PENGERTIAN DEONTOLOGIS ETIKA

35 views

Bagian filsafat moral yang membahas teori etika normatif untuk memberi jawaban atas pertanyaan: berdasarkan norma mana­kah seseorang harus bertindak. Dengan kata lain, ma­nakah norma objektif. Objektivitas sesuai dengan tun­tutan rasionalitas kesadaran moral yang mendesak se­seorang mencari apa yang secara objektif benar; ka­rena itu orang harus berusaha mempertanggungjawab­kan mengapa kewajiban itu masuk akal. Etika deontologi menyatakan bahwa betul-salahnya dan baik- buruknya suatu tindakan tidak ditentukan oleh aki­bat tindakan itu, tetapi oleh adanya tindakan yang wa­jib atau tindakan yang dilarang. Jadi dasar untuk ber­tindak bukan hasil tindakan, melainkan berdasarkan sifat tertentu tindakan atau peraturan itu sendiri. Ada tindakan yang diperbolehkan, dan ada tindakan tak diperbolehkan, tidak memandang untung rugi dari akibat tindakan itu. Untuk menentukan suatu tin­dakan, seseorang sama sekali tidak perlu menanya kan apakah akibat perbuatan itu, tetapi apakah tin- cakan itu dilarang atau diharuskan. Misalnya, per­aturan “kita harus bertindak adil walaupun mungkin kita melihat atau mengetahui banyak orang mencari keuntungan dergan alasan apa pun yang tidak per­nah dapat dibenarkan”. Dari dasar yang diambil, teori deontologis dapat dibedakan antara yang teonom (dari kata Yunani theos, Allah dan nomos, hukum) dan duniawi. Teori deontologis teonom beranggapan bahwa da­sar norma moral manusia adalah kehendak Allah. Thomas Aquinas yang me­ngemukakan hukum ko­drat, bahwa manusia ha­rus bertindak sesuai ko­dratnya.

Teori ini dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, etika teonom murni yang berkaidah suatu tindakan adalah benar jika sesuai dengan kehendak Allah dan salah jika tidak sesuai dengan kehendak Allah; wajib jika diperintahkan oleh Allah. W. Ockham (1300-1350) menyatakan bahwa Allah berada di atas hukum mo­ral, maka apa yang baik itu ditentukan oleh Allah. Teori ini banyak dianut oleh filsuf moral kalangan agama. Etika teonom murni mengandung bahaya na­sionalisme dan cenderung menjadi relativisme moral. Etika teonom kedua mendasarkan tindakan pada hu­kum kodrat yang dikemukakan Thomas Aquinas (1225-1274), “Bertindaklah sesuai kodratmu sebagai manusia, yaitu sempurnakanlah kemampuanmu se­hingga orang sekaligus mencapai kebahagiaan yang sebenarnya serta memenuhi kehendak Allah.”

Teori deontologis duniawi dapat dibedakan men­jadi dua teori. Teori pertama menekankan adanya per­aturan moral umum yang selalu berlaku; karena itu disebut etika deontologis peraturan. Teori kedua me­nolak adanya peraturan moral umum. Penganutnya beranggapan bahwa setiap orang mempunyai situasi tertentu, yang tak ada duanya dan unik.

Teori ini di­sebut etika situasi. Teori etika deontologis peraturan tampaknya paling sesuai dengan pendapat orang biasa tentang moral. Ada beberapa norma atau peraturan moral yang berlaku begitu saja, misalnya “jangan bo­hong”, “jangan bunuh diri”, dll. Berlakunya norma itu tak tergantung pada akibatnya dan untung rugi­nya. Kelemahan teori ini menyangkut pertanyaan ba­gaimana kalau ada dua norma dasar yang saling ber­tabrakan, misalnya keadilan dan perikemanusiaan. Teori etika situasi menyatakan bahwa setiap situasi bersifat unik, berlainan satu sama lain, sehingga ti­dak ada dua situasi yang sama persis. Karena itu tak mungkin memasang peraturan bagaimana seseorang harus bertindak, tak ada peraturan moral umum. Teori ini sama sekali tidak mau melihat adanya un­sur kesamaan dalam situasi. Dengan demikian teori etika situasi bertentangan dengan sifat universal ke­sadaran moral, dalam arti bahwa setiap orang dalam situasi sama berkewajiban sama entah waktu atau tem­patnya. Bila pendapat bahwa setiap situasi berbeda sama sekali adalah benar maka tak mungkin ada dia­log atau tak mungkin memberi nasihat kepada orang lain. Karena teori etika deontologis hanya menekankan bentuk tindakan saja, maka teori ini lazim disebut for- malisme dan hanya berdasarkan intuisi, tidak tergan­tung pada teori nilai, dan bahkan mengabaikan mo­tivasi dalam diri manusia.

Incoming search terms:

  • pengertian Etika situasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *