Revolusi Industri abad ke-18.

Pengertian capitalism (kapitalisme) adalah Tipe ekonomi dan masyarakat yang, dalam bentuk pengem­bangannya, muncul dari Revolusi Industri abad ke-18 di Eropa Barat. Kapitalisme kemudian dikonseptualisasikan secara be­ragam oleh para ekonom, sejarawan, dan sosiolog (istilah itu sendiri baru dipakai secara luas pada akhir abad ke-19, teruta­ma oleh pemikir Marxis). Marx (Capital, 1867, vol. 1) mendefinisikannya sebagai “masyarakat yang memproduksi komodi­tas” di mana alat-alat produksi utama di­miliki oleh kelas khusus, BOURGEOISIE, dan tenaga buruh juga menjadi komoditas yang dibeli dan dijual. Konsep ini dielaborasi dalam kerangka teori historis Marx—”in­terpretasi ekonominya”—dan kapitalisme dianggap sebagai tahap paling baru dalam proses panjang evolusi mode produksi ma­nusia dan bentuk masyarakat. Menurut Marx, ciri khasnya adalah kapasitas untuk mengembangkan diri melalui akumulasi (sentralisasi dan konsentrasi kapital) tan-pa henti, revolusionisasi metode produksi (yang amat ditekankan dalam Communist Manifesto), keterkaitannya dengan kema­juan sains dan teknologi sebagai kekuatan produksi utama, karakter siklis dari proses perkembangannya, dan juga konflik yang makin meningkat antara dua kelas utama (lihat CLASS)-borjuis dan proletar (lihatWORKING CLASS).

Kebebasan pasar.

Teori Marxis sangat memengaruhi studi-studi selanjutnya. Max Weber, meski menolak teori Marx secara keseluruhan dan menyusun model atau “tipe ideal” kapitalisme sendiri, juga memasukkan ele­men penting yang diambil dari pemikiran Marx. Secara khusus dia menyebut di antara kondisi dasar ekonomi kapitalis adalah “pengakuan semua alat-alat pro­duksi fisik sebagai properti milik per­usahaan individual” dan eksistensi “tena­ga kerja bebas,” yakni orang “yang bukan hanya memiliki posisi legal, tetapi juga secara ekonomi terpaksa menjual tenaga­nya di pasar tanpa restriksi.” Pada saat yang sama dia memperkenalkan elemen lain; “metode usaha” sebagai karakteristik dasar, juga “kebebasan pasar,” “penghi­tungan kapital yang rasional,” “teknologi rasional … yang mengimplikasikan me­kanisasi,” “hukum yang dapat dikalku­lasikan,” dan “komersialisasi kehidupan ekonomi” (1923, h. 207-9). Tetapi, perhatian Weber sebagai se­orang sejarawan adalah lebih pada per­soalan asal usul kapitalisme, yang dijelas­kannya dengan kerangka sosiologi dan ekonomi—pengaruh etika religius baru (Weber, 1904-5), pertumbuhan kota, dan formasi “kelas warga nasional” di negara­bangsa modern (Weber, 1923, h. 249)­dan bukan pada ciri dinamis dari kapital­isme dan perkembangannya, yang, menjadi sasaran kajian pemikir Marxis dan juga Schumpeter. Schumpeter banyak menulis penjelasan teori perkembangan ekonomi (Schumpeter, 1911), menganalisis fluktuasi perekonomian kapitalis dalam siklus bis­nis (1939), dan mengkaji tendensi dalam perkembangan kapitalisme yang dianggap­nya akan digantikan oleh SOCIALISM (1942). Dalam buku pertama dari buku-buku ini dia menekankan peran entrepreneur (“.wi­raswasta”), sebagai inovator yang terus­menerus menggerakkan perekonomian ke arah baru di tengah-tengah gejolak proses perubahan dan ekspansi. Buku kedua me­nganalisis secara detail fase-fase pertum­buhan ekonomi dan resesi dalam proses pertumbuhan, memberi penekanan pada LONG WAVES dengan durasi kira-kira 50 ta­hun. Terakhir, dalam mendiskusikan kapi­talisme dan sosialisme dia menisbahkan arti penting fundamental pada SOCIALIZA­TION OF ‘I’I IE ECONOMY, di mana perusahaan besar mendominasi sistem ekonomi dalam periode kapitalisme “trustified” baru yang dipertentangkannya dengan kapitalisme “kompetitif” sebelumnya.

Argumen Austro-Marxis.

Banyak argumen Schumpeter sangat dekat dengan argumen teoretisi Marxis yang belakangan, dan khususnya argumen Austro-Marxis (lihat AUSTRO-MARXISM), yang juga membedakan fase baru kapi­talisme yang telah muncul dengan jelas di awal abad ke-20, yang dicirikan oleh for­masi trust dan cartel, proteksionisme, dan ekspansi imperialis (lihat IMPERIALISM). Pada saat yang sama, mereka menekankan peran dari perbankan dalam pembentukan korportasi besar dan kartel 1910) dan konsepsi ini juga dimasukkan, meski dalam bentuk yang lebih sempit, ke dalam definisi kapitalisme Schumpeter (1946) sebagai sistem yang bukan hanya melibatkan kepemilikan privat atas alat­alat produksi dan produksi untuk profit privat, tetapi juga penyediaan kredit per­bankan sebagai ciri utamanya. Namun Austro-Marxis, terutama Hilferding (Bot­tomore, 1985, h. 66-7) lalu membedakan tahap “kapitalisme teroganisir” pasca Per­ang Dunia I, yang dicirikan oleh pertumbu­han korporasi besar, intervensi negara yang makin besar dalam perekonomian serta munculnya “perencanaan parsial.”

Pada periode pascaperang. Pengertian capitalism (kapitalisme) adalah

Konsep ini penting untuk menganali­sis perkembangan kapitalisme sejak 1945. Pada periode pascaperang, struktur ma­syarakat kapitalisme berubah lagi secara signifikan, dengan pertumbuhan perusa­haan raksasa yang beroperasi di tingkat transnasional, tetapi negara juga masih banyak terlibat dalam perekonomian (ter­utama di Eropa Barat) melalui perluasan layanan kesej ahteraan, kepemilikan pu­blik atas beberapa sektor ekonomi, dan peran perencanaan ekonomi dan sosial yang makin maju, sehingga pengeluaran mencapai 40 persen dari gross domestic product (GDP), atau bahkan lebih tinggi di beberapa negara. Tipe kapitalisme baru ini dikonseptualisasikan oleh Marxis-Leni­nis ortodoks sebagai MONOPOLY CAPITALISM, dan kemudian sebagai “monopoli kapital­isme negara.” Namun diskusi Hilferding tentang “kapitalisme” terorganisir” tetap lebih mencerahkan dan punya kaitan bu­kan hanya dengan gagasan Schumpeter tentang “rumah singgah” di antara kapi­talisme dan sosialisme, tetapi juga dengan analisis terbaru dari beberapa teoretisi so­sial Barat, yakni analisis tentang kapital­isme kesejahteraan, ekonomi campuran, ekonomi pasar sosial, dan CORPORATISM. Kontribusi utama untuk konsep kapital­isme kesejahteraan (welfare capitalism) diberikan oleh Keynes (1936) yang, meski tidak menganalisis sistem kapitalis secara keseluruhan, menolak pandangan ekonomi neoklasik bahwa kapitalisme, melalui ope­rasi mekanisme MARKET (pasar), cender­ung secara spontan mengarah ke ekuilibri­um dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Sebaliknya, dalam tulisannya selama era depresi 1930-an, dia mengatakan bahwa kebijakan spesifik pemerintah di berbagai bidang—pajak, suplai uang, suku bunga, pekerjaan publik, defisit anggaran—adalah penting untuk mencapai kondisi full em­ployment dan pertumbuhan ekonomi. Karya Keynes dan pengikutnya, karena itu, mendorong agar pemerintah melaku­kan intervensi, atau perencanaan ekonomi dalam pengertian yang luas, dan karya mereka berpengaruh signifikan terhadap pembuatan kebijakan ekonomi sepanjang tiga dekade pascaperang. Pengertian capitalism (kapitalisme) adalah

Ekonomi berbasis penge­tahuan.

Perubahan ekonomi diiringi dengan perubahan sosial penting, terutama dalam struktur pekerjaan (occupational) dan ke­las, dengan menurunnya manufaktur tra­disional, berkembangnya pekerjaan kan­toran, teknis, dan jasa, dan pergeseran umum ke arah ekonomi berbasis penge­tahuan di mana teknologi informasi me­mainkan peran yang makin penting (lihat INFORMATION TECHNOLOGY AND THEORY). Satu perubahan signifikan dalam sikap so­sial juga terjadi, yang tampak jelas dalam komitmen terhadap kebijakan sosial ne­gara kesejahteraan dan pada kepemilikan publik di bidang layanan infrastruktur dasar, walaupun dalam hal ini ada perbc­daan besar antarnegara. Akan tetapi, persinggahan ini, atau kapitalisme kesej ahteraan, tampaknya tidak memiliki stabilitas jangka panjang seperti dikira oleh teoretisi sosial pada 1960-an dan 1970-an. Pertama-tama, per­ekonomian masih bersifat sangat kapitalis dan karenanya rawan terhadap fluktuasi siklus bisnis, walaupun ada kebijakan anti-siklus, seperti terlihat pada resesi di per-tengahan 1970-an dan, setelah sedikit pemulihan, resesi yang lebih parah pada 1980-an. Tingkat pertumbuhan rendah, angka pengangguran yang tinggi, dan ber­tambahnya populasi tua, menciptakan pro­blem fiskal bagi negara kesejahteraan, dan juga menambah ketegangan sosial. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi, dalam beberapa aspek utamanya, makin dipertanyakan efeknya terhadap lingkung­an global, dan ini menimbulkan diskusi tentang “ekonomi alternatif”.

Kultur ketergantungan. Pengertian capitalism (kapitalisme) adalah

Salah satu respons terhadap problem yang dihadapi oleh kapitalisme kesejahte­raan adalah bangkitnya kembali ekonomi neoklasik versi Austria (lihat AUSTRIAN-ECONOMICS). Dari sudut pandang ini negara kesejahteraan dikritik karena menciptakan “kultur ketergantungan” yang bertenta­ngan dengan “kultur wiraswasta”, dan pandangan ini kembali menekankan pada jenis kapitalisme laissez-faire dan sistem usaha bebas (lihat ENTREPRENEURSHIP). Di beberapa negara, termasuk bekas negara komunis di Eropa Timur, ide-ide semacam ini diterjemahkan ke dalam kebijakan pri­vatisasi oleh pemerintah atas perusahaan milik publik, pengurangan perencanaan dan regulasi, dan sebisa mungkin mereduk­si pengeluaran untuk pelayanan publik. Perkembangan masa depan kapital­isme masih belum pasti. Selama menggu­nakan kebijakan neoklasik, pertumbuh­an ekonomi tampaknya akan tergantung pada peralihan-peralihan dalam gelom­bang panjang (long wave) dan ini, jika kita mengikuti analisis Schumpeter, mem­butuhkan banyak inovasi seperti yang dihasilkan dalam “pembuatan kereta api” dan “motorisasi” di masa lalu, atau “kom­puterisasi” dunia kontemporer. Tetapi, ada sedikit indikasi adanya peluang usaha baru itu, dan juga ada keterbatasan akibat mun­culnya keprihatinan lingkungan dan prob­lem yang muncul dari pergeseran kekuatan ekonomi dari AS ke Jepang dan Komunitas Eropa (yang secara ekonomi dipimpin oleh Jerman), dan dari persaingan antara ketiga pusat ekonomi ini. Lebih jauh, kesuksesan jangka panjang kapitalisme dalam mem­promosikan pertumbuhan ekonomi me­ngandung sisi gelap pula, yakni ketidaksta­bilan, ketidakadilan sosial, pengangguran dan kemiskinan, sehingga sebagai sebuah sistem sosial, bukan sekadar sistem ekono­mi, kapitalisme terus-menerus dikritik oleh para pemikir dan gerakan sosial yang men­dukung tipe masyarakat alternatif. Dalam konteks ini perlu diingat bah­wa periode paling sukses dari perkem­bangan ekonomi kapitalis, pada 1950-an dan 1960-an, diasosiasikan dengan eks­pansi besar-besaran dalam aktivitas eko­nomi negara, yang di banyak negara meli­batkan perluasan kepemilikan publik dan perencanaan ekonomi yang didesain un­tuk mengurangi dampak buruk—baik itu dampak sosial maupun ekonomi—dari perekonomian pasar bebas dan usaha be-bas yang tidak sempurna ini. Pengalaman resesi pada 1990-an, karenanya, mungkin akan menyebabkan ditinggalkannya kebi­jakan ekonomi dan sosial yang diasosiasi­kan dengan aliran NEW RIGHT, dan mela­hirkan kebijakan yang lebih intervensionis. Dalam pengertian tersebut, oposisi antara kapitalisme dan sosialisme yang menjadi titik utama pertarungan ideologi dan poli­tik sepanjang abad ke-20 tampaknya ma­sih akan ada. Tetapi perseteruan ini akan berada dalam situasi baru, yang lebih kom­pleks, di mana prinsip dan elemen dasar dari sistem sosial dan ekonomi alternatif akan lebih sulit untuk ditentukan secara tepat; dan setiap gerakan ke arah masyara­kat alternatif tampaknya akan melibatkan modifikasi gradual atas kapitalisme, bukan perubahan yang mendadak.

Filed under : Bikers Pintar,