Social Darwinism (Darwinisme Sosial)

Darwinisme Sosial mengacu secara longgar pada berbagai aplikasi yaitu aplikasi ide-ide tentang evolusi biologis yang terkait (secara salah) dengan Darwin akhir abad 19 (yang kebanyakan diapli-kasikan secara salah) pada masyarakat-masyarakat manusia. Meski sering dikaitkan dengan konservatisme, kapitalisme laissez-faire, fasisme dan rasisme, Darwinisme Sosial pada kenyataannya adalah sebuah doktrin yang populer pada akhir abad 19 dan awal abad 20, terutama di Inggris dan Amerika Utara, dan pengaruhnya meliputi seluruh spektrum politik, termasuk, sebagai contoh, British Fabian Socialism.

Dua pendukung intelektualnya yang utama adalah filsuf Inggris Herbert Spencer (yang menemukan istilah ‘survival of the fittest’) dan William Graham Sumner, seorang profesor antropologi di Universitas Yale. Untuk Spencer (1864; 1873 – 85), kita berhutang analogi yang menyesatkan bahwa masyarakat adalah seperti organisme (dengan demikian istilah ‘organisme’ kadang- kadang digunakan untuk menggambarkan teori-teorinya). Seperti halnya sebuah organisme terdiri dari organ-organ dan sel yang interdependen, mayarakat manusia juga terbentuk dari lembaga-lembaga dan individu yang komplementer dan terspesialisasi, yang secara keseluruhan menjadi bagian dari keutuhan organik.

Spencer sendiri tidak pernah jelas tentang analoginya: ia mengklaim bahwa masyarakat ‘menyerupai organisme’ dan juga merupakan ‘organisme-super’. Pemikiran utamanya adalah bahwa keseluruhan (masyarakat-organisme) terdiri dari bagian-bagian yang interdependen, komplementer, dan memiliki fungsinya masing-masing. Dengan demikian ia juga dianggap sebagai salah satu bapak pendiri fungsionalisme sosiologis.

Konsep Sumner tentang mores’/adat-istiadat (istilah ciptaannya) dan penelitiannya tentang moralitas adalah sumbangannya yang bertahan hingga kini. Kaitan antara tulisannya dengan Darwinisme dipertanyakan. ‘Adat-istiadat yang buruk adalah yang tidak cocok dengan kondisi dan kebu-tuhan masyarakat pada suatu waktu Tabu merupakan moralitas atau sistem moral yang membatasi nafsu dan keinginan (passion dan appetite) dan memberangus kehendak’ dalam peradaban yang lebih tinggi, (Sumner 1906). Sumner menggunakan istilah seperti ‘evolusi’ dan ‘ fitness’ tetapi pernyataan moralistisnya dan penekanannya yang berulang-ulang pada ‘kebutuhan masyarakat’ adalah antitesis dari pemikiran Darwin. Spencer juga cenderung menyelipkan etika kedalam evolusi, melihat sebuah ‘tendensi inheren dari sesuatu untuk menjadi lebih baik’. Darwin melihat evolusi sebagai proses acak tanpa tujuan atau kecenderungan etis, dan seleksi alamiah sebagai mekanisme buta yang membedakan antar organisme individual berdasarkan keberhasilan reproduktif mereka yang berbeda- beda.

Tema utama Sumner yang lain adalah bahwa stateways tidak bisa mengubah folkways’, yang berarti bahwa tindakan negara tidak memiliki daya untuk mengubah adat istiadat. Tentu saja ha! ini membuatnya menjadi seorang rasul dari laissez-faire. Malahan, ia berjalan lebih jauh dengan mengatakan bahwa intervensi negara sangat tidak berguna, bahkan sangat berbahaya. Pernyataan ini barangkali menjadi inti dari doktrin yang diasosiasikan dengan Darwinisme Sosial, yaitu, bahwa tatanan sosial yang ada dengan segala ketimpangannya mencerminkan sebuah proses evolusi alamiah di mana ‘yang lebih kuat’ muncul ke permukaan dan ‘yang lemah’ tenggelam ke dasar. Segala upaya, melalui kesejahteraan sosial, sebagai contohnya, untuk mengurangi ketimpangan tersebut dipandang sebagai tindakan yang berbahaya karena tindakan ini akan memungkinkan pihak yang lemah ‘beranak-pinak seperti kelinci’. Bahkan Spencer, sebagai seorang puritan Victorian yang baik, meyakini bahwa kepandaian dan reproduksi terhubung secara terbalik. Produksi yang berlebihan dari sperma, menurutnya, pertama-tama akan mengakibatkan sakit kepala, kemudian mengalami kebodohan, kemudian ‘berakhir dengan kegilaan’ (Spencer 1852).

Sekali lagi, ide-ide ini sangat bersifat antitesis terhadap teori evolusi Darwin. Jika kelas bawah bereproduksi lebih cepat dari kelas yang lebih tinggi, hal ini berarti bahwa mereka lebih kuat, karena, dalam teori evolusi, tindakan yang utama dari bertahan hidup adalah keberhasilan reproduksi. Dengan mengatakan bahwa yang lemah berkembang biak seperti kelinci adalah hal yang kontradiktif.

Darwinisme Sosial pendeknya, adalah sebuah filsafat moral yang didiskreditkan yang hanya membawa kemiripan terminologi yang dibuat-buat terhadap teori evolusi Darwinian, dan hanya mewakili kepentingan di masa lalu.

Incoming search terms:

  • pengertian darwinisme
  • pengertian Darwinisme sosial
  • arti dari survival of the fittest
  • pengertian survival of the fittest

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian darwinisme
  • pengertian Darwinisme sosial
  • arti dari survival of the fittest
  • pengertian survival of the fittest