Karya kontemporer.

Pengertian classics of sociology (sosiologi klasik) adalah Is­tilah ini mengacu pada teks (atau penulis) yang menempati kedudukan terhormat dalam sosiologi sebagai pemberi kontri­busi teoretis vital pada, dan sebagai refe­rensi dasar bagi, disiplin sosiologi secara keseluruhan. Sosiologi klasik adalah teks yang mendapat status istimewa, yang ber­arti bahwa “praktisi kontemporer dalam disiplin ini percaya bahwa mereka bu­kan hanya dapat belajar banyak tentang bidang ini melalui pemahaman atas karya kontemporer tetapi juga dapat melalui karya-karya awal ini” (Alexander, 1989, h. 9). Tetapi apa hakikat teks klasik dan bagaimana teks klasik itu dipahami deng­an cara terbaik? Diskusi modern menge­nai pertanyaan ini terbagi menjadi empat pendekatan.

Le­gitimasi ilmiah. Pengertian classics of sociology (sosiologi klasik) adalah

Pertama, klasik dianggap telah melak­sanakan fungsi tertentu bagi sosiologi: memberi beberapa standarisasi kosa kata dalam disiplin yang makin terspesialisasi dan terfragmentasi ini; memberi pijakan dasar untuk dipakai sebagai patokan oleh para penerus; memberi metode, alat dan perspektif untuk riset sosial; memberi le­gitimasi ilmiah bagi ilmuwan sosial yang ambisius (seperti ketika mereka mengait­kan sosiologi klasik dengan karya mere­ka); dan memberi sosiolog pemahaman akan kontinuitas historis (Coser, 1981; Stinchcombe, 1982). Pendckatan kedua untuk teks klasik difokuskan pada properti Ich)ris dan cstetika. Teks klasik, dari sudut pandang ini, mendapatkan status mereka bukan karena argumennya benar tapi karena bahasanya menarik; melalui beragam teknik linguis­tik, teks klasik mampu “mengarahkan” audien ke arah tertentu, mengeksploitasi “peta mentalnya.” Investigasi terhadap teks klasik adalah studi tentang topi dan bahasa figuratif yang membuat disiplin ini memikat (Davis, 1986). Ketiga, studi teks klasik menimbulkan pertanyaan bagaimana cara memahami­nya dengan baik. Ada dua jawaban yang menonjol. Di satu pihak adalah mereka yang disebut “presentis” (misalnya Nisbet, 1966; Dawe, 1978), yang menekankan arti penting perenial dari teks klasik untuk pemikiran kontemporer. Arti penting ini dianggap terletak dalam kontribusi luar biasa mereka dalam menjelaskan tema, dilema dan problem yang meliputi kultur Barat. Di pihak lain adalah “historisis” (misalnya Peel, 1971; Jones, 1977), yang mengkritik karakter anakronistik dari analisis presentis; menegaskan pada per­lunya rekonstruksi konvensi atas teks dan debat yang diartikulasikannya; berusaha mengidentifikasi niat penulis yang meng­hasilkan teks itu; dan menunjukkan ada­nya “alternatif yang terlewatkan” (Camic, 1986) dalam sejarah pemikiran sosial. ­

Proses diskursif dan institusional. Pengertian classics of sociology (sosiologi klasik) adalah

Pendekatan keempat banyak memin­jam dari teori sastra. Pendekatan ini meng­kaji proses diskursif dan institusional yang melaluinya teks dan pengarang tertentu mendapatkan status klasik. Karya dalam genre ini berhubungan dengan pemetaan berbagai dimensi proses penerimaan: reso­nansi kultural (kemampuan sebuah buku atau esai untuk menarik perhatian me­lalui daya tarik atau kandungan kontro­versialnya); keluwesan tekstual (potensi teks untuk dibaca dengan banyak cara); penerimaan pembaca (kesediaan audien untuk menggunakan teks untuk melaku­kan proyek tertentu, atau mempolemik­kannya); dan transmisi dan difusi sosial (agen—kelompok, institusi, media—yang mempromosikan teks, memindahkannya ke level klasik) (Levine, et al., 1976; Bach!, 2001). Teks klasik juga ditcliti da la In lo )11 teks “koalisi pemikiran” yang berkonilik untuk memonopoli perhatian audien dan memerangi batasan yang dikenakan olch kekuatan dari sejumlah aliran pemikiran: fakta bahwa “sejumlah aliran pemikiran yang mereproduksi diri mereka selama lebih dari satu atau dua generasi dalam ko­munitas yang argumentatif hanya berjum­lah antara tiga sampai enam saja”. Terakhir, kita harus mencatat bahwa diskusi teks klasik sekarang ini sering kali dikaitkan dengan dua konsep: pendiri (mengacu kepada orang—misalnya Marx, Weber, Durkheim, dan Simmel) dan “kanon” (canon), sebuah istilah yang dipakai dengan nada mengejek oleh pi­hak yang mengklaim bahwa sosiologi se­cara historis adalah disiplin eksklusif yang memarginalkan atau mengabaikan suara perempuan dan minoritas.

Filed under : Bikers Pintar,