PENGERTIAN DEMOKRASI KONSOSIASIONAL ADALAH – Semua tipe hubungan etnik yang dibahas sejauh ini adalah tipe-tipe di mana konflik dan antagonisme sosial adalah yang menonjol. Memang, agaknya konflik demikian adalah ciri umum hubungan etnik di seluruh dunia. Tetapi apakah hubungan etnik itu selalu berjalan dengan konflik? Dapatkah masyarakat multietnik ada tanpa konflik yang berarti di kalangan kelompokkelompok etnik yang berbeda?

Eksistensi apa yang disebut demokrasi konsosiasional memungkinkan diperolehnya suatu jawaban yang membenarkan terhadap pertanyaan ter-akhir (Lijphart, 1977; van den Berghe, 1981). Demokrasi konsosiasional ada apabila kelompok-kelompok etnik yang berbeda dalam suatu negara tunggal ada bersama menurut suatu cara yang sangat harmonis. Tidak terdapat susunan kelompok yang hirarkhis, sehingga tidak ada kelompok yang dominan atau yang mengeksploitir yang lainnya. Terdapat pembagian kekuasaan politik yang sama, dan semua kelompok etnik terwakili secara proporsional di dalam struktur kelas. Sebagaimana dikemukakan oleh van den Berghe (1981), konsosiasionalisme adalah suatu situasi yang sangat rapuh, dan beberapa faktor penting harus bekerja bersama untuk membuatnya berjalan. Ditandaskannya bahwa demokrasi konsosiasional sangat cenderung berhasil bilamana berbagai kelompok etnik itu saling merembes secara teritorial, genetik, dan fungsional, yakni, apabila kelompok-kelompok etnik itu tercampur secara geografis yang ekstensif; apabila terdapat tingkat saling kawin-mawin yang tinggi di antara kelompok-kelompok itu; dan apabila mereka memiliki lembaga-lembaga ekonomi, keagamaan, linguistik, dan kebudayaan yang sama. Ada berbagai negara yang didominasi dengan status demokrasi konsosiasional, diantaranya Kanada, Belgia, dan Swis — dan malah Libanon yang penuh dendam! Akan tetapi, satu-satunya negara di mana konsosiasionalisme sangat berhasil adalah Swis. Negara ini terdiri dari empat kelompok etnik utama, yang dapat diidentifikasi menurut afiliasi bahasanya. Etnik Jerman meliputi 75 persen penduduk; Perancis meliputi 20 persen, Italia hanya 4 persen, dan yang berbahasa Romania 1 persen. Secara keagamaan, terbagi hampir sama antara Protestan dan Katolik, dan pembedaan agama melintasi kelompok-kelompokbahasa. Perbedaan-perbedaan sosio-ekonomi menyilangi perbedaan-perbedaan etnik. Van den Berghe mengemukakan bahwa Swis mewakili suatu kombinasi keadaan yang jarang tapi baik bagi keharmonisan etnik. Adalah sangat tidak biasa oleh karena negara ini tidak timbul melalui penaklukan ataupun runtuhnya suatu kerajaan multinasional. Daerahnya yang istimewa membuat negara ini hampir tidak mungkin diserang, dan negara ini telah mengembangkan suatu perekonomian yang dibangun sekitar penyediaan barang-barang dan jasa-jasa khusus kepada tetangga-tetangganya (misalnya, meriam, lonceng, bangku-bangku khusus). Negara ini sesungguhnya telah berkembang sebagai suatu “konfederasi lepas suku-suku pegunungan”. Swis barangkali adalah demikian unik sehingga, seperti yang dikemukakan secara berkelakar oleh van den Berghe, “jika negara ini tidak ada, maka negara ini perlu ditemukan” (1981:194).

Filed under : Bikers Pintar,