PENGERTIAN DELIRIUM – Istilah delirium berasal dari bahasa Latin de, yang berarti “dari” atau “di luar” dan lira, yang berarti “celah” atau “jalur”. Istilah tersebut merujuk pada kondisi keluar jalur atau menyimpang dari kondisi normal. Pasien, kadang secara cukup mendadak, mengalami kesulitan besar untuk berkonsentrasi dan memusatkan perhatian serta tidak mampu mempertahankan alur pemikiran yang runut dan terarah. Pada tahap awal delirium orang yang bersangkutan sering gelisah, terutama di malam hari. Siklus tidur dan terjaga mengalami gangguan sehingga orang tersebut mengantuk di siang hari dan terjaga, gelisah, dan cemas di malam hari. Kondisi mental individu yang bersangkutan secara umum memburuk di malam hari ketika ia tidak dapat tidur dan di dalam gelap. Mimpi yang tampak nyata dan mimpi buruk umum terjadi.

Pasien yang mengalami delirium tidak mungkin dapat terlibat dalam percakapan karena perhatian mereka yang tidak dapat terfokus pada satu hal dan pikirannya yang terpecah-pecah. Pada delirium parah, bicaranya menjadi tidak karuan dan tidak runut. Gelisah dan bingung, beberapa individu yang mengalami delirium dapat mengalami disorientasi waktu, tempat, dan kadang diri, yaitu, mereka tidak mengetahui dengan pasti hari apakah sekarang, di mana mereka berada, atau bahkan siapa diri mereka. Mereka sering kali sangat tidak dapat memusatkan perhatian sehingga tidak dapat terlibat dalam percakapan. Kelemahan memori, utamanya mengenai berbagai peristiwa yang terjadi belum lama berselang, umum dialami. Meskipun demikian, dalam suatu periode selama 24 jam orang-orang yang mengalami delirium dapat mengalami masa interval di mana yang bersangkutan dalam kondisi waras dan menjadi sadar serta runut. Fluktuasi harian tersebut membantu membedakan delirium dari berbagai sindrom lain, terutama penyakit Alzheimer.

Gangguan perseptual sering terjadi dalam delirium. Individu salah mempersepsi sesuatu yang asing sebagai sesuatu yang tidak asing; contohnya, mereka dapat beranggapan bahwa mereka berada di rumah bukan di rumah sakit. Meskipun ilusi dan halusinasi umum terjadi, terutama visual dan campuran visual-auditori, namun hal itu tidak selalu terjadi. Delusi tercatat terjadi pada sekitar 25 persen orang-orang lanjut usia yang mengalami delirium. Delusi tersebut cenderung tidak terlalu nyata, singkat, dan berubah-ubah.

Berubah-ubahnya aktivitas dan mood menyertai pikiran dan persepsi yang terganggu. Orang-orang yang mengalami delirium dapat menjadi eratik, membuat pakaian mereka menjadi sobek pada satu saat dan saat berikutnya duduk dengan lesu. Kadang gambaran klinis delirium hanya berupa pola hipoaktif (pada dasarnya ksu tak bertenaga), yang berkontribusi terhadap kesulitan untuk mendiagnosisnya Webster. Meskipun demikian, pasien delirium biasanya berada dalam penderitaan emosional besar dan dapat berubah-ubah dengan cepat dari satu emosi ke emosi lain—depresi, kecemasan, ketakutan, kemarahan, eforia, dan mudah tersinggung. Demam, wajah memerah, pupil melebar, tremor, denyut jantung yang cepat, tekanan darah yang meningkat, dan tidak dapat menahan urin dan feses umum terjadi. Jika delirium terus berlangsung, orang yang bersangkutan akan kehilangan kontak dengan kenyataan sepenuhnya dan dapat mengalami stupor. Meskipun delirium merupakan salah satu gangguan mental biologis yang paling sering terjadi pada orang lanjut usia, namun gangguan ini tidak banyak diteliti dan, seperti halnya demensia, sering kali disalandiagnosis.

Orang-orang dari segala usia dapat mengalami delirium, namun lebih umum terjadi pada anak-anak dan orang lanjut usia. Gangguan ini utamanya umum terjadi pada orang lanjut usia yang dirawat di rumah sakit. Diperkirakan 15 hingga 20 persen dari seluruh pasien rumah sakit umum mengalami delirium, namun angka tersebut meningkat jauh lebih tinggi pada orang-orang lanjut usia. Contohnya, dalam sebuah studi baru-baru ini, 46 pasien yang menderita retak tulang pinggul mengalami delirium. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding angka yang diperoleh dari kajian terhadap grafik rumah sakit, mengindikasikan bahwa para dokter dan staf lain di rumah sakit sering kali memberikan diagnosis yang salah atau tidak menyadari masalah tersebut. Dalam beberapa subkelompok pasien rawat inap, seperti orang lanjut usia yang baru menjalani operasi (khususnya mereka yang menjalani operasi ortopedik karena retak tulang pinggul dan yang menjalani operasi jantung), angka kejadian delirium malahan lebih tinggi. Pasien lanjut usia yang mengalami delirium dirawat lebih lama di rumah sakit dan memiliki kemungkinan lebih besar untuk meninggal. Risiko kematian tetap tinggi hingga tiga tahun setelah mereka keluar dari rumah sakit. Angka kejadian delirium di panti-panti wreda tampaknya juga tinggi. Sebuah studi menemukan bahwa antara 6 dan 12 persen penghuni panti-panti wreda dapat mengalami delirium dalam masa satu tahun.

Meskipun angka-angka tersebut sangat bervariasi, namun angka terendah sekalipuh mengindikasikan bahwa delirium merupakan masalah kesehatan serius bagi para lanjut usia. Angka kematian karena delirium luar biasa tinggi; hampir 40 persen pasien meninggal, baik karena kelelahan yang amat sangat atau karena kondisi yang menyebabkan delirium, seperti overdosis obat atau malnutrisi. Bila angka fatalitas pada demensia dan delirium dibandingkan dalam periode satu tahun, angka tersebut lebih tinggi pada delirium: 37,5 persen berbanding 16 persen.

Meskipun_ diagnosis delirium yang akurat dan pemilahannya dari berbagai kondisi yang mirip dengannya merupakan hal penting bagi kesejahteraan orangorang lanjut usia, gangguan tersebut sering kali terjadi tanpa diketahui. Contohnya, seorang perempuan lanjut usia yang ditemukan di sebuah apartemen kumuh tanpa makanan diyakini menderita demensia oleh dokter yang tidak memiliki cukup informasi dan dirawat dengan perawatan rutin di panti wreda. Seorang profesional yang ahli mengenai gangguan delirium mengetahui bahwa belum lama berselang perempuan tersebut mengalami depresi karena kehilangan orang yang dicintai sehingga tidak mau makan. Setelah hal itu diketahui, diberikan penanganan yang tepa: bagi kekurangan nutrisinya, dan kondisinya membaik sehingga ia dapat kembali ke rumahnya setelah dirawat selama satu bulan.

Filed under : Bikers Pintar,