Advertisement

CETIYA, dalam agama Budha, berarti tempat pemujaan atau tempat koleksi objek pemujaan, sehingga layak diterjemahkan sebagai altar. Secara etimologi, kata cetiya atau caitya (Sanskerta) berasal dari kata c/7/ berarti gundukan tanah atau tumpukan bata yang berkaitan dengan makam. Cetiya ada hubungannya dengan thupa (Sanskerta, sthupa) yang berbentuk gundukan dan berfungsi tempat peninggalan yang dikeramatkan Budha, Arahat, Bodhisatt’ a, atau makhluk suci lainnya. Stupa adalah sebutan Budha untuk tempat relik yang dihormati. Untuk menggam-barkannya, Budha menanggalkan jubahnya, kemudian dilipat empat persegi dan digelar di atas tanah. Di atasnya ditengkurapkan mangkuk sedekahnya dan di atas mangkuk didirikan tongkatnya.

Sejalan perkembangan agama Budha, istilah cetiya lebih religius, sedangkan stupa tetap pada arti semula. Berdasarkan pengertian ini, kegiatan pemujaan cetiya, selain pemujaan stupa, juga berarti mempersembahkan sajian atau pujian ke hadapan Budha atau makhluk suci lainnya. Dalam perkembangan agama Budha, kegiatan ini menduduki tempat penting berkaitan dengan upaya kebebasan penderitaan, khususnya bagi aliran Mahasanghika, cikal bakal kelompok ajaran Mahayana dengan salah satu subalirannya, Lokottaravada atau Caityaka, yang mementingkan pemujaan ini.

Advertisement

Pergeseran arti “kata ini diikuti perubahan bentuk cetiya atau stupa, terutama setelah dipakai di tempat berlainan. Sebutannya pun berbeda menurut tempatnya. Namun, pertalian di antaranya tetap dapat diikuti dengan memperhatikan maksud, fungsi, makna atau konsepsi yang dibawakannya, perlambangan, serta bentuk fisiknya.

Di Tibet, sebutan bagi cetiya atau stupa adalah ch’orten, yang bermakna wadah untuk persembahan dengan berbagai ukuran dan perlambangan. Bentuknya lebih langsing daripada stupa yang umumnya lebih bulat. Ch’orten memiliki banyak tingkat dengan bangun berlainan yang masing-masing membawa perlambangan khusus. Cetiya paling rumit bentuknya dan dikenal dunia adalah Borobudur. Di dalamnya dijumpai berbagai bentuk dan ukuran stupa. Borobudur bersama cetiya di Mendut dan Pawon menbentuk tiga serangkai.

Akhir-akhir ini di Indonesia, istilah cetiya sering dipakai untuk menyebut tempat ibadah agama Budha yang dikontraskan terhadap vihara. Perbandingannya pada kepemilikan, besar-kecilnya tempat, ragam fungsi tempat, serta pengunjung tempat ibadah tersebut. Cetiya biasanya dianggap di bawah vihara. Tetapi penggunaan istilah Mahacetiya (cetiya besar) pada beberapa tempat ibadah dan pemakaian cetiya bagi tempat ibadah yang setaraf atau lebih besar daripada vihara biasa, Berkaitan dengan pengindonesiaan nama tempat-ibadah, sebutan cetiya atau vihara adalah alternative pengganti yang banyak dipakai. Penerapan ini dengan mengabaikan asal-usul arti dan fungsi tempat ibadah itu sebelumnya, sebab kebanyakan tempat ibadan inj dibawa ke Indonesia oleh perantau Cina yang umumnya umat awam yang kurang memperdulikan kemurnian ajaran selama apa yang dianut mampu memberi berkah.

Incoming search terms:

  • pengertian cetiya
  • cetiya
  • fungsi caitya dari stupa
  • arti cetiya
  • Fungsi chaitya
  • perbedaan cetiya dan vihara
  • fungsi caitya
  • apa itu caitya
  • tempat ibadah cetiya
  • arti dari cetya

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian cetiya
  • cetiya
  • fungsi caitya dari stupa
  • arti cetiya
  • Fungsi chaitya
  • perbedaan cetiya dan vihara
  • fungsi caitya
  • apa itu caitya
  • tempat ibadah cetiya
  • arti dari cetya