Advertisement

DETERMINISME

Inggris: determinism; dari Latin determinant (menentukan batas, membatasi).

Advertisement

Istilah ini masuk perbendaharaan istilah filsafat melalui Sir William Hamilton. Dia ini menerapkan istilah ini pada Thomas Hobbes. Maksudnya, mau membedakan pandangan Hobbes dari fatalisme.

1. Determinisme beranggapan bahwa setiap peristiwa atau kejadian “ditentukan”. Artinya, tidak bisa terjadi kalau tidak ditentukan

2. Pandangan bahwa semua kejadian mempunyai sebab.

3. Jika ada sekumpulan kondisi tertentu, X, kumpulan itu selalu akan diikuti oleh sekumpulan kondisi Y. (Dan jika ada sekumpulan kondisi X, Y tidak mungkin didahului oleh apa pun selain dari sekumpulan kondisi X.)

4. Pandangan bahwa a) segala sesuatu di alam semesta “diatur” oleh, atau bekerja selaras dengan, hukum-hukum kausal (sebab- akibat); b) segala sesuatu di alam semesta secara mutlak bergantung pada, dan diharuskan oleh, sebab-sebab; c) jika ada pengetahuan cukup tentang bekerjanya hal tertentu, kita akan mampu melihat bukan hanya masa depan hal tersebut tetapi juga masa depan segala sesuatu yang tercermin secara lengkap di dalam hal itu.

5. Dengan mengikuti metode empiris, determinisme menafsirkan kesadaran manusia akan kebebasan pribadi sebagai putusan salah yang muncul dari ketidaktahuan akan dorongan-dorongan yang tidak sadar. Di sini determinisme gagal melihat bahwa kita menganggap pengalaman-pengalaman yang berdasarkan kompleks tidak sadar (misalnya ilham, ilmiah dan artistik), disebabkan oleh ketidaktahuan kita akan sebab-sebabnya, bukan sebagai “dikehendaki secara bebas” oleh kita tetapi sebaliknya sebagai sesuatu yang “misterius”. Basis empiris lain dari determinisme yang diterima begitu saja ialah fakta bahwa bila kita akrab dengan watak, kebiasaan-kebiasaan, kecenderungan-kecenderungan dan lingkungan manusia lainnya, maka kita dapat meramalkan dengan akutat apa yang bakal mereka lakukan. Dan kita juga dapat menunjukkan keteraturan banyak tindakan yang “bebas” yang memperlihatkan bekerjanya suatu hukum, sebagaimana dikatakan statistik moral. Namun, indikasi-indikasi empiris ini hanya membuktikan bahwa tidak ada kehendak yang tidak bermotif; bahwa orang pada umumnya mengikuti kecenderungan-kecenderungan dan wataknya sendiri; bahwa mereka siap sedia menghindari konflik-konflik dengan hasrat-hasratnya sendiri. Akan tetapi indikasi-indikasi ini tidak memecahkan masalah apakah penghindaran ini merupakan suatu kegiatan bebas atau tidak. Bila kehendak bebas hilang, ide mengenai tanggung jawab, ganjaran, hukuman dst., kehilangan makna. Determinisme berusaha menyelamatkan paham-paham ini dengan menyatakan, “watak” pribadi yang salah dapat dipertanggungjawabkan dan patut dihukum.

6. Dilihat dan prinsip-prinsipnya yang fundamental, sistem-sistem berikut ini pada dasarnya bersifat deterministik: semua bentuk materialisme dan monisme, panteisme, positivisme, empirisme dan rasionalisme ekstrem maupun biologisme ekstrem.

7. Dari sudut pandang filsafat alam, determinisme, dipandang sebagai teori tentang satu-satunya determinasi dari setiap peristiwa alam.

8. Determinisme dalam arti tertentu menghantar orang kepada fatalisme.

Incoming search terms:

  • determinisme
  • pengertian determinisme
  • pengertian deterministik
  • teori determinisme
  • deterministik
  • arti determinisme
  • pengertian determinis
  • arti deterministik
  • definisi deterministik
  • apa itu deterministik

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • determinisme
  • pengertian determinisme
  • pengertian deterministik
  • teori determinisme
  • deterministik
  • arti determinisme
  • pengertian determinis
  • arti deterministik
  • definisi deterministik
  • apa itu deterministik