Advertisement

PENGERTIAN DE LOCOMOTIEF – Satu-satunya surat kabar Belanda di Indonesia pada masa pemerintahan Hindia j Eelanda yang selama setengah abad bersikap konsisten dalam kebijaksanaannya mendukung politik etis. Gerakan politik etis, yang berkembang pada awal abad ke-20, menekankan tanggung jawab dan kewa­jiban moral pemerintah untuk memajukan dan me­makmurkan rakyat daerah jajahan, dengan tujuan akhir menuju pemerintahan sendiri. Surat kabar, yang besar pengaruhnya terhadap pembaruan politik kolonial, ini terbit di Semarang, kota ketiga yang penting bagi kelahiran dan perkembangan pers Belanda di Indonesia sesudah Jakarta dan Surabaya.

Surat kabar yang mula-mula bernama Het Semarangsch Nieuws en Advertentieblad ini didirikan cieh F.J. Groot dan mulai terbit pada bulan Maret  1852, tahun yang sama dengan terbitnya Java Bode di I Batavia (Jakarta). Waktu itu di Semarang sudah ada I dua koran berbahasa Belanda lainnya, yaitu Semarangsch Advertentieblad yang didirikan pada tahun 1845 dan D e Semarangsch Courant. Het Semarangsch Nieuws- en Advertentieblad merupakan surat kabar pertama di Hindia Belanda yang mempu­nyai lampiran dalam bahasa lain seperti Jawa, Arab, dan Cina yang dicetak dengan aksara bahasa-bahasa tersebut. Tetapi lampiran itu tidak berumur lama ka­rena kemudian dihapuskan.

Advertisement

Pada tahun 1863, namanya diubah menjadi De Locomotief untuk memperingati pembukaan jalur kereta | api Semarang-Yogyakarta pertama, yang dikelola oleh Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) atau Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda. Koran ini mula-mula terbit seminggu sekali, tetapi ti­dak lama kemudian sudah dapat terbit dua kali dalam seminggu, dan akhirnya menjadi harian sejak tahun 1870.

Mengikuti arah gejala bermunculannya banyak pe­nerbitan pers baru di Pulau Jawa, berupa surat kabar serta majalah mingguan dan bulanan, juga di Sema­rang diterbitkan beberapa surat kabar baru pada awal tahun 1870-an. Tetapi penerbitan-penerbitan itu tidak dapat menyaingi De Locomotief, bahkan akhirnya di­beli oleh surat kabar ini. Dalam waktu 15 tahun sejak koran itu mulai terbit pemilikannya dua kali berpin­dah tangan, tetapi oplahnya terus menanjak.

Sebagai pembawa suara politik etis, surat kabar ini terutama mendapat dukungan para pengusaha impor. Para pengusaha ekspor dan kalangan kantor-kantor administrasi perkebunan, yang menolak gagasan peningkatan kemakmuran penduduk bumiputra, cen­derung membaca surat kabar Het Soerabajaasch Han- delsblad. Harian itu terbit di Surabaya sejak tahun 1866 sebagai kelanjutan surat kabar Oostpost yang di­dirikan pada tahun 1853.

Douwes Dekker.

Sebagai cermin perjuangannya membela kebebasan pers, De Locomotief menentang monopoli berita oleh kantor berita Aneta (Algemeen Nieuws- en Telegraaf Agentschap, Keagenan Umum Berita dan Telegraf). Ketika kantor berita itu meng­haruskan setiap surat kabar penerima beritanya melanggani pula sejumlah majalah De Zweep (Ceme­ti) yang diterbitkan Aneta, De Locomotief menolak paksaan itu. Surat kabar lainnya yang bersikap sama ialah Indische Courant di Surabaya.

Seperti semua surat kabar Belanda lainnya, De Lo­comotief tidak dapat terbit selama masa pendudukan militer Jepang di Indonesia. Surat kabar ini dapat ter­bit kembali sesudah Indonesia merdeka, tetapi ber­henti terbit untuk selamanya pada tahun 1956 ketika sengketa Indonesia-Belanda dalam masalah Irian Ba­rat (sekarang Irian Jaya) kian memuncak.

Di surat kabar ini pernah bekerja Eduard F.E. Dou­wes Dekker (Danoedirdja Setiaboedhi), wartawan dan anggota tiga serangkai pemimpin Indische Partij (Par­tai Hindia) yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia bekerja di surat kabar ini pada masa pim­pinan P. Brooshooft, penganjur politik etis yang ter­kenal. Pengalamannya sebagai wartawan di surat ka­bar “ini membawa Douwes Dekker pada kesimpulan bahwa” penyebab kemelaratan yang diderita kaum Indo ialah tata susunan eksploatasi modal kolonial, dan karena itu hubungan kolonial harus dihancurkan. Indische Partij didirikannya bersama R.M. Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) dan Tjipto Mangoenkoesoemo padataliun 1912 di Bandung. Par­tai ini merumuskan program kerja sama antara kaum Indo dan kalangan bumiputra serta golongan-golong­an penduduk lainnya untuk membina “Bangsa Hindia” {Indiers).

Salah satu laporan Douwes Dekker yang terkenal sebagai wartawan ialah tentang pemberontakan petani di Tangerang, Jawa Barat, yang dilatarbelakangi ma­salah ketidakadilan dan penindasan di tanah-tanah partikulir. Sebab-sebab pemberontakan terletak pada tata susunan milik atas tanah partikulir dengan pendu­duknya, yang sejak abad ke-18 dijual oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff kepada pihak partikulir.

Incoming search terms:

  • Harian De Locomotief adalah harian kolonial yang terbit dalam bahasa
  • harian de locomotief terbit dalam bahasa
  • delokomotif surat kabar
  • Harian De Locomotief
  • pemimpin surat kabar de locomotif adalah
  • masa de locomotief
  • isi surat kabar de Locomotief di Semarang
  • 1 Harian De Locomotief adalah harian kolonial yang terbit dalam bahasa
  • de locomotief
  • Semarangsch Advertentieblad

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • Harian De Locomotief adalah harian kolonial yang terbit dalam bahasa
  • harian de locomotief terbit dalam bahasa
  • delokomotif surat kabar
  • Harian De Locomotief
  • pemimpin surat kabar de locomotif adalah
  • masa de locomotief
  • isi surat kabar de Locomotief di Semarang
  • 1 Harian De Locomotief adalah harian kolonial yang terbit dalam bahasa
  • de locomotief
  • Semarangsch Advertentieblad