Advertisement

DADAISME
Aliran seni yang muncul dan berkembang di Zurich, Swis, pada tahun 1916. Aliran Dada berpendapat bahwa sudah saatnya seni dunia bersifat nihilistik, bersandar pada kekacauan dan kerusakan yang tampak pada kehidupan sehari-hari. Aliran ini berteori: apabila dunia ini selama 3000 tahun tidak bisa merencanakan perkembangan, maka tidak mungkin seorang seniman berpura-pura menemukan keteraturan dan arti dalam kekacauan ini. Teori dan sikap ultraradikal itu muncul setelah para seniman yang tergabung di dalamnya melihat rusaknya dunia akibat Perang Dunia I.

Aliran Dada dipelopori seorang penyair asal Rumania, Tristan Tzara, dan kemudian dikembangkan oleh seniman lain, seperti penyair Rumania, Marcel Janco, penulis Jerman, Hugo Ball dan Richard Huelsenbeck, serta senirupawan Perancis, Hans Arp. Mereka berkumpul di Cabaret Voltaire, Zurich, tempat yang akhirnya menjadi pos pergerakan. Mereka memilih Zurich, kota netral, karena kota-kota seni seperti Paris dan Muenchen mulai dilanda penyakit egoisme, sikap berkarya dan berpikir perorangan.

Advertisement

Karena karya-karya kaum Dada bertolak dari si¬kap nihilistik atas dunia sekitarnya yang dianggap kotor, yang lahir adalah karya aneh bersifat sinis Misalnya, karya seniman Raoul Haussman pada tahun 1919-1920 yang menggambarkan kepala manusia dari kayu dengan ubun-ubun ditusuki banyak paku dan aneka barang lain. Karya yang berjudul “Kepala yang Mekanistik” itu tampak sebagai karikatur yang menyindir eksistensi manusia pada masa itu. Marchel Duchamp mengangkat barang-barang dari keranjang sampah dan toko kelontong dan meletakkannya di alas patung. Bahkan ia menggunakan roda sepeda, pengering botol, tempat kencing sebagai karya seni. Pelukis Hans Arp membuat “lukisan “otomatis”, yakni lukisan yang digubah dengan tangan dan alat lukis semau-maunya, sehingga muncui coretan tak jelas. Penyair Tristan Tzara membuat sajak hanya dengan menggabungkan kata-kata yang ia dapat-kan. Bahkan ada pelukis yang membuat lukisan Monalisa Leonardo da Vinci dengan kumis melintang. Semua karya Dada bersifat sinis, sangat karikatural, dan memendam kritik terhadap rusaknya lingkungan akibat perang serta protes terhadap nilai-nilai sosial. Sifat karikatural juga muncul pada pemilihan nama perkumpulannya, yakni Dada. Nama Dada berasal dari kamus Jerman-Perancis yang artinya kuda-kudaan atau kuda mainan.

Pada tahun berdirinya, gerakan Dada mengobarkan ide-idenya dengan menerbitkan brosur “Cabaret Voltaire”. Pada tahun 1917 dibuka Galeri Dada yang mengusik kesadaran banyak seniman. Kemudian diterbitkan majalah Dada yang disusul penerbitan buku tentang Dada. Semua itu dikaitkan dengan aktivitas pameran kaum Dada yang ramai dan kacau di banyak kota Eropa. Pameran itu mencakup seni rupa apa saja, dari patung sampai seni grafis, lukis, dan poster.
Perkembangan aliran Dada sangat luas dan tersebar di Koeln, New York, Berlin, dengan seniman pendukung seperti Max Ernst, Kurt Schwitters, Theo van Doesburg, Francis Picabia. Pengikut Dada juga muncul di Hungaria, Yugoslavia, Italia, Spanyol, dan Tokyo.

Gerakan kaum Dada ini memang tidak terlalu lama aktif, tapi gaungnya terus terdengar. Tahun 1973, Dewan Kesenian Jakarta bersama Goethe Institut menyelenggarakan pameran Dadaisme di Taman Ismail Marzuki. Bahan pameran diambil dari Dokumentasi Internasional Gerakan Dada yang dikumpulkan dan dikomentari oleh Hans Richter, seniman Zurich yang pernah ikut gerakan Dada tahun 1916 sebagai pembuat film abstrak-poetis.

Di Indonesia, gerakan Dada sempat memberikan ilham atau pengaruh pada beberapa seniman. Misalnya, Kelompok Seni Rupa Baru, walau tak berkiblat pada konsep Dada, kadang kala menunjukkan kesamaan sikap dan wujud. Beberapa karya pengikut Seni Rupa Baru menunjukkan nihilisme, protes terhadap keadaan yang kacau lewat karya-karya yang juga kacau. Pada tahun 1975, dunia seni lukis yang sedang mapan diprotes lewat karya tiga dimensional berupa spanram kanvas yang berdarah dan diperban. Pada tahun 1980-an, di Yogyakarta sekelompok seniman menggelarkan happening art (seni kejadian) yang memprotes kekacauan lalu lintas darat. Bersepeda disepanjang Malioboro dengan sekujur tubuh dibalut perban penuh bercak darah.

Walau tak mutlak berpikiran seperti kaum Dada, geraian di Indonesia berpendapat bahwa pada saatnya estetika akan lenyap dari muka bumi, karena estetika itu dihasilkan oleh daya pikir, sementara dunia kini terbukti telah mengalami keadaan tanpa pikir.

Incoming search terms:

  • pengertian dadaisme
  • dadaisme
  • aliran dadaisme
  • dadaisme adalah
  • pengertian aliran dadaisme
  • lukisan dadaisme
  • definisi dadaisme
  • Arti dadaisme
  • Pengertian dadalisme
  • apa yang di maksud dadaisme

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian dadaisme
  • dadaisme
  • aliran dadaisme
  • dadaisme adalah
  • pengertian aliran dadaisme
  • lukisan dadaisme
  • definisi dadaisme
  • Arti dadaisme
  • Pengertian dadalisme
  • apa yang di maksud dadaisme