PENGERTIAN BULIMIA NERVOSA – Pada bulimia, makan berlebihan biasanya dilakukan secara diamdiam, dapat dipicu oleh stres dan berbagai emosi negatif yang ditimbulkannya, dan terus berlangsung hingga orang yang bersangkutan merasa sangat kekenyangan (Grilo, Shiffman, & Carter-Campbell, 1994). Berbagai makanan yang dapat dikonsumsi dengan cepat, terutama yang manis seperti es krim dan cahe, biasanya menjadi bagian dari makan berlebihan tersebut. Suatu studi mutakhir menemukan bahwa para perempuan yang menderita bulimia nervosa lebih mungkin makan berlebihan ketika sedang sendirian dan pada pagi atau siang hari. Selain itu, menghindari makanan yang sangat diinginkan pada satu hari berhubungan dengan episode makan berlebihan keesokan paginya (Waters, Hill, & Waller, 2001). Berbagai studi lain menunjukkan bahwa makan berlebihan mungkin terjadi setelah interaksi sosial yang negatif, atau setidaknya persepsi atas hubungan sosial yang negatif (Steiger dkk., 1999).

Meskipun penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menderita bulimia nervosa kadang mengonsumsi sejumlah besar makanan selama episode makan berlebihan, yang sering kali lebih banyak dari yang dimakan orang normal dalam sehari, makan berlebihan tidak selalu sebanyak yang dicantumkan dalam DSM, dan terdapat variasi besar dalam kandungan kalori yang dikonsumsi oleh penderita bulimia nervosa selama episode makan berlebihan (a.1., Rossiter & Agras, 1990). Para pasien menuturkan bahwa mereka hilang kendali ketika makan berlebihan, bahkan hingga ke titik mengalami sesuatu yang mirip dengan keadaan dissosiatif, mungkin kehilangan kesadaran terhadap apa yang mereka lakukan atau merasa bahwa bukan diri mereka yang makan berlebihan. Mereka biasanya malu den_gan kondisi tersebut dan mencoba menutupinya. Setelah selesai makan berlebihan, rasa jijik, rasa tidak nyaman, dan takut bila berat badan bertambah memicu tahap kedua bulimia nervosa, pengurasan untuk menghilangkan efek asupan kalori karena makan berlebihan. Paling sering pasien memasukkan jari-jari mereka ke tenggorakan agar tersedak, namun setelah satu waktu banyak yang dapat muntah bila menghendakinya tanpa harus membuat diri mereka tersedak. Penyalahgunaan obat-obat pencahar dan diuretik (yang tidak banyak membantu menurunkan berat badan) serta berpuasa dan olah raga berlebihan juga dilakukan untuk mencegah penambahan berat badan.

Meskipun banyak orang yang kadang makan berlebihan dan beberapa orang juga bereksperimen dengan pengurasan, diagnosis DSM untuk bulimia nervosa mensyaratkan bahwa episode makan berlebihan dan pengurasan terjadi sekurangnya dua kali seminggu selama 3 bulan. Apakah dua kali seminggu merupakan batas yang ditentukan dengan tepat? Mungkin tidak. Beberapa perbedaan ditemukan antara pasien yang makan berlebihan dua kali seminggu dan mereka yang melakukannya dengan frekuensi yang lebih jarang, menunjukkan bahwa kita berhadapan dengan suatu kontinum tingkat keparahan dan bukan suatu pemisahan tegas. Seperti halnya pasien yang menderita anoreksia nervosa, para penderita bulimia nervosa takut bila berat badannya bertambah, dan harga diri mereka sangat tergantung pada dipertahankannya berat badan normal. Bila orang-orang yang tidak mengalami gangguan makan biasanya jarang memberitahukan berat badan mereka dan menyebutkan tinggi badan mereka lebih tinggi dari yang sebenarnya, para penderita bulimia nervosa lebih akurat dalam menyebutkan berat badan mereka (Doll & Fairburn, 1998; McCebe dkk., 2001). Namun, pasien bulimia nervosa juga memiliki kemungkinan untuk sangat tidak puas dengan tubuh mereka. Pada titik ini, hingga kini kurang jelas apakah ketidakpuasan tersebut secara khusus terkait dengan bulimia nervosa atau apakah lebih terkait dengan komorbid depresi atau pendapat budaya tentang kelangsingan tubuh (Cooper & Hunt, 1998; Keel dkk., 2001; Wiederman & Pryer, 2000). Seperti halnya pada anoreksia, terdapat dua subtipe bulimia nervosa: tipe pengurasan dan tipe nonpengurasan di mana perilaku kompensatori adalah berpuasa atau olahraga berlebihan. Bukti-bukti bagi validitas pembedaan tipe tersebut ber-variasi. Dalam beberapa studi, orang-orang yang didiagnosis menderita bulimia non-pengurasan memiliki berat badan lebih besar, lebih jarang makan berlebihan, dan menunjukkan lebih sedikit psikopatologi dibanding orang-orang yang menderita. Bulimia nervosa biasanya terjadi pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa. Sekitar 90 persen kasus terjadi pada perempuan, dan prevalensi pada kaum perempuan diperkirakan sekitar 1 hingga 2 persen dari populasi. Banyak pasien bulimia nervosa agak kelebihan berat badan sebelum onset gangguan tersebut, dan makan berlebihan sering kali dimulai pada saat menjalani diet.

Bulimia nervosa dikaitkan dengan sejumlah diagnosis lain, terutama depresi, gangguan kepribadian, gangguan anxietas, penyalahgunaan zat, dan gangguan tingkah laku. Laki-laki yang menderita bulimia juga memiliki kemungkinan didiagnosis mengalami gangguan mood atau ketergantungan zat (Striegel-Moore dkk., 1999). Angka bunuh diri jauh lebih tinggi di antara para penderita bulimia nervosa dibanding dalam populasi umum (Favaro & Santonastaso, 1998). Upaya bunuh diri di kalangan penderita bulimia nervosa sama banyak dengan upaya bunuh diri pada para penderita depresi mayor dan anoreksia nervosa (Bulik, Sullivan, & Joyce, 1999). Dalam studi terhadap orang kembar ditemukan bahwa bulimia dan depresi berhubungan secara genetik.
Perubahan Fisik dalam Bulimia Nervosa. Seperti halnya anoreksia, bulimia terkait dengan beberapa efek samping pada fisik. Meskipun lebih jarang dibanding pada anoreksia, menstruasi yang tidak teratur, termasuk amenorea, dapat terjadi, meskipun para pasien bulimia biasanya memiliki Indeks Massa Tubuh atau IMT yang normal (Gendall dkk., 2000). (IMT dihitung dengan membagi berat dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter dikuadratkan dan dianggap sebagai pengukuran lemak tubuh yang lebih valid dibanding banyak pengukuran lain (NIH, 1998). Bagi kaum perempuan, nilai IMT normal adalah antara 20 hingga 25). Selain itu, seringnya pengurasan dapat menyebabkan kekurangan potasium. Penggunaan obat pencahar secara berlebihan menyebabkan diare, yang juga dapat menyebabkan perubahan elektrolit dan menyebabkan denyut jantung menjadi tidak teratur. Muntah secara berulang dihubungkan dengan masalah menstruasi dan dapat menyebabkan rusaknya jaringan lambung dan tenggorokan serta hilangnya enamel gigi ketika asam lambung merusak gigi, yang kemudian menjadi berlubang. Kelenjar ludah dapat membengkak. Bulimia nervosa, seperti halnya anoreksia, merupakan gangguan serius yang mengandung konsekuensi fisik yang merugikan (Garner, 1997). Meskipun demikian, kematian jauh lebih sedikit pada bulimia nervosa dibanding pada anoreksia nervosa (Herzog dkk., 2000; Keel & Mitchell, 1997).

Prognosis.
Pemantauan jangka panjang pada para pasien bulimia nervosa mengungkap bahwa 70 persen memperoleh kesembuhan, meskipun sekitar 10 persen tetap sepenuhnya simtomatik (Keel dkk., 1999; Reas dkk., 2000). Melakukan intervensi segera setelah diagnosis ditegakkan (a.1., dalam beberapa tahun pertama) berhubungan dengan prognosis yang lebih baik (Reas dkk., 2000). Para pasien bulimia nervosa yang lebih sering makan berlebihan dan muntah, komorbid dengan penyalahgunaan zat, atau memiliki riwayat depresi memiliki prognosis lebih buruk dibanding pasien tanpa faktor-faktor tersebut .

Filed under : Bikers Pintar,