PENGERTIAN DIAGNOSIS GANGGUAN BIPOLAR

54 views

PENGERTIAN DIAGNOSIS GANGGUAN BIPOLAR – DSM-IV-TR mendefinisikan gangguan bipolar I sebagai gangguan yang mencakup episode mania atau episode campuran yang mencakup simtom-simtom mania dan depresi. Sebagian besar individu yang menderita gangguan bipolar I juga mengalami episode depresi. Diagnosis resmi episode manik memerlukan adanya mood yang melambung atau mudah tersinggung ditambah tiga simtom tambahan (empat jika moodnya mudah tersinggung). Perlu dicatat, beberapa ahli klinis tidak menganggap euforia sebagai simtom utama mania dan melaporkan bahwa mood yang mudah tersinggung dan bahkan karakteristik depresif lebih umum terjadi (a.1., Goodwin & Jamison, 1990). Seperti halnya pada berbagai kategori lain dalam DSM, simtom-simtom yang dialami harus cukup parah sehingga menjadi hendaya dalam keberfungsian sosial dan pekerjaan.
Gangguan bipolar lebih sedikit terjadi dibanding depresi mayor, dengan angka prevalensi sepanjang hidup berkisar satu persen dari populasi (Myers dkk., 1984). Rata-rata usia onsetnya adalah pada usia 20-an, dan tingkat kejadiannya sama banyak pada laki-laki dan perempuan. Pada kaum perempuan, episode depresi lebih umum terjadi dan episode mania lebih jarang terjadi dibanding pada laki-laki (Leibenluft, 1996). Seperti halnya depresi mayor, gangguan bipolar cenderung berulang, lebih dari 50 persen kasus mengalami empat episode atau lebih (Goodwin & Jamison, 1990). Parahnya gangguan ditandai oleh fakta bahwa 12 bulan setelah keluar dari rumah sakit, sebanyak 76 persen pasien dinilai mengalami hendaya dan pada 52 persen pasien episode yang dialami terus berlangsung. Masalah dalam klasifikasi gangguan mood adalah heterogenitasnya yang sangat besar; orang-orang yang mendapatkan diagnosis sama dapat sangat berbeda satu sama lain. Beberapa pasien gangguan bipolar, contohnya, mengalami seluruh simtom-simtom mania dan depresi hampir setiap hari yang disebut episode campuran. Beberapa pasien lain hanya mengalami simtom-simtom mania atau depresi selama episode klinis. Beberapa pasien lain mengalami episode depresi mayor yang disertai hipomania (hipo berasal dari bahasa Yunani yang berarti di bawah, suatu perubahan perilaku dan mood yang tidak seekstrem mania utuh; para pasien tersebut akan memenuhi kriteria gangguan bipolar II dalam DSM-IV-TR. Secara lebih spesifik, episode hipomania hanya perlu berlangsung selama empat hari dan tidak terlalu menimbulkan hendaya sosial atau pekerjaan, sedangkan episode mania harus berlangsung sekurang-kurangnya seminggu dan ditandai hendaya dalam sosial dan pekerjaan sangat terganggu.

Beberapa pasien depresi dapat didiagnosis mengalami ciri-ciri psikotik jika mereka mengalami delusi atau halusinasi. Adanya delusi tampaknya berguna untuk menjadi pembeda di antara orang-orang yang menderita depresi unipolar (Johnson, Horvath, & Weissman, 1991); para pasien depresi yang mengalami delusi secara umum tidak merespons dengan baik obat-obatan yang biasa diberikan kepada penderita depresi, namun mereka merespons dengan baik terhadap obat-obatan tersebut jika dikombinasikan dengan obat-obatan yang biasa digunakan untuk menangani gangguan psikotik lain, seperti skizofrenia. Terlebih lagi, depresi dengan cffi-oeciri psikotik lebih parah dibanding depresi tanpa delusi dan menyebabkan hendaya sosial yang lebih parah serta jeda waktu yang lebih pendek antarepisode (Coryell dkk., 1996).
Berdasarkan DSM-IV-TR, beberapa pasien depresi dapat memiliki ciri-ciri melankolik. Dalam DSM, istilah melanholih merujuk pada suatu pola spesifik simtomsimtom depresif. Para pasien yang memiliki ciri-ciri melankolik tidak mendapatkan kesenangan dalam aktivitas apa pun dan tidak dapat merasa lebih baik walaupun hanya sementara ketika terjadi sesuatu yang menyenangkan. Mood mereka yang tertekan memburuk pada pagi hari. Mereka bangun sekitar dua jam lebih pagi. kehilangan nafsu makan dan berat badan, dan merasa sangat lemas atau terlalu bersemangat. Para individu tersebut umumnya merespons dengan baik berbagai terapi biologis. Berbagai studi mengenai validitas perbedaan antara depresi dengan atau tanpa ciri-ciri melankolik menunjukkan hasil yang bervariasi. Salah satu studi, contohnya, menemukan bahwa para pasien dengan ciri-ciri melankolik memiliki lebih banyak komorbiditas (a.1., dengan gangguan anxietas), episode yang lebih sering, dan hendaya yang lebih parah, menunjukkan bahwa hal itu pada dasarnya merupakan tipe depresi yang lebih parah (Kendler, 1997). Episode manik maupun depresif dapat ditandai dengan ciri-ciri katatonik, seperti immobilitas motorik atau berlebihan dan aktivitas yang tidak bertujuan. Episode manik maupun depresif juga dapat terjadi dalam empat minggu setelah melahirkan; dalam kasus ini episode tersebut diberi catatan terjadi pascamelahirkan (postpartum).

Terakhir, DSM-IV-TR menyebutkan bahwa gangguan bipolar dan unipolar dapat disubdiagnosis sebagai gangguan musiman jika terdapat hubungan rutin antara suatu episode dan musim tertentu dalam satu tahun. Sebagian besar penelitian memfokuskan pada depresi yang terjadi pada musim dingin, dan penjelasan yang paling sering diberikan adalah gangguan itu berhubungan dengan lebih pendeknya waktu siang hari. Berkurangnya cahaya memang menyebabkan berkurangnya aktivitas neuron-neuron serotonin hipotalamus. Neuron-neuron tersebut mengatur beberapa perilaku, seperti tidur yang merupakan bagian dari sindrom terkait (Schwartz dkk., 1997). Terapi bagi depresi musim dingin ini termasuk memaparkan pasien pada cahaya putih terang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *