Advertisement

Yang istilah umumnya Christian Conference of Asia (CCA), pada waktu lahirnya bernama East Asia Christian Conference (EACC). Sejarah CCA bermula sejak sebelum Perang Dunia II. Pada saat itu, gerakan kaum’muda Kristen yang bergerak secara internasional, seperti Ikatan Muda Kristem Am (Umum) (YMCA YWCA) dan Federasi Mahasiswa Kristen se-Dunia (WSCF), menciptakan suasana oikumenis di seluruh dunia. Di Asia, gerakan kaum muda Kristen tersebut membangkitkan kesadaran oikumenis pemuka Kristen. Kemudian Asia terlibat Perang Dunia II. Masa penjajahan Jepang di Asia Timur serta terputusnya hubungan umat Kristen Asia dari Gereja dan badan-badan Zending Barat secara mendadak makin mendorong gereja-gereja di Asia untuk lebih saling mengenal dan berhubungan dalam suatu ikatan gereja secara regional. Setelah perang berakhir, pemuka/Kristen Asia Timur mencari jalan untuk bertemu dan Tahun 1949 di-adakan pertemuan antarpemuka Kristen Asia Timur di Bangkok dengan tujuan “menghimpun anak-anak Allah yang tersebar”. Suatu hal yang mengecewakan pada pertemuan tersebut adalah ketidakhadiran utusan Cina yang disebabkan perkembangan politik negara tersebut. Pada tahun 1957 diadakan rapat persiapan pembentukan Dewan Gereja-gereja Asia di Prapat, Sumatra Utara, yang disusul pembentukannya pada tahun 1959 di Kuala Lumpur, Malaysia, dengan nama East Asia Christian Conference. Gereja-gereja di Asia pada waktu itu menyatakan kepercayaan mereka bahwa adalah maksud Allah agar gereja-gereja di Asia hidup bersama dalam ketaatan kepada Tuhan Gereja untuk mewujudkan kehendak Allah di dunia ini. Sesuai dengan kesadaran itu, dibentuklah suatu wahana hidup dan kerja sama antargereja dan antardewan gereja nasional yang ada di Asia Timur dalam rangka gerakan oikumenis sedunia. Tetapi EACC bukan bagian dari Dewan Gereja se-Dunia (DGD). Gereja-gereja di Asia yang bukan (belum) anggota DGD dipersilakan menjadi anggota EACC. Memang terdapat kerja sama yang erat antara DGA dan DGD melalui berbagai bidang kegiatan.

Wilayah EACC terbentang luas dari Jepang sampai Pakistan dan dari Korea Utara sampai Selandia Baru. Setelah pembentukannya, EACC tampak sangat berperan dalam mendorong pertukaran tenaga antargereja di wilayah Asia. Dan di tengah pergolakan Asia, khususnya Indocina, patut dicatat secara khusus peranan EACC dalam mengorganisasi pelayanan gereja-gereja Asia untuk ikut meringankan penderitaan manusia yang amat berat melalui East Asia Christian Service yang cukup dikenal di kalangan internasional. Dari Indonesia dapat disebutkan nama-nama yang terlibat langsung dalam kegiatan ini, antara lain dokter Harun, juru rawat Corry Tilaar, organisator Frans Tumiwa, ahli hukum Mr. Yap Thiam Hien. Pada tahun-tahun awal kehidupan EACC, kepemimpinan dipegang oleh wakil India, Sri Lanka, dan Burma. Pada tahun 1973 EACC berganti nama menjadi Christian Conference of Asia (CCA) dan pucuk pimpinannya, diremajakan. Dalam periode ini Dr. T.B. Simatupang dari Indonesia menjadi salah seorang anggota presidium. Juga Dr. S.A.E. Nababan banyak berkecimpung dalam EACC/CCA. Dewasa ini, pimpinan CCA bergeser ke Utara, yaitu Korea dan Jepang. Sekretariat EACC/CCA berpindah-pindah dari Bangkok ke Singapura, dan sekarang, ke Osaka.

Advertisement

Incoming search terms:

  • nama lain dewan gereja
  • Dewan gereja asia
  • peranan dewan gereja asia
  • peran dewan gereja asia bagi kehidupan di asia
  • istilah dewan gereja
  • kata lain dari dewan gereja
  • sejarah dewan gereja asia
  • tugas dewan gereja asia
  • arti dewan gereja
  • nama lain dewan greja

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • nama lain dewan gereja
  • Dewan gereja asia
  • peranan dewan gereja asia
  • peran dewan gereja asia bagi kehidupan di asia
  • istilah dewan gereja
  • kata lain dari dewan gereja
  • sejarah dewan gereja asia
  • tugas dewan gereja asia
  • arti dewan gereja
  • nama lain dewan greja