Advertisement

Dalam agama Budha, menunjuk kepada konsepsi sepuluh bhumi. Kata bhumi secara harfiah berarti bumi, tanah, atau dasar. Dalam kaitannya dengan agama Budha, istilah ini merujuk tahapan, tingkatan, atau karier bodhisattva, atau kata lain untuk tahapan perkembangan spiritual dalam mencapai Pengetahuan sempurna. Dalam kitab Mahayanasutralankara, istilah bhumi sering tertukar dengan vihara, sedangkan dalam Abhidhamma, istilah ini digunakan dalam pengertian jalan (magga).

Satu ciri perbedaan antara Mahayana dan Hinayana. Theravada atau Hinayana umumnya hanya mengenal empat tingkat perkembangan kesucian, yakni memasuki arus (sotapatti), kembali sekali lagi (sakadagami), tidak kembali lagi (anagami), dan arahat (arahat). Banyak naskah Sanskerta menyebutkan 10 tingkat pencapaian kebudhaan seperti yang diakui di kalangan Mahayana. Namun, kitab Lankavatara hanya menyebut tujuh bhumi. Kitab Bodhisattva-bhumi menyebut tujuh bhumi dan 12 vihara yang tercakup di dalamnya. Dalam kitab Avatamsaka dinyatakan 52 status yang harus dilalui bodhisattva untuk menjadi Budha dengan 10 bhumi yang menunjukkan tingkatan pencapaian.

Advertisement

Dalam perkembangannya, konsepsi 10 bhumi ini dibagi menjadi dua kelompok menurut perolehan Kebenarannya. Kelompok pertama terdiri atas enam bhumi pertama yang membimbing ke realisasi ketiadaan diri (pudgalasunyata), sebanding dengan empat tingkat kesucian Hinayana. Kelompok kedua terdiri atas empat bhumi terakhir yang membawa ke realisasi ketiadaan segala sesuatu (dharmasunyata), dan karenanya berada di luar jangkauan Hinayana. Dari sini dapat disimpulkan bahwa konsepsi bhumi dibangun oleh Hinayana maupun Mahayana, dan bahwa empat bhumi terakhir merupakan sumbangan nyata kaum Mahayana.

Dengan perkembangan ini orang dapat menyimpulkan bahwa konsepsi 10 bhumi ini sudah terbentuk pada awal perkembangan agama Budha. Dapat ditunjukkan bahwa konsepsi ini lahir sebelum Mahayana memisahkan diri menjadi aliran tersendiri. Kitab agama Budha yang paling awal menyebutkan konsepsi ini adalah Mahavastu, lalu kitab Prajnaparamita, dan konsepsi ini menjadi sempurna dengan munculnya Dasabhumika Sutra. Penamaan, jumlah, dan penjelasan setiap bhumi berbeda-beda pada setiap kitab itu. Tetapi, tampaknya ada dua pola yang dianut. Pola pertama terlihat jelas pada Dasabhumika Sutra berdasarkan 10 paramita, sedangkan pola kedua yang tampak pada kitab Bodhisattvabhumi berdasarkan sila, samadhi, dan prajna. Perbedaan ini tidak penting, karena seperti yang dinyatakan dalam Satasa- hasrika Prajnaparamita, hanya soal kesepakatan belaka.

Incoming search terms:

  • dasabhumi
  • Dasa bhumika bodhisattva

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • dasabhumi
  • Dasa bhumika bodhisattva