusia yang terdapat dalam suprastruktur masyarakat pada umumnya dibentuk oleh ciri-ciri infrastruktur masyarakat tersebut. Mereka juga memandang bahwa perubahan sosial dalam suprastruktur terjadi karena adanya perubahan yang telah terjadi di dalam infrastruktur masyarakat. Inilah essensi materialisme mereka.

Materialisme Marx dan Engels lama ditolak oleh banyak sosiolog sebagai strategi yang tidak adekuat dalam mengkaji kehidupan sosial. Namun akhir-akhir ini, pandangan ini bangkit kembali secara meyakinkan, dan banyak sosiolog kontemporer mengikuti prinsip dasar hubungan kausal materi-alistis yang diajukan oleh Marx dan Engels. Bagaimanapun juga, banyak sosiolog kontemporer yang tetap menolak prinsip ini, baik secara keseluruhan maupun sebagiannya saja. Para idealis kontemporer umumnya menolak secara keseluruhan, dengan lebih suka membalikkan arah hubungan kausal yang dianut dalam strategi Marxian. Namun sebagian mereka hanya menolak sebagiannya saja, dengan menyatakan bahwa ia memang mempunyai validitas tetapi juga terlampau menyederhanakan hakekat realitas sosial. Sosiologsosiolog ini seringkali mengusulkan penggabungan strategi materialis dan strategi idealis. Mereka berpendapat bahwa kehidupan sosial adalah hasil bersama dari kondisi material dan juga gagasan dan cita-cita.

Filed under : Bikers Pintar,