Perekat alam semesta.

Pengertian causality (kausalitas) adalah Menurut Hume, kausalitas adalah “perekat alam semesta”, relasi yang menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lain, dan melaluinya satu kejadian menimbulkan kejadian lain. Ini adalah gagasan yang memainkan peran sentral dalam penjelasan kita tentang du­nia di sekitar kita (lihat EXPLANATION), mi­salnya ketika kita menjawab pertanyaan “mengapa” dengan kalimat yang diawali “karena” yang menyebutkan penyebab di balik kejadian yang akan dijelaskan. Akan tetapi, konsep kausalitas ter­bukti sulit untuk dianalisis. Problemnya adalah bagaimana memahami “perekat” yang membuat sebab bisa menimbulkan akibat, hal-hal yang harus ada agar efek muncul dari sebab. Penjelasan modern biasanya dimulai dengan analisis empiris I lume (EMPIRICISM adalah pandangan bahwa semua pengetahuan harus didasar­kan pada pengalaman).

Kausalitas sebagai keniscayaan. Pengertian causality (kausalitas) adalah

Menurut Hums, koneksi kausal bukan keniscayaan dalam pengertian relasi logis, sebab, berdasarkan empirisismenya, deskripsi satu kejadian ti­dak membutuhkan (secara logis) deskripsi terjadinya peristiwa lain. Relasi yang eksis di dunia juga tidak membutuhkan penjelas­an hubungan efek dengan penyebabnya, atau kita tidak dapat punya pengetahuan tentang itu, sebab kita tidak punya peng­alaman apa pun yang berkaitan dengan ikatan antara satu kejadian (sebab) dan kejadian lain (efeknya), karena kita hanya mengalami salah satu dari keduanya. Kon­sekuensinya, menurut Hume, meski kita mungkin melalui kebiasaan akan meman­dang kausalitas sebagai keniscayaan, di dunia, koneksi kausal tak lebih dari kon­jungsi konstan dari kejadian-kejadian yang berdekatan dan bertalian tetapi secara ma­terial dan logis bersifat independen. Setelah kini diketahui bahwa penyebab bisa terjadi di tempat yang berjauhan dan bahwa se­bab dan akibat dapat terjadi secara simul­tan, maka apa yang tersisa dalam pandan­gan Humean adalah bahwa kausalitas ada dalam regularitas yang mengekspresikan konjungsi konstan antar tipe-tipe kejadian. Semua kejadian kausal dipahami sebagai contoh dari regularitas tersebut. Gagasan konjungsi konstan dapat di­elaborasi dalam term kondisi yang diper­lukan (necessary condition) dan kondisi yang mencukupi (sufficient condition). (Ini adalah pengertian necessary yang berbeda dengan yang dijelaskan di atas.) Kondisi yang diperlukan untuk satu kejadian adalah kondisi yang selalu terjadi setiap kali suatu peristiwa terjadi, sedangkan kondisi yang mencukupi adalah kondisi yang setiap kali kondisi itu terjadi, maka suatu peristiwa juga akan terjadi. Dengan ini kerumitan bisa dijelaskan: misalnya, bahwa sebuah efek mungkin terkait dengan konjungsi se­bab atau dengan penyebab yang berbeda yang independen, dan mungkin terjadi hanya jika penyebab tertentu absen. Kom­plikasi ini dipadukan dalam konjungsi dari bentuk “semua LMN atau PQR atau STW diikuti oleh kejadian E,” di mana N melambangkan ketiadaan kondisi tipe N dan huruf-huruf lainnya merepresentasikan kondisi “inus” untuk E, yakni bagian yang tidak mencukup tetapi non-redundan dari suatu kondisi bersama (misalnya, LMN) yang dalam dirinya sendiri tidak diperlu­kan tetapi mencukup untuk menghasilkan E (Mackie, 1965). Contohnya adalah teori revolusi yang mengombinasikan ide-ide dari Marxisme dan dari teori deprivasi relatif yang menyatakan bahwa aktivitas revolusioner (E) berasal dari kejadian po­larisasi masyarakat kapitalis menjadi dua kelas, borjuis dan proletar (L), kemiskinan proletariat (M), dan ketiadaan kesadaran semu proletarian (N) atau terjadinya pem­bagian masyarakat menjadi hierarki ke­lompok (P), konformitas anggota dari satu kelompok kepada norma dari kelompok lain, rute mobilitas dari kelompok rendah ke kelompok yang lebih tinggi (R). Teori revolusi lain dapat ditambahkan sebagai seperangkat kondisi inus tambahan (mi­salnya, STW).

Generalisasi aksidental.

Bahkan versi rumit dari penjelasan Hu-mean ini memiliki problem yakni, seperti versi sederhananya, is tidak membedakan regularitas kausal dari apa yang oleh filsuf disebut generalisasi aksidental (terjadinya peristiwa secara kebetulan), dengan apa yang disebut peneliti sosial sebagai relasi ko-simptomatik atau relasi semu. Contoh generalisasi aksidental adalah siang yang hadir setelah malam, dan contoh relasi semua adalah biaya kerusakan yang me­ningkat sebanding dengan jumlah petugas pemadam kebakaran yang mengatasi api, yang merupakan konjungsi konstan namun tanpa ada ikatan kausalitas yang meng­hubungkan kejadian anteseden dengan konsekuensinya. Kubu Humean berusaha memecahkan persoalan ini dengan me­nambahkan kriteria logika atau epistemik untuk membedakan hukum kausal dengan generalisasi aksidental. Tetapi, para peng­kritik berpendapat upaya itu sia-sia. Kesu­litan dalam menghasilkan analisis kausali­tas Humean yang mernadai telah membuat beberapa filsuf empiris menyatakan bahwa kausalitas tidak punya tempat di sains yang telah matang (Russell, 1917). Analisis kausalitas  non-Humean melampaui batasan empirisme. Salah satu yang paling menarik, yakni pandangan realis, berpendapat bahwa keniscayaan yang menjadi karakteristik kausalitas adalah keniscayaan fisik (lihat Realisme). Sebab dan akibat tidak independen, seperti dikatakan Humean, tetapi terkait secara intrinsik. Penyebab memiliki kekuatan un­tuk melahirkan efek, dan ada relasi riil di antara keduanya, sebuah mekanisme gene­ratif yang secara fisik menghubungkan se­bab dengan akibat, meskipun hubungan ini sering kali berada di luar pengalaman kita. Menurut pandangan ini, konjungsi konstan mungkin merupakan bukti adanya koneksi kausal, tetapi tidak mengurangi makna­nya, yang berasal dari mekanisme natural yang menghubungkan sebab dan akibat. Koneksi sebab riil memang mungkin tidak tampak sebagai regularitas, sebab penye­bab lawannya dapat mengintervensi antara operasi dari suatu sebab dan kemunculan efeknya. Misalnya, menekan tombol saklar lampu mungkin tidak menyebabkan rua­ngan menjadi terang jika bolam lampunya rusak dan karenanya tidak memancarkan sinar. Tidak terjadinya hubungan kausal ini—tidak adanya konjungsi konstan—bu­kan berarti tidak ada hubungan kausal riil antara menekan saklar dengan lampu menyala yang disebabkan oleh aliran lis­trik. Kesulitan dalam pandangan realis ini adalah bahwa dengan menyatakan ada mekanisme dan kekuatan tak terlihat yang berada di luar kontrol pengalaman epis­temik, maka restriksi apa yang terdapat pada mekanisme itu yang dapat dijadikan penjelasan kausal? Jika virus bisa diakui sebagai mekanisme itu, lalu mengapa setan atau santet tidak?

Analisis kausalitas. Pengertian causality (kausalitas) adalah

Karena ada problem dalam semua analisis kausalitas, beberapa kalangan berpendapat bahwa kausalitas tidak dapat dianalisis sama sekali (Anscombe, 1971) dan tidak perlu dipahami dalam term gagasan lain. Bahkan seandainya kita bisa mendapatkan analisis kausalitas dunia fisik yang memuaskan, masih ada pertanyaan tentang tempat analisis kausalitas dalam dunia biologi dan bahkan dalam dunia so­sial. Apakah penjelasan organ fungsional dan sel tubuh (atau institusi sosial atau tin­dakan sosial), yang ada di dalam seluruh organisme biologis (atau seluruh masyara­kat), dapat direduksi menjadi penjelasan kausal? Apakah penjelasan teleologic atas tindakan manusia, yang mengacu kepada niat manusia, dapat direduksi menjadi penjelasan kausal (mental, fisiologis atau fisik) berdasarkan setiap jenis interpretasi kausal? Yang lebih umum, apakah tinda­kan manusia ada penyebabnya, dan jika ya, apakah kehendak bebas adalah sebuah ilusi?

Filed under : Bikers Pintar,