DEPRESI PADA MASA REMAJA: MUNCULNYA PERBEDAAN GENDER – Ketika memasuki masa remaja, anak-anak perempuan dihadapkan pada sejumlah stresor. Seiring berkembangnya karakteristik jenis kelamin sekunder, mereka dapat membenci pertambahan berat badan dan hilangnya postur kurus mereka. Mereka juga mendapati penampilan fisik mereka menjadi fokus ketertarikan dan sering kali juga menjadi fokus percakapan yang tidak menyenangkan dari teman-teman sebaya lakilaki (dan perempuan). Pada waktu bersamaan, risiko mengalami penyiksaan fisik dan seksual meningkat, juga konflik dengan orang tua seputar isu kemandirian dan perilaku gender yang pantas. Berbagai stesor tersebut, ditambah dengan faktor-faktor risiko yang dapat mengakibatkan coping yang kurang efektif, dapat menjadi kunci untuk memahami mengapa kaum perempuan lebih banyak mengalami depresi dibanding laki-laki.

1. Para remaja perempuan kurang asertif dibanding remaja laki-laki dan memiliki skor lebih rendah dibanding anak laki-laki dalam kuesioner yang mengukur kemampuan kepemimpinan.

2. Anak-anak perempuan lebih mungkin melakukan apa yang disebut coping ruminatif dibanding anak laki-laki. Mereka memfokuskan perhatian pada simtom-simtom depresif (a.1., “Bagaimana jika aku tidak dapat mengatasi hal ini?” “Mengapa aku merasa seperti ini. Apa artinya?”). Memperkuat pentingnya coping ruminatif, sebuah studi longitudinal yang berlangsung selama 18 bulan menunjukkan bahwa gaya coping tersebut memprediksi timbulnya episode depresi dan dikaitkan dengan simtom-simtom depresif yang lebih parah. Anak laki-laki dan laki-laki dewasa, secara kontras, cenderung menjauhkan diri mereka dari introspeksi semacam itu dengan melakukan aktivitas fisik atau menonton televisi.

3. Anak-anak perempuan memiliki kemungkinan lebih kecil dibanding anak laki-laki untuk bertindak agresif secara fisik dan verbal dan kurang dominan dalam interaksi kelompok.

Implikasi terhadap penanganan menjadi jelas menurut sudut pandang ini. Perempuan yang mengalami depresi—dan laki-laki—harus didorong untuk meningkatkan coping aktif daripada tenggelam berlebihan dalam mood mereka dan mencari berbagai penyebab depresi. Keterampilan penyelesaian masalah dan asertivitas harus dikembangkan. Berkaitan dengan pencegahannya, Nolen-Hoeksema menyarankan agar para orang tua dan para pengasuh lain mendorong anak-anak perempuan untuk mengadopsi perilaku aktif dalam merespons mood negatif.

Filed under : Bikers Pintar,