Advertisement

suicide (bunuh diri)

Istilah bunuh diri mengacu kepada kematian seseorang yang diakibatkan oleh tingkah laku yang dijalankan oleh orang itu yang mengetahui atau mengharapkan akibat yang ditimbulkannya ter jalan secara langsung, seperti gantung diri atau menembak dirinya sendiri. Bentuk lainnya bersifat tidak langsung, seperti mogok makan atau menolak mendapatkan perawatan kesehatan agar tetap hidup. Namun banyak perilaku di mana kata bunuh diri ini dikenakan terhadapnya tampaknya bukan dimotivasi oleh keinginan untuk mati. Seringkah perilaku tersebut tidak dimaksudkan untuk membahayakan diri sendiri tetapi hanya untuk mengekspresikan atau mengkomunikasikan perasaan seperti putus asa, ketidakberdayaan, dan kemarahan. Karena itu literatur ilmiah kontemporer mengakui, lepas dari bunuh diri, dua kategori perilaku bunuh diri. Pertama, suicidal communication atau suicidal ideation, yang mengacu kepada kesadaran yang dapat bervariasi dari pemikiran yang tergesa-gesa bahwa hidup itu tidak berarti, melalui pemikiran untuk rencana mengakhiri hidupnya sendiri, sampai pada keasik- an khayalan yang berlebihan tentang kehancuran diri. Kedua, istilah suicide attempt atau parasuicide meliputi perilaku yang dapat bervariasi dari apa yang kadang-kadang dinamakan isyarat bunuh diri atau usaha manipulatif sampai pada usaha serius, namun gagal, untuk membunuh dirinya sendiri. Penelitian telah menunjukkan bahwa ada overlap yang sangat banyak di antara populasi orang di dalam tiga kelas perilaku bunuh diri. Juga ada beberapa bukti saluran developmental yang secara berurutan menghubungkan suicidal ideation dengan parasuicide dan tindakan bunuh diri. Namun tidak banyak diketahui penyebab dan pola-pola rekruitmen dari suicidal ideation ke parasuicide, dan dari parasuicide ke tindakan bunuh diri, serta faktor-faktor yang mempercepat atau menghalangi transformasi ini.

Advertisement

Penggunaan statistik mortalitas untuk studi ilmiah tentang bunuh diri diawali oleh Emile Durkheim di dalam bukunya yang terkenal. Le Suicide (1951 11897]), dan sejak saat itu menjadi subyek perdebatan dan kritik tentang keabsahannya. Tampaknya ada konsensus umum bahwa meskipun bunuh diri pada umumnya tidak banyak dilaporkan, statistik nasional dapat dipakai untuk analisis trend antar negara, di dalam negara-negara dan kecenderungannya sepanjang masa.

Secara umum, bunuh diri tampaknya merupakan peristiwa yang jarang terjadi. Di kebanyakan negara bunuh diri menempati urutan ke-9 atau ke 10 dari penyebab kematian untuk semua golongan usia, terhitung satu persen lebih sedikit untuk wanita dan dua persen untuk pria. Meskipun demikian ada perbedaan internasional yang substansial. Beberapa negara, seperti Hungaria, Jepang, dan Denmark, secara tradisional memiliki tingkat kematian bunuh diri tiga sampai lima kali lebih banyak ketimbang, misalnya, Inggris, Wales dan Irlandia. Hal ini menandakan bahwa karakteristik budaya ikut memainkan peran yang signifikan.

Karena statistik mortalitas waktu telah tersimpan, di mana di beberapa negara sudah ada sejak pertengahan abad ke-19. maka salah satu fakta yang paling mendasar tentang bunuh diri adalah bahwa resiko bunuh diri meningkat seiring bertambahnya usia. Bunuh diri sangat jarang terjadi pada usia di bawah 12 tahun dan menjadi lebih banyak pada usia setelah masa puber, dan peristiwa bunuh diri kemudian bertambah beberapa tahun sesudahnya. Dalam hampir semua negara rata-rata bunuh diri tertinggi adalah para orang lanjut usia, untuk pria biasanya pada kategori usia 75 tahun atau lebih, dan pada wanita pada usia yang jauh lebih muda. antara 55 sampai 74 tahun. Namun di pertengahan akhir abad ke- 20 orang-orang usia pertengahan yang meninggal karena bunuh diri menurun secara signifikan karena fakta bahwa di kebanyakan negara Eropa, Amerika Utara dan Asia tingkat kematian bunuh diri mencapai angka tertingginya di antara orang yang berusia 15-34 tahun, dan konsekuensinya berada di peringkat ketiga penyebab kematian di dalam kelompok usia tersebut. Penelitian yang dilakukan mengindikasikan bahwa perkembangan ini sebagian dapat dijelaskan oleh peningkatan dramatis yang simultan dalam insiden usaha bunuh diri atau parasuicide, suatu perilaku yang secara khusus merupakan hal yang biasa dikalangan orang dewasa dan remaja, dengan rata-rata prevalensi waktu hidup berkisar antara 5 sampai 20 persen. Resiko bunuh diri dikalangan orang-orang yang sebelumnya pernah berusaha melakukannya namun tidak mati lebih tinggi ketimbang populasi umum. Baik itu tindakan bunuh diri yang mematikan maupun yang gagal (tidak mati) dengan rasio antara dua puluh sampai empat puluh tindakan bunuh diri yang gagal dibandingkan semua tindakan bunuh diri tampaknya berhubungan dengan sejumlah faktor-faktor resiko fisik, psikologis dan sosial yang kebanyakan tumpang tindih namun sebagian berbeda-beda. Di antara faktor resiko sosial adalah ikatan sosial yang lemah atau tidak ada sama sekali, atau Dartisinasi. Beberapa tindakan bunuh diri mengambil yang rendah. Di antara faktor resiko psikologis adalah hadirnya gangguan psikiatrik, khususnya depresi, penyalahgunaan substansi psikoaktif dan gangguan kepribadian. Penelitian menunjukkan bahwa tiga gangguan ini semakin bertambah sepanjang abad ke-20 dan muncul pada awal kehidupan, mungkin sebagai akibat dari semakin menurunnya usia puber. Di antara faktor resiko fisik adalah penyakit kronis dan cacat tubuh. Selain itu telah tampak bahwa faktor jangka pendek juga berperan di dalam probabilitas bunuh diri, seperti penggambaran bunuh diri di media massa dan adanya perilaku yang cenderung ke arah bunuh diri di antara kelompok teman seseorang, seperti komunitas sekolah, di mana sebuah tindakan bunuh diri dapat memicu epidemi tindakan tersebut. Berdasarkan fakta bahwa banyak cara untuk bunuh diri atau parasuicide dan bahwa tindakan ini adalah perilaku yang mengandung beragam faktor, maka pencegahannya juga harus melibatkan banyak faktor. Namun Usaha pencegahan dan intervensi selalu saja hanya menyentuh saru aspek atau hanya memfokuskan pada satu kategori atau faktor. Akibatnya, masih ada kekurangan bukti empiris berkenaan dengan dampak dari program pencegahan dan proyek-proyek mortalitas bunuh diri dan insiden parasuicide pada tingkat dan bahkan pada tingkat klinis.

Incoming search terms:

  • pengertian bunuh diri
  • arti suicide
  • definisi bunuh diri
  • bunuh diri adalah
  • arti suicidal
  • pengertian suicide
  • arti bunuh diri
  • suicide artinya
  • makalah bunuh diri
  • MAKALAH Tentang Bunuh Diri

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian bunuh diri
  • arti suicide
  • definisi bunuh diri
  • bunuh diri adalah
  • arti suicidal
  • pengertian suicide
  • arti bunuh diri
  • suicide artinya
  • makalah bunuh diri
  • MAKALAH Tentang Bunuh Diri