PENGERTIAN DASAR-DASAR MIKRO BAGI SOSIOLOGI MAKRO – Keterkaitan antara sosiologi mikro dan sosiologi makro akhir-akhir ini banyak menarik perhatian para sosiolog dari berbagai aliran. Untuk memahami keterkaitan tersebut, sebuah klarifikasi lebih lanjut tentang perbedaan antara kedua bentuk sosiologi ini sangat diperlukan.

Tidak setiap orang setuju secara pasti tentang bagaimana sosiologi mikro dan sosiologi makro harus dibedakan, dan harus diakui bahwa batas antara keduanya kadang-kadang agak kabur. Hemat saya, cara yang paling berguna dalam mengkonseptualisasikan bentuk-bentuk analisis sosiologis ini adalah cara yang ditawarkan Randall Collins (1988a). Collins menyatakan bahwa ada tiga faktor dasar yang fundamental bagi sosiologi: waktu, ruang dan jumlah. Di satu pihak, sosiolog dapat mengkaji perilaku sosial sejumlah kecil orang yang berkumpul dalam ruang yang kecil dan berada dalam jangka waktu yang singkat. Inilah yang dilakukan sosiolog mikro. Mereka biasanya mengkaji interaksi di antara sedikit orang (katakanlah antara dua sampai dua belas orang), dan orang-orang ini mungkin berinteraksi di dalam ruang yang tidak lebih luas dari beberapa puluh atau ratus kaki persegi dalam jangka waktu beberapa menit, jam atau hari saja. Sebaliknya, sosiolog makro mengkaji perilaku sosial di mana waktu, ruang dan jumlah orangnya, katakanlah, “terentang”. Mereka mengkaji interaksi antara ribuan, jutaan atau ratusan juta orang di dalam wilayah yang sangat luas (ratusan, ribuan atau jutaan mil persegi) dan dalam jangka waktu yang sangat panjang (berpuluh-puluh, beratus-ratus tahun atau berabad-abad).

Cara berpikir ini dengan cepat membebaskan kita dari pengertian yang salah bahwa sosiologi makro dan mikro nampaknya berkaitan dengan fenomena yang berbeda, sebagaimana yang dikira oleh banyak sosiolog. Bukan, ini bukan cara berpikir yang benar tentang perbedaan keduanya. Sosiologi-mikro dan makro sebenarnya berkaitan dengan sesuatu yang pada dasarnya sama: interaksi antar-individu yang telah terpolakan. Keduanya hanya menganalisis berbagai interaksi yang ada dari batasan waktu, ruang dan jumlah yang berbeda. Dengan demikian, perbedaan antara sosiologi mikro dan sosiologi makro hanyalah menyangkut perbedaan perspektif, dan bukan perbedaan masalah pokoknya.

Jika kita menerima argumen ini, maka berarti tidak ada dua rangkaian teori sosiologis yang benar-benar berbeda, satu untuk para sosiolog mikro dan yang lain untuk sosiolog makro. Namun, dalam kenyataannya inilah yang umum terjadi, dan alasannya ad a1ah karena kita terlambat menyadari artifisialitas pembedaan antara dua jenis sosiologi tersebut (banyak sosiolog yang tidak menyadari, atau sekurangnya tidak mengakuinya. cf. Collins, 1988a: Bab 11.) Selama berpuluh-puluh tahun sosiolog mikro dan makro mengoperasikan bangunan pengetahuan yang sama sekali berbeda, dan hanya baru-baru ini sebagian sosiolog berusaha melihat apakah teori-teori ini dapat disatukan menjadi modelmodel yang lebih sederhana dan komprehensif. Posisi saya sendiri adalah bahwa integrasi teoritis ini dapat, dan harus, dilakukan. Posisi ini dapat dinyatakan dengan menyatakan bahwa sosiologi makro harus mempunyai dasar-dasar mikro. Dengan pernyataan ini tidak berarti teori-teori sosiologi mikro memadai untuk menjelaskan perilaku yang menjadi perhatian sosiolog makro. Para sosiolog makro selalu, paling tidak dalam kadar tertentu, memiliki prinsip-prinsip teoritisnya sendiri yang tidak dapat direduksi ke dalam prinsip-prinsip sosiologi mikro. Yang dimaksud adalah bahwa perilaku yang muncul dalam masyarakat yang menyeluruh atau dalam berbagai jaringan masyarakat dunia secara teoritis tidak dapat dilepaskan dari perilaku sejumlah kecil orang selama beberapa jam atau hari. Tindakan sosial dalam skala besar harus dapat diinterpretasikan dalam kaitannya dengan motif dan kepentingan orang-orang ketika ia hadir dalam kehidupan sehari-hari. Mengikuti Collins (1981a, 1981b, 1988a), kita dapat menyebutnya translasi mikro bagi sosiologi makro.

Strategi-strategi teoritis jenis apakah yang tersedia sehingga me-mungkinkan kita melakukan translasi mikro? Pada saat ini, teori sosiologi mikro yang paling penting adalah interaksionisme simbolik, etnometodologi, dan teori pilihan rasional. Dua teori yang pertama sangat serupa satu sama lainnya. Interaksionisme Simbolik pada mulanya adalah pendekatan sosiologi Amerika pada awal abad ini dan tetap merupakan perspektif yang berpengaruh hingga kini. Teori ini menekankan kepada kemampuan individu untuk berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol dan memaksakan definisi-definisi realitas subyektif mereka sendiri terhadap situasi sosial yang mereka hadapi. Seorang penganut interaksionisme simbolik pada masa awalnya, William Isaac Thomas, menciptakan istilah definisi situasi, yang dia jelaskan dengan kalimat “Jika orang-orang mendefinisikan situasi tertentu sebagai situasi riel, maka situasi itu akan menjadi riel”. Thomas menekankan bahwa definisi subyektif orang-orang tentang realitas dapat begitu kuat sehingga ia akan melahirkan konsekuensi-konsekuensi obyektif yang sesuai dengan definisi subyektif tersebut, terlepas dari apakah definisi tersebut pada awalnya benar secara obyektif. Dua penganut interaksionisme simbolik kontemporer adalah Herbert Blumer dan Howard Becker. Blumer (1969) mengambil posisi yang agak ekstrim yang m enekankan kemampuan individu yang hampir tak terbatas untuk mendefinisikan situasi dengan cara mereka sendiri dan bertindak sesuai dengan definisi situasi yang mereka buat. Becker mengambil posisi yang kurang ekstrim, tetapi dia juga menjadikan definisi sosial atas realitas sebagai linchpin untuk posisi teoritisnya. Sebagai contoh, dia menulis sebuah esei terkenal (1963) di mana dia menyatakan bahwa pengalaman mengisap mariyuana sedikit banyak berhubungan dengan definisi sosial sekitar efek obat terhadap konsekuensi-konsekuensi psikologis aktualnya terhadap tubuh. Untuk dapat merasakan efek mengisap mariyuarta sebagai sesuatu yang mendatangkan kenikmatan, tegas Becker, orang harus menjadi bagian dari kelompok orang yang mendefinisikannya sebagai sesuatu yang menyenangkan. Kalau tidak, efeknya bisa sangat berbeda.

Filed under : Bikers Pintar,