Advertisement

Sebutan untuk sebagian Kitab Suci Kristiani yang berpadanan dengan bagian protokanonik. Menurut kepercayaan iman Kristiani, Alkitab memang Sabda Tuhan tetapi disampaikan melalui wahana manusiawi. Oleh sebab itu, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Sabda Tuhan, diakui pula jalan manusiawi dalam terbentuknya kitab-kitab yang kemudian terpadukan dalam Alkitab sekarang ini.

Rupanya naskah kitab-kitab tersebut disusun tahap demi tahap, kumpulan demi kumpulan, dan karena peralatan pada waktu itu belum sempurna kadangkala dikutip dengan sejumlah ketidakjelasan. Dari penggalian arkeologis ditemukan banyak naskah Kitab Suci yang satu sama lain mengandung unsur yang tidak selalu sama. Dari sekian banyak naskah itu ada sejumlah naskah yang sejak semula sudah diterima secara umum oleh seluruh Gereja sebagai naskah Kitab Suci yang autentik.

Advertisement

Naskah itu terdiri atas banyak unsur, masing-masing adalah kumpulan tulisan yang dalam istilah Kitab Suci disebut Kitab. Dalam satu Alkitab ada beberapa Kitab. Kumpulan tulisan itu amat banyak tetapi hanya ada sejumlah tertentu yang sejak awal sekali diakui jemaah sebagai bagian baku dari Kitab Suci dan disebut protokanonik. Pada saat itu ditemukan pula bagian lain, terutama dari Perjanjian Lama, yang selanjutnya diterima pula oleh sebagian besar ahli dan Gereja sebagai baku, dan disebut deuterokanonik. Sebutan deuterokanonik berasal dari Sixtus dari Siena (1520 – 1569). Rumus itu tidak begitu serasi, seakan-akan jemaah menerima dua kanon (pembakuan Kitab) padahal sebetulnya hanya ada tahapan pengakuan pembakuan saja. Kitab Perjanjian Lama yang termasuk dalam kelompok deuterokanonik adalah: Tobit, Yudhit, Baruch, Kebijaksanaan, Putra Sirach, Kitab Pertama Makhabe, Kitab Kedua Makhabe, dan Tambahan Yunani pada Kitab Daniel dan Kitab Esther. Kitab Perjanjian Baru yang deuterokanonik adalah Surat Ibrani, Surat Yakobus, Surat Kedua Petrus, Surat Kedua Yohanes, Surat Ketiga Yohanes, Surat Yudas, dan Kitab Wahyu.

Advertisement