PENGERTIAN DIATHESIS-STRES – Suatu paradigma yang lebih umum dari yang telah kita bahas sebelumnya, yang disebut diathesis-stres, mengaitkan faktor-faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Paradigma ini tidak terbatas pada satu bidang pemikiran tertentu, seperti belajar, kognitif, atau psikodinamik. Paradigma ini berfokus pada interaksi antara suatu predisposisi terhadap penyakit—yaitu diathesis—dan gangguan-gangguan lingkungan, atau hidup—yaitu stres. Secara lebih tepat dia thesis merujuk pada suatu predisposisi pembentuk penyakit, namun istilah tersebut dapat diperluas untuk merujuk setiap karakteristik atau serangkaian karakteristik yang dimiliki seseorang yang memper-tinggi risikonya untuk mengalami suatu gangguan.

Dalam bidang biologi, sebagai contoh, sejumlah gangguan yang dibahas dalam bab-bab berikutnya tampaknya memiliki diathesis yang diturunkan secara genetik. Yaitu, memiliki kerabat dekat yang menderita gangguan tersebut sehingga memiliki kesamaan genetik pada tingkat tertentu yang meningkatkan risiko seseorang untuk menderita gangguan yang sama. Walaupun ciri-ciri tepat diathesis genetik tersebut hingga saat ini tidak diketahui (sebagai contoh, kita tidak mengetahui dengan pasti apa yang diturunkan secara genetik yang membuat seseorang lebih mungkin menderita skizofrenia dibanding orang lain), jelaslah bahwa predisposisi genetik merupakan komponen penting dalam banyak psikopa tologi. Dia thesis biologis lainnya termasuk kekurangan oksigen pada saat dilahirkan, gizi buruk, dan infeksi virus ketika hamil atau merokok selama kehamilan. Masing-masing kondisi tersebut dapat menyebabkan berbagai perubahan pada otak yang memicu psikopatologi. Dalam bidang psikologis, suatu diathesis bagi depresi dapat berupa rangkaian kognitif yang telah disebutkan sebelumnya, rasa tidak berdaya yang kronis yang kadangkala terdapat pada orang-orang yang menderita depresi. Atau, berdasarkan pandangan psikodinamika, rasa ketergantungan yang ekstrem pada orang lain, mungkin dikarenakan frustrasi pada salah satu tahap psikoseksual, juga dapat menjadi diathesis depresi. Diathesis psikologis lainnya termasuk kemampuan untuk dihipnotis dengan mudah, yang mungkin merupakan diathesis gangguan identitas disasosiatif (yang sebelumnya disebut gangguan kepribadian ganda), dan ketakutan menjadi gemuk yang sangat mendalam, yang memicu gangguan makan.

Berbagai diathesis psikologis tersebut dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab. Beberapa di antaranya, seperti mudah dihipnotis, merupakan karakteristik kepribadian yang sebagian dapat ditentukan secara genetik. Yang lainnya, seperti rasa tidak berdaya, dapat diakibatkan oleh pengalaman masa kecil dengan orang tua yang selalu mengkritik dengan kasar. Penyiksaan seksual atau fisik di masa kanakkanak menyebabkan perubahan psikologis yang tampaknya memicu seseorang mengalami sejumlah gangguan yang berbeda. Pengaruh sosiokultural juga memiliki peran penting; sebagai contoh, standar budaya tentang kecantikan dapat memicu ketaku tan menjadi gemuk yang sangat mendalam sehingga memicu beberapa orang mengalami gangguan makan. Paradigma diathesis-stres bersifat integratif karena mencari berbagai penyebab diathesis dari semua sumber informasi yang beragam tersebut. Pada bab-bab berikutnya kita akan melihat bahwa berbagai konsep dari berbagai paradigma utama yang telah kita bahas sebelumnya dapat diterapkan secara berbeda pada berbagai gangguan yang berbeda. Sebagai contoh, diathesis yang ditentukan secara genetik memiliki peran penting dalam skizofrenia. Diathesis kognitif, secara kontras, lebih berpengaruh dalam gangguan anxietas dan depresi. Suatu paradigma diathesis-stres memungkinkan kita mengambil berbagai konsep dari banyak sumber dan banyak atau sedikitnya konsep tersebut digunakan akan tergantung pada gangguan terkait.

Memiliki diathesis untuk suatu gangguan meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan tersebut, namun sama sekali tidak menjamin bahwa ia pasti akan meng-alaminya. Bagian stres dalam diathesisstres berperan dalam bagaimana suatu diathesis akan menyebabkan terjadinya gangguan secara nyata. Dalam konteks ini secara umum stres merujuk pada beberapa stimulus berbahaya atau tidak menyenangkan yang memicu psikopa tologi. Stresor psikologis mencakup peristiwa traumatik besar (a.1., diberhentikan dari pekerjaan, bercerai, kematian pasangan) dan juga bebagai kejadian yang biasa dialami oleh banyak di antara kita (a.1. terjebak dalam kemacetan). Dengan memasukkan berbagai peristiwa yang terjadi dalam lingkungan tersebut, model diathesis-stres melangkah lebih jauh dari berbagai paradigma besar yang telah dibahas sebelumnya. Poin kunci model diathesis-stres adalah baik diathesis maupun stres penting dalam perkembangan berbagai gangguan. Beberapa orang, sebagai contoh, mewarisi predisposisi biologis yang membuat mereka berisiko tinggi menderita skizofrenia; bila mengalami sejumlah stres, mereka sangat mungkin menderita skizofrenia. Sedangkan orang-orang lain, yang memiliki risiko genetik rendah, tidak akan menderita skizofrenia walaupun kehidupan mereka sangat sulit.

Ciri utama lainnya dalam paradigma diathesis-stres adalah psikopatologi tidak mungkin disebabkan oleh satu faktor tunggal. Suatu diathesis yang diturunkan secara genetik mungkin berperan dalam beberapa gangguan, namun diathesis tersebut tergabung dalam satu jaringan berbagai faktor lain yang juga berperan dalam gangguan tersebut. Faktor-faktor tersebut dapat mencakup berbagai diathesis yang diturunkan secara genetik bagi berbagai karakteristik kepribadian lainnya; pengalaman masa kecil yang membentuk kepribadian, perkembangan berbagai kompetensi behavioral; dan strategi menghadapi stres; berbagai stresor yang dialami di masa dewasa; pengaruh budaya; dan berbagai faktor lainnya.

Akhirnya, kita perlu mencatat bahwa dalam kerangka kerja ini data yang dikumpulkan oleh para peneliti yang menganut berbagai paradigma yang berbeda bukannya tidak sesuai satu sama lain. Sebagai contoh, stres mungkin diperlukan untuk mengaktifkan suatu predisposisi terhadap ketidakseimbangan biokimiawi. Beberapa perbedaan di antara berbagai paradigma ternyata lebih merupakan perbedaan bahasa dan bukan substantif. Seorang teoris kognitif mungkin berpendapat bahwa kognisi maladaptif menyebabkan depresi, sedangkan seorang teoris biologis mungkin berbicara tentang rendahnya aktivitas jalur saraf tertentu. Kedua posisi tersebut tidak saling bertentangan, namun hanya mencerminkan tingkat penggambaran yang berbeda, seperti halnya kita dapat menggambarkan meja sebagai potongan kayu dengan bentuk tertentu atau sebagai sekumpulan atom.

Filed under : Bikers Pintar,