Advertisement

Ilmu sendiri tidak mengandung asas-asas normatif mengenai tujuan-tujuan yang paling akhir. Pertimbangan berdasarkan niiai-nilai yang merupakan saripati etika dan estetika terletak di luar ranah (domain) ilmu. Namun, kelirulah kita kalau berdasarkan alasan ini lalu menyimpulkan bahwa ilmu itu,sama sekali tak relevan bagi etika dan estetika. Sebabnya ialah karena pertimbangan berdasarkan nilai-nilai itu sendiri juga tidak cukup.

Apakah gunanya pertimbangan muluk berdasarkan nilai-nilai luhur kalau kita tak tahu bagaimana merealisasikan nilai-nilai itu, tegasnya, jika kita tak memiliki pengetahuan apa pun tentang alternatif-aiternatif yang terbuka, dan tak memiliki pula sarana-sarana untuk mencapai tujuan mulia dari keputusan hasil pertimbangan itu? Apakah gunanya seorang produser merangkap sutradara mempunyai gagasan yang hebat dan berdaya cipta (kreatif) tentang pembuatan suatu film karya agung (master piece) jika tak ada ilmu yang dapat membantunya menjelmakan gagasannya itu, kalau tak ada teknik-teknik mutakhir untuk menciptakan efek sinematografi, kalau tak ada fotografi modern dengan sistem kanta yang aduhai dan tata cahaya dan tata suara serta efek bunyi yang maju? Adakah kegunaan praktis keputusan yang penuh perikemanusiaan untuk mengungsikan ribuan bayi dan anak-anak dari kemungkinan bantaian pasukan komunis ketika rezim Nguyen Van Thieu di Vetsel ambruk seandainya tak ada sarana-sarana pengangkutan, komunikasi, dan kesehatan, yang semuanya itu merupakan hasil ilmu?

Advertisement

Ilmu menyediakan senarai alternatif dan menyediakan pula sarana dan alat-alat untuk melaksanakan alternatif yang dipilih. Memang benar bahwa tanpa pertolongan perimbangan berdasarkan nilai-nilai akan mahai kita bisa memilih, yang mana di antara sekian banyak alternatif itu yang paling bagus dan paling diinginkan oleh banyak orang. Tetapi, sekali pilihan itu telah jatuh, maka lagi-lagi tak ada jalan lain kecuali berpaling kepada ilmu, untuk mengetahui dan menyediakan jalan dan cara untuk merealisasikan pilihan tersebut.

Walau ilmu tak mengandung asas-asas normatif dan sebaliknya agama pada umumnya bertumpu pada seperangkat norma tertentu, sukar untuk mengatakan bahwa ilmu lalu harus merupakan kegiatan yang netralagama. Kata Spyman: “… kenetralan semacam itu adalah … kemungkinan yang mahal — mungkin dalam arti bahwa sementara orang masih memegang teguh gagasan itu, tetapi muhal, artinya tak seorang pun dapat benar-benar merealisasikan dalih kepura-puraannya itu” (Spyman, 1972). Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa setiap usaha kegiatan keilmuan senantiasa berpangkal toiak dari anggapan atau andaian dasar tertentu termasuk juga yang sifatnya metafisis, dan bahwa perspektif iman sang ilmuwan mempengaruhi pemilihan andaian-andaian itu serta meresap ke dalamnya. Tambahan pula, pengembangan selanjutnya karya keilmuan itu — suatu tugas yang penuh jerih payah tetapi juga penuh tantangan, suatu pekerjaan yang berat, kadang-kadang rendet dan memerlukan ketabahan, namun juga merangsang — tak hanya bergantung pada objek telaahnya saja — yakni alam — melainkan sampai batas-batas tertentu juga bergantung pada faktor-faktor subjektif, yakni sang ilmuwan sendiri, beserta falsafah hidup (Weltanschauung) dan keyakinan agamanya.

Contoh yang jelas adalah karya keilmuan Dalton (Easley St Tatsuoka, op.cit., p. 126, 139) dan Einstein (Kemeny, op.cit., p. 63). Pada suatu tahap dalam membangun teori molekulnya, Dalton menernui jalan buntu, sebab ia tak mengetahui cacah atom dalam molekul yang dibentuk oleh atom-atom itu, dan belum diketahui pula rumus struktur molekul itu. Tetapi Dalton adalah seorang yang berkeyakinan, bukan sekadar pengamat alam yang pasif dan objektif tulen. Iman keagamaannya rupanya menoiongnya ketika logika dan tiadanya data empiris yang cukup tak mampu lagi menunjukkan jalan keluar dari kemacetan itu. Ia menunjukkan kegiglhan yang luar biasa, dan… berpaling kepada anggapan yang diyakininya tentang Sang Pencipta, yakni bahwa Dia tak akan membuat rnolekul-molekul itu lebih rumit dari seperlunya (asas keratahan, prinsip simplisitas), dan bahwa Dia tak memboroskan atom-atomnya (asas kehematan, prinsip parsimoni).

Dalam mengembangkan pikiran-pikiran yang pada akhirnya menjelma menjadi Teori Kenisbian Umum”-nya, Einstein sampai pada persamaan tertentu, yang di satu pihak mampu menerangkan semua fakta yang diketahui dan, di lain pihak, jauh lebih ratah daripada persamaan lain yang mana pun, yang juga menerangkan semua fakta itu. Termangu ragu, akhirnya ia bergumam kepada dirinya bahwa Tuhan tentu akan menyianyiakan peluang untuk membuat alam ini ratah. Maka diterbitkannya teorinya itu dengan keyakinan bahwa teori itu betul. Keberhasilan yang dramatis dari karya besar itu merupakan saksi keteguhan iman Einstein.

Setiap kegiatan keilmuan yang berusaha membebaskan dirinya dari masalah keagamaan mengenai bagaimana kegiatan keilmuan itu, mesti mencerminkan daya upaya manusia untuk belajar menanggapi ajakan Tuhan untuk berkomunikasi, cenderung akan mengorbitkan penalaran nara ke dalam edaran swatantra dan mendudukkannya di takhta yang lebih tinggi dari segala hal lain. Ini berarti melupakan keterbatasan manusia sebagai makhluk.

Kalau kita tidak menghindari sikap congkak ini, ilmu tak akan lagi merupakan bagian humaniora. Yah, bahkan terkait dengan humaniora pun tidak lagi — dalam arti bahwa ilmu tak menopang upaya humaniora untuk mencapai tujuannya, yakni kemungkinan insan berwawansabda dengan Penciptanya.

Advertisement