PENGERTIAN BIAS BUDAYA DALAM PENGUKURAN

19 views

PENGERTIAN BIAS BUDAYA DALAM PENGUKURAN – Isu bias budaya dalam pengukuran bukan hal sederhana, juga tidak jelas apakah bias semacam itu membuat berbagai alat ukur menjadi tidak dapat digunakan. Berbagai studi mengenai bias dalam pengujian menunjukkan bahwa prosedur penting, seperti Wechsler Intelligence Scale for Children—Revisi, memiliki validitas prediktif yang sama untuk anak-anak kaum minoritas dan nonminoritas (Sattler, 1992); tes IQ memprediksi prestasi akademik sama baiknya bagi kedua kelompok.,Berbagai indeks yang diambil dari sistem Exner untuk skoring tes Rorschach juga memiliki kesamaan pada orang-orang Afrika-Amerika dan kulit putih (Meyer, 2002). Berbagai profil MMPI sangat memiliki kesamaan pada orang-orang Kaukasia dan Afrika Amerika (Arbisi, Ben-Porath, & McNulty, 2002; Munley dkk., 2001) dan memiliki relasi yang sama baiknya dalam rating para ahli klinis di antara orang-orang Afrika Amerika dan Kaukasia (McNulty dkk., 1997).
Selain itu, bias-bias budaya terjadi dengan cara yang berbeda-beda—dapat menye-babkan para ahli klinis melebih-lebihkan atau merendahkan berbagai masalah psikologis yang dialami orang-orang dari berbagai budaya lain (Lopez, 1989, 1996). Terlalu banyak anak Afrika Amerika yang ditempatkan dalam kelas pendidikan khusus, yang mungkin disebabkan oleh bias yang tidak tampak dalam berbagai tes yang digunakan untuk menentukan penempatan dalam kelas tersebut (Artiles & Trent, 1994). Sejauh ini ambil contoh tentang seorang pria Asia Amerika yang sangat menarik diri secara emosional. Perlukah ahli klinis mempertimbangkan bahwa tingkat ekspresivitas emosi yang rendah pada pria dinilai lebih positif dalam budaya Asia dibanding dalam budaya Eropa-Amerika? Ahli klinis yang terlalu cepat menga-tribusikan perilaku tersebut pada perbedaan budaya dan bukan pada gangguan psikologis berisiko mengabaikan suatu masalah emosional yang mungkin akan menjadi diagnosis yang ditegakkannya jika pasien tersebut seorang pria kulit putih. Sekali lagi, pengaruh bias budaya dalam pengukuran klinis terjadi dalam kedua hal di atas (Lopez, 1989).
Bagaimana bias-bias semacam itu terjadi? Terlalu banyak perbedaan budaya yang ada, dan perbedaan tersebut dapat memengaruhi pengukuran dalam berbagai cara. Perbedaan bahasa, pandangan budaya terhadap kompetisi, perbedaan agama dan kepercayaan spiritual, perasaan asing atau keengganan orang-orang dari budaya minoritas bila dites oleh para ahli klinis dari ras Eropa-Amerika—semua faktor tersebut dapat berperan. Orang-orang berbahasa Spanyol yang dites oleh ahli khnts berbahasa Inggris mungkin tidak mendapatkan terjemahan secara benar (Sabin, 1975).

Bias budaya tidak hanya memengaruhi mereka yang mendapatkan diagnosis, namun juga bagaimana orang tersebut didiagnosis. Sebuah studi menunjukkan bahwa para ahli klinis lebih mungkin menegakkan diagnosis skizofrenia pada seorang pasien jika dalam ringkasan kasus disebutkan bahwa pasien adalah seorang Afrika-Amerika dibanding jika pasien disebutkan sebagai orang kulit putih (Blake, 1973). Sebuah studi di rumah sakit menunjukkan bahwa para pasien Afrika Amerika didiagnosis berlebihan sebagai penderita skizofrenia dan kurang didiag nosis sebagai penderita gangguan mood (Simon dkk., 1973). Studi lain menunjukkan bahwa, berdasarkan simtom-simtom yang sama persis, para pasien Afrika-Amerika dari kelas bawah lebih mungkin mendapatkan diagnosis sebagai pecandu alkohol dibanding para pasien kulit putih dari kelas menengah, yang bila menilik simtom simtom yang ditunjukkan, tidak tepat bagi para pasien kulit putih (Luepnitz, Randolph, & Gutsch, 1982). Perbedaan budaya tidak dapat dihindari. Dan berbagai bias kultural yang dapat memengaruhi pengukuran klinis tidak selalu menggerakkan berbagai upaya untuk mengompensasinya. Tidak ada jawaban sederhana. Masuknya faktor-faktor budaya dalam pembahasan setiap kategori gangguan dalam DSM-IV-TR memang dapat menyadarkan para ahli klinis terhadap isu tersebut, suatu langkah awal yang perlu. Ketika para praktisi disurvei, dengan bersemangat mereka menuturkan budaya dimasukkan sebagai bahan pertimbangan dalam pekerjaan klinis mereka (Lopez, 1994) sehingga tampaknya masalah tersebut, jika bukan solusinya, terletak pada fokusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *