Advertisement

Berdasarkan pandangan evolusi agama, suatu personifikasi dari suatu kekuatan dan/atau makhluk gaib yang tidak berbentuk menjadi bentuk. Umumnya gejala itu merupakan manifestasi kekuatan alam atau kosmik. Kepercayaan terhadap dewa ditemui dalam berbagai agama atau sistem kepercayaan masyarakat di dunia. Walaupun sebagian besar umat manusia telah memeluk agama besar, seperti Islam, Kristen, Budha, Hindu, Konfusius, dan Yahudi, dalam upacara keagamaan pendukung agama tersebut masih ada orang yang memandang tokoh dewa sebagai unsur penting upacara. Keberadaan dewa itu tertera dalam cerita-cerita suci atau cerita biasa, dongeng, atau mitologi masyarakat pendukungnya, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.

Kedudukan dewa yang diyakini oleh masyarakat pendukungnya berkaitan erat dengan sistem budaya masyarakat tersebut. Dalam alam pikiran para pendukung tersebut, para dewa mempunyai kedudukan yang berbeda-beda namun di antaranya ada yang menjadi dewa utama, yaitu dewa yang mempersatukan semua dewa yang hidup dalam alam pikiran mereka. Berdasarkan cara berpikir tersebut, masyarakat dewa juga dipandang sama seperti masyarakat manusia yang mengenal sistem hierarki. Oleh sebab itu ada istilah Dewa Tertinggi.

Advertisement

Berdasarkan keyakinan masyarakat yang percaya kepada para dewa, dewa mempunyai pengaruh terhadap kehidupan manusia. Pengaruh itu bisa bersifat baik atau tidak baik, karena ada dewa yang bersifat jahat dan ada yang bersifat baik. Tokoh dewa yang baik adalah apa yang biasanya disebut Dewa Penjaga. Oleh sebab itu, manusia harus berusaha menjaga kebaikan dewa yang baik untuk mendapatkan keselamatan hidup, atau agar para dewa tidak murka. Di samping itu, manusia juga melakukan tindakan yang bertujuan untuk menolak pengaruh dewa yang tidak baik. Tindakan manusia tersebut biasanya diwujudkan dalam upacara-upacara keagamaan yang hidup dalam masyarakat. Perwujudan kebaikan yang diperoleh dari dewa biasanya dihubungkan dengan pemberian sesaji kepada para dewa yang dipuja tersebut.

Di Indonesia, yang penduduknya terdiri atas pemeluk berbagai macam agama dan kepercayaan, juga terdapat tokoh dewa. Misalnya, dewa-dewa yang dipuja oleh orang  Cina yang memeluk agama Budha, Konfusius, dan Hindu, khususnya Hindu Dharma, orang Bali, dan orang Jawa yang masih kuat kepercayaan Kejawennya. Berbagai dewa merupakan tokoh yang diupacarakan oleh masyarakat pendukungnya. Dari seluruh dewa yang dikenal dalam kepercayaan di Indonesia, sebagian besar dihubungkan dengan kekuatan atau gejala alam, misalnya dewa matahari, dewi bulan, dewa gunung, dewa sungai, dewi kesuburan (dewi tanah), dewi padi, dewa langit, dewa perang, dewa perusak, dewa cinta, dewa hutan, dan dewa laut atau dewi laut. Setiap masyarakat atau suku bangsa mempunyai nama-nama sendiri bagi dewa-dewa mereka.

 

DEWA (deva, dari kata div yang berarti bercahaya) adalah makhluk adi-insani yang bercahaya. Menurut kepercayaan Hindu, dewa berjumlah 33 dan berada di tiga dunia, yaitu surga, bumi, dan neraka.

Dewa tidak sama dengan Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Dewa, sebagai makhluk Tuhan, diciptakan pada awal proses penciptaan alam semesta ini dengan tugas mengendalikan kekuatan-kekuatan gejala dan unsur alam semesta. Tiap dewa mempunyai kekuatan gaib atas gejala dan unsur alam semesta, seperti Dewa Agni menguasai kekuatan gejala dan unsur api, Dewa Wayu (Bayu) menguasai kekuatan gejala dan unsur angin, Dewa Waruna (Baruna) menguasai kekuatan gejala dan unsur laut atau samu- dera. Karena mempunyai kekuatan gaib adi-insani dewa-dewa ini sering dipandang sebagai makhluk yang dapat menguasai dunia serta kehidupan manusia. Mereka harus ditenteramkan dengan sesajen dan dielu- elukan dengan kehormatan tetapi tidak disembah sebagai Hyang Widhi Wasa.

Dewi bentuk feminin kata dewa. Biasanya dewi hanya dipakai untuk menyatakan hormat kepada iotri Batara Siwa, yaitu Mahadewi. Mahadewi sering pula disebut Dewa Uma (yang bercahaya, cantik sekali), Dewi Gauri (yang kekuning-kuningan dan cemerlang), Dewi Parwati (yang ayu dari pegunungan). Dalam bentuk yang menakutkan Mahadewi disebut Dewi Durga atau Batari Kali (yang hitam).

 

DEWA

Dalam agama Budha, makhluk surga atau alam luhur yang bermukim di alam yang menyenangkan dan tak tampak oleh mata manusia biasa. Tetapi, seperti manusia dan makhluk lainnya, dewa agama Budha mengalami kelahiran kembali, ketuaan, ke- matian dan tak terbebas dari proses tumimbal lahir atau penderitaan.

Klasifikasi dewa didasarkan atas surganya yang dikaitkan dengan pembagian tiga alam. Di alam berindera (kamaloka) terdapat enam kelas, Catumaha rajikadeva, Tavatimsa, Yama, Tusita, Nimmana-rati, dan Paranimmita-vasavati. Di alam berbentuk (rupa-loka) terdapat empat tingkatan. Di tingkatan pertama ada kelompok Brahma-parisajja, Brahma-purohita, dan Maha-brahmana. Di tingkatan kedua ada kelompok Parittabha, Appamanabha, dan Abhassara. Di tingkatan ketiga ada Paritta-subha, Appamana-subha, dan Subha-kinna. Dan di tingkatan keempat terdapat Vehapphala, Asanna-satta, dan Suddhavasa. Di alam tak berbentuk (arupaloka), ada empat tingkatan yang terdiri atas kelompok Akasanancayata-naupaga-deva, kelompok Vinnanancayatanupaga-deva, kelompok Akincannayatanupaga-deva, dan, terakhir, kelompok Neva-sanna-nasannayatanupaga-deva.

Incoming search terms:

  • arti dewa
  • pengertian dewa
  • arti kata dewa
  • apa itu dewa
  • definisi dewa
  • apa arti dewa
  • dewa artinya
  • apa aarti dari dewa
  • Apa yang dimaksud dengan dewa
  • dewa makna

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti dewa
  • pengertian dewa
  • arti kata dewa
  • apa itu dewa
  • definisi dewa
  • apa arti dewa
  • dewa artinya
  • apa aarti dari dewa
  • Apa yang dimaksud dengan dewa
  • dewa makna