Advertisement

PENGERTIAN – DEFINISI LOGIKA – Berasal dari kata Yunani logikos yang ber­arti berhubungan dengan pengetahuan, atau dengan bahasa. Istilah logika pertama kali digunakan oleh Alexander dari Aphrodisias sekitar abad ke-2 (pada Perguruan Stoa).

Dalam percakapan sehari-hari sering didengar kata logika yang berarti menurut akal, misalnya, “Argu­mentasi yang Bapak ajukan tidak logis”; atau “Menu­rut logika seharusnya ia marah.” Dalam filsafat, logi­ka adalah salah satu cabang yang menyelidiki ketepatan cara berpikir, dan aturan yang harus dipa­tuhi agar pernyataan menjadi sahih. Logika adalah suatu metode atau teknik yang diciptakan manusia un­tuk meneliti ketepatan penalaran. Sekitar abad itu, da­pat disaksikan suatu perkembangan awal logika di Benua India dan di wilayah Timur Laut Tengah (Io­nia, Yunani, sampai Italia Selatan dan Sisilia). Per­kembangan itu disebut logika India dan logika Yuna­ni. Keduanya mempunyai problematika yang sama (penalaran yang tepat), tetapi dengan titik berat ber­beda. Logika India berkaitan erat dengan kenyataan penalaran konkret dalam bahasa, sedang logika Yuna­ni menuju suatu rangkuman asas penalaran deduktif menyeluruh, yang sangat mempengaruhi perkem­bangan pemikiran deduktif dalam rangka ilmu penge­tahuan Barat. Dampak logika Yunani lebih luas dari­pada logika India.

Advertisement

Biasanya logika Barat dibagi menjadi dua, yaitu lo­gika klasik dan logika modern (logika formal). Semua pemikir dan ahli filsafat sebelum Aristoteles sudah menggunakan logika sebaik-baiknya. Tetapi Aris- toteleslah yang pertama menguraikan cara berpikir teratur itu dalam suatu sistem, artinya Aristoteles mengutarakan hukum-hukum yang berlaku dan harus ditaati oleh pikiran manusia agar dapat berpikir de­ngan tepat. Perkembangan ilmu logika telah berlang­sung selama sekitar 2500 tahun mulai dari filsafat Yunani. Logika telah muncul dalam ungkapan geo­metris yang ditunjukkan oleh mazhab Pythagorean, dialektika Zeno dalam mazhab Elea atau dialektika Plato. Aristoteles menyebut logika dengan analytika, sedangkan karya logikanya oleh para filsuf kemudian disebut organon, artinya alat untuk berpikir dengan tepat. Beberapa karya Aristoteles yang berhubungan dengan logika, antara lain, Categoriae (tentang kon­sep), De Interpretatione (tentang putusan), Analytica priora (tentang silogisme), Analytica posieviova (ten­tang bukti).

Mengapa Aristoteles memilih menamakan logika dengan analitika? Karena ia beranggapan bahwa pada dasarnya setiap kesimpulan atau pernyataan yang diu­capkan dalam bahasa merupakan pemecahan suatu soal, dan logika mengajarkan jaian menuju ke kesim­pulan itu. Bagaimana pikiran menuju ke kesimpulan? Kesimpulan itu biasanya terdiri atas sejumlah Kali­mat, sehingga pembagian logika klasik lazimnya ter­diri atas term (kata), proposisi (kalimat), dan penyim- pulan. Bagi Aristoteles pemecahan soal itu pada hakikatnya pemikiran yang mempunyai bentuk paling sederhana yang dise,but silogisme (syllogismus). Silogisme itu berupa kombinasi dua putusan. Dari ke­dua putusan itu disimpulkan putusan ketiga. Dalam silogisme, kesimpulan diambil dari kenyataan umum atas hal khusus. Misalnya:

Semua manusia akan mati (putusan mayor)

Paino adalah seorang manusia (putusan minor)

Jadi, Paino akan mati (putusan konklusi)

Term adalah kata (lambang pengertian dalam baha­sa), sebagai fungsi pengertian. Kata selalu mempu­nyai makna. Karena itu setiap kata harus diberi batas­an apa yang dimaksud dengannya.

Kalimat atau proposisi merupakan susunan kata- jcata. Kalimat terdiri atas subjek (S), predikat (P) serta kata penghubung (kopula). Kalimat mempunyai bebe­rapa golongan, yaitu tunggal, majemuk, kategoris, hi­potetis dan bagaimanakah hubungan antara pelbagai jenis kalimat itu. Pokok-pokok itulah yang menjadi bahasan logika. Kalimat dibedakan berdasarkan kua­litas (bentuk afirmatif atau bentuk negatif) dan kuan­titas (ditentukan oleh luas subjeknya: universal atau partikular). Perlu diperhatikan luas predikat. Predikat proposisi negatif selalu bersifat universal, dan predi­kat proposisi afirmatif selalu bersifat partikular. Sejak Abad Pertengahan, proposisi dikelompokkan menjadi (1) proposisi afirmatif universal (A): semua S adalah P, misalnya “Semua gadis Solo adalah cantik”; (2) proposisi E, proposisi negatif universal: semua S bu­kan P, misalnya “Semua gadis Solo adalah tidak can­tik”; (3) proposisi I, proposisi afirmatif partikular: se­bagian S adalah P, misalnya “Beberapa gadis Solo adalah cantik”; dan (4) proposisi O, proposisi negatif partikular, misalnya “Beberapa gadis Solo adalah ti­dak cantik”.

Dari segi empat logis itu terdapat empat macam hubungan antara dua proposisi, yakni (1) hubungan kon- tradiktorik (A – O, E – I); (2) hubungan kontrarik atau perlawanan (A – E); (3) hubungan subkontrarik atau perlawanan bawahan (I – O); dan (4) hubungan subal- terriasi (A – i; B-O). Para ahli logika n»ernpe «ajari sejauh mana diperbolehkan pembalikan setiap jenis proposisi dengan mempertahankan kebenaran propo­sisi yang sudah diketahui sebagai proposisi yang be­nar. Pembalikan berarti S dan P bertukar tempat, sedangkan kualitas dan kuantitasnya dipertahankan.

Dapat ditemukan bahwa proposisi E dan I selalu boleh dibalikkan, proposisi A hanya boleh dibalikkan kalau diubah menjadi I (kecuali jika A kebetulan berupa de­finisi), sedangkan proposisi O tidak dapat dibalikkan.

Penyimpulan (silogisme) adalah proses menarik suatu kesimpulan berdasarkan dua proposisi atau le­bih yang mendahuluinya (premis). Dalam silogisme, premis yang mendahului kesimpulan itu harus meliputi bidang lebih luas daripada kesimpulan itu sen­diri. Oleh karena itu logika klasik disebut juga logika deduktif (luas kesimpulan lebih sempit daripada luas premis-premisnya). Kesimpulan yang sungguh-sung­guh dapat dan harus ditarik dari premis tertentu dise­but kesimpulan sah (valid), sedang kesimpulan yang tidak boleh atau tidak dapat ditarik dari premis terten­tu disebut kesimpulan tidak sah. Sah atau tidak suatu kesimpulan tergantung dari ada tidak adanya hubung­an. Biasanya dibedakan dua jenis silogisme, yakni silogisme kategoris (yang premisnya mutlak) dan silogisme hipotetis, yakni silogisme dengan satu pre­mis proposisi hipotetis (bersyarat).

Ada delapan patokan atau hukum logis yang harus ditepati agar suatu silogisme berlaku (benar, sahih, valid), yaitu (1) silogisme tidak boleh mengandung le­bih atau kurang dari tiga term, dan term itu harus sama tepatnya; (2) term menengah tidak boleh terdapat atau masuk dalam kesimpulan karena perbandingan itu ter­jadi dalam premis; (3) term subjek dan predikat dalam kesimpulan tidak boleh lebih luas daripada dalam premisnya; (4) term menengah sekurang-kurangnya satu kali universal; (5) bila kedua premis afirmatif, maka kesimpulannya harus afirmatif juga; (6) kedua premis tidak boleh negatif; (7) kedua premis tidak bo­leh partikular; (8) kesimpulan harus sesuai dengan premis paling lemah.

Itulah secara amat ringkas sebagian dari pokok yang dibahas dalam logika tradisional. Logika tradi­sional ini merupakan suatu sistem deduktif yang ketat, atas dasar perjanjian dan peraturan yang telah disepa­kati sebelumnya. Cara kerja deduktif logika tradisio­nal ini biasanya dibedakan dengan cara kerja logika modern.

Logika Formal Modern muncul dan berkembang se­jak pertengahan abad ke-19, dan mencolok selama abad ke-20 ini. Logika modern juga sering disebut lo­gika simbolik. Dalam logika tradisional juga diguna­kan simbol, seperti A, I, E, O; tanda-tanda = dan huruf-huruf S, M, dan P; tetapi simbol tersebut tidak dikembangkan menjadi suatu sistem yang lengkap. Ada logika proposisi, ada logika term, dan ada pula logika modalitas.

Logika Proposisi bertitik pangkal pada adalah pro­posisi. Proposisi dianggap sebagai “suatu ungkapan yang berdiri sendiri atau dapat ditegaskan pada diri sendiri. Proposisi dalam logika formal modern meru­pakan suatu ungkapan yang tidak mengandung arti, -melainkan suatu variabel yang dilambangkannya de­ngan huruf kecil: p,-q, r, s, dan seterusnya.

Selain unsur variabel itu terdapat juga unsur terten­tu yang mempunyai arti tetap (konstanta). Kalau diga­bungkan dengan variabel, terbentuklah proposisi ba­ru, tunggal atau majemuk. Konstanta itu dipakai juga sebagai perakit antarproposisi. Para logikawan Polan­dia memakai huruf besar dari awal abjad, untuk menunjukkan konstanta itu, yaitu A, B, C, D, dan seterus­nya. Sejak akhir abad ke-19 beberapa notasi lain sudah dipakai tokoh-tokoh lebih tua, seperti Peano, Frege, kemudian Russell, dan Whitehead.

Incoming search terms:

  • definisi logika
  • Pengertian Logika
  • defenisi logika
  • arti dari logika
  • Logika adalah
  • logika artinya
  • arti kata logika
  • pengertian definisi logika
  • logika definisi
  • Makna logika

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • definisi logika
  • Pengertian Logika
  • defenisi logika
  • arti dari logika
  • Logika adalah
  • logika artinya
  • arti kata logika
  • pengertian definisi logika
  • logika definisi
  • Makna logika