PENGERTIAN CHIEFDOM – Tahap evolusi utama berikutnya di luar tahap masyarakat politik suku ialah chiefdom, yakni suatu bentuk organisasi politik yang sangat berbeda dari pemerintahan suku dalam berbagai hal yang mendasar. Chiefdom paling khusus dapat dijumpai di kalangan masyarakat-masyarakat hortikultura dan peternak (pastoral). Apa yang secara khusus memisahkan chiefdom dari suku ialah bahwa chiefdom mencapai suatu unifikasi politik dan sentralisasi, yang jelas tidak ada di dalam masyarakat suku. Chiefdom ditandai oleh integrasi banyak desa yang terpisah-pisah menjadi suatu keseluruhan kompleks, terkoordinasi secara sentral, dan diperintah dari atas ke bawah. Marshall Sahlins (1983) sekali lagi mengemukakan suatu uraian klasik.

Analisis Sahlins mengenai bentuk masyarakat politik ini didasarkan pada Chiefdom klasik Polinesia yang telah ada sebelum berkontak dengan orang-orang Eropa pada akhir abad ke-18 (cf. Kirch, 1984). Contoh paling maju dari chiefdom di Polinesia dapat dijumpai di kepulauan Tonga, Tahiti, dan Hawaii. Di sini terdapat kedaulatan yang mencakup puluhan ribu orang yang tersebar di daerah-daerah sampai sejauh ratusan mil persegi. Chiefdom Polinesia klasik itu adalah suatu susunan piramidal para pemimpin, dari yang tinggi hingga yang rendah. Penghulu-penghulu itu adalah pemangku-pemangku jabatan dan gelar yang resmi, dan mempunyai wewenang atas kelompok-kelompok pengikut yang sudah tetap. Wewenang (authority) ada di dalam kedudukan itu sendiri, dan tidak semata-mata pada orang yang memarigku kedudukan yang bersangkutan. Para pemimpin (chiel) memperoleh ekses ke kedudukan mereka itu melalui garis suksesi turun-temurun.

Para pemimpin chiefdom Polinesia mempunyai hak mengerahkan dan rnenghimpun tenaga kerja dan hasil pertanian di dalam wilayah kekuasaan mereka, sehingga memberi mereka pengaruh ekonomi yang besar atas banyak orang. Dengan menghimpun surplus ekonomi, mereka mendirikan dan rnengawasi tempat penyimpanan bahan makanan yang benar sehingga bisa membangun tempat-tempathiburanbagi rakyat dan para pemimpin chiefdom lain yang berkunjung, mensubsidi produksi pertukangan dan pekerjaan konstruksi teknik seperti sistem irigasi, mengorganisasi dan melancarkan kampanye militer. Meskipun sebagian dari penyimpanan itu didistribusikan kembali kepada rakyat, tapi sebagian besar digunakan untuk menopang suatu aparat administratif permanen yang dibentuk untuk melaksanakan berbagai fungsi politik. Aparat administratif seperti para pengawas toko-toko, juru bicara, juru upacara, pendeta tinggi, dan balatentara, didukung oleh surplus utama ini. Orang Basseri, terorganisasi secara politik sebagai suatu chiefdom. Pemimpin pusatnya adalah seorang masyarakat peternak (pastoral) yang diberi wewenang yang besar untuk memerintah orang lain. Seperti yang dicatat oleh Barth (1961), kekuasaan dianggap berasal dari dia, bukan didelegasikan kepadanya oleh para pengikutnya. Pemimpin tersebut memainkan peranan politik utama dalam menyelesaikan perselisihan yang tidak mampu diatasi secara informal oleh pihak-pihak yang berselisih. Dalam hubungan ini, Barth mengatakan bahwa chief (1961:71): Merupakan “pengadilan” satu-satunya dalam sistem suku. Si pemimpin tidak dibatasi oleh adat kebiasaan atau preseden dalam keputusannya kasus-kasus yang dibawa kehadapannya hanyalah yang tidak dapat ditengahi dalam kerangka tradisi, karena alasan-alasan subyek mereka, a tau oknum-oknum yang terlibat cukup eksplisit, ia diharapkan membuat keputusan yang dirasa “paling baik bagi suku” — ia diharapkan menialankan otoritas arbitrer hak istimewanya dalam suatu daerah bebas yang sangat luas, yang tak terhalang oleh pertimbangan keadilan individu seperti yang ditarik dari aturan-aturan. Hanya dalam perselisihan-perselisihan mengenai pembagian warisan ia membatasi kekuasaan otokratiknya —dalam kasus ini ia sering menyerahkan keputusan kepada seorang hakim agama dalam suatu persidangan komunitas. Jelaslahbahwa suatu gelombang evolusi yang signifikan akan memisahkan para pemimpin suku dari pemimpin chiefdom. Memang chiefdom menandai bermulanya pelembagaan kekuasaan dan otoritas politik dalam kehidupan sosial. Para pemimpin Polinesia (maupun chiefdom lainnya) telah mengembangkan kekuasaan pemerintahan sampai kepada titik di mana mereka tidak lagi bergantung kepada kepatuhan sukarela dari para pengikut mereka untuk membuat dan melaksanakan keputusan. Sebagaimana dikemukakan oleh Sahlins, para pengikut mereka sekarang bergantung kepada para pemimpin, suatu kebalikan pengaturan politik masyarakat suku. Awal yang sesungguhnya daripada kekuasaan dan otoritas muncul bersamaan dengan chiefdom karena disinilah tercipta mesin administrasi yang diperlukan untuk memaksa orang lain agar patuh. Para pemimpin chiefdom Polinesia bukan hanya dapat emberi perintah, tapi juga dapat mendukung,. Bila hal ini mungkin, maka kekuasaan murni telah menjadi kekuatan sosial yang signifikan. Namun terdapat batas-batas yang pasti dalam kekuasaan para pemirn pin chiefdom. Para pemimpin tetap berhubungan dengan orang biasa melalui ikatan-ikatan kekerabatan, dan mereka diharapkan untuk murah hati, berbuat kebajikan, dan melayani kepentingan umum. Orang-orang Basseri, misalnya, jelas telah mengantisipasi bahwa seorang pemimpin akan memperlihatkan kepada para pengikutnya pertimbangan yang paling baik. Misalnya ia akan bersikap penuh perhatian kepada anak buahnya dengan jalan memberikan hadiah-hadiah seperti senjat’a atau kuda kepada mereka yang paling berprestasi (Barth, 1961). Para pemimpin yang gagal memenuhi harapan-harapan itu seringkali harus berhadapan dengan pemberontakan, dan mungkin sekali akan berhasil menjatuhkannya. Dalam masyarakat Polinesia kuno, misalnya, seorang pemimpin yang “memakai kekuasaan sewenang-wenang” telah diturunkan dan dihukum mati (Sahlins 1963). Jadi, kendati chiefdom telah mampu untuk melembagakan kekuasaan otoritas murni, jelas masih terdapat pembatasan-pembatasan atas kemampuan memaksakan kehendak mereka. Karena tidak ada suatu monopoli kekerasan, dan ada keterikatan dengan rakyat melalui kekerabatan, dan harapan rakyat akan kemurahan hati pemimpin mereka, maka para pemimpin primitif sulit menjadi tiran yarig sesungguhnya.

Filed under : Bikers Pintar,