Advertisement
  1. Teori Frustrasi-Agresi atau teori “kambing-hitam”

Jika seseorang mengalami frustrasi dan tidak dapat menemukan alasannya atau tidak dapat mengatasi sumber penyebab dari frustasi itu, orang akan mencari kambing-hitam untuk dijadikan sasaran prasangka dan agresinya. Inilah sebabnya mengapa lynching dalam penelitian Hovland & Sears (1940) lebih banyak terjadi di daerah miskin daripada daerah yang kaya. Di Jerman, Yahudi dianggap sebagai sumber keruntuhan dan kekacauan ekonomi Jerman setelah Perang Dunia I sehingga mereka menjadi sasaran prasangka (Allport, 1958). Tentang teori Frustrasi-Agresi ini, ada sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Miller & Bugelski (1948). Sejumlah mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan perkemahan musim panas (summer camp) dilibatkan dalam eksperimen ini. Pada suatu saat, sebagian dari mereka diminta tetap tinggal di perkemahan untuk mengerjakan tes, sementara yang lain boleh acara bebas (acara bebas ini sudah dinanti-nanti oleh semua peserta perkemahan). Setelah itu, kedua kelompok diminta untuk mengisi kuesioner tentang prasangka terhadap orang Jepang dan Meksiko. Ternyata hasilnya adalah bahwa yang tinggal di untuk melakukan tes menunjukkan prasangka yang lebih negatif terhadap orang Jepang dan Meksiko daripada ‘yang beracara bebas.

  1. Kebutuhan akan status dan merasa memiliki kelompok (sense of belonging)

Faktor penyebab yang satu ini ada kaitannya dengan perasaan in group-out group.Hitler dan Bung Karno sama-sama menciptakan musuh bersama (out group) untuk menggalang rasa saling memiliki antara sesama orang Jerman dan bangsa Indonesia (in group). Musuh bersama yang diciptakan Hitler adalah Yahudi, sedangkan Bung Karno menciptakan Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme). Dengan ikatan perasaan saling memiliki itu satu kelompok dapat sangat kompak dan militan.

Advertisement

Bahkan, menurut Harik (1996) anggota-anggota bawahan kelompok militan Hisbullan di Palestina mempunyai kadar keagamaan dan aliansi politik yang rendah. Mereka menjadi militan sekadar setia kawan dan merasa sebagai orang Hisbullah. Pimpinan merekalah yang ekstrem.

  1. Kepribadian otoriter

Adorno, dkk. (1950) melaporkan bahwa dari survei mereka terhadap orang-orang Amerika dewasa pada tahun 1990 ternyata prasangka dan sikap bermusuhan terhadap orang Yahudi selalu bersamaan dengan prasangka dan permusuhan terhadap golongan minoritas lain. Dengan perkataan lain, orang yang mempunyai prasangka akan berprasangka kepada semua golongan, sementara orang yang tidak berprasangka tidak mempunyainya sama sekali. Ini berarti bahwa prasangka lebih disebabkan oleh kepribadian, bukan oleh sikap.

Bukti lain dari kepribadian otoriter sebagai penyebab prasangka adalah hasil penelitian Wilie & Forest (1992) bahwa kepribadian yang otoriter berkorelasi dengan fundamentalisme agama.

Di Afrika Selatan, walaupun prasangka didorong oleh ketidakseimbangan sosial, sosialisasi dan konformitas (LouwPotgieter,1988),tetapiyangsangatmendukungbaikdiskriminasi maupun segregasi ternyata adalah orang-orang dengan kepribadian otoriter (van Staden, 1987). Demikian juga dalam rezim-rezim yang represif di seluruh dunia, orang-orang yang menjadi penyiksa berkepribadian otoriter dan sangat menyukai rantai komando yang hierarkis (Staub, 1989).

Bukti lain lagi adalah bahwa berbagai bentuk prasangka (terhadap kulit hitam, wanita, gays,AIDS, dan lain-lain) ternyata pada diri orang yang sama, yaitu yang berkepribadian otoriter (Bierly, 1985; Crandal, 1994).

Sebaliknya, faktor kepribadian lain yang juga dapat menimbulkan prasangka adalah kegemukan pada wanita (Lewis & Maltby, 1995), faktor kepribadian obsesif-kompulsif (Higgins, Pollard & Merkel, 1992) dan peningkatan usia (Pratt, dkk., 1992) yang semuanya berkorelasi positif dengan prasangka agama.

Faktor kognitif

Seperti sudah dikemukakan di atas, sebagaimana halnya dengan sikap, prasangka dapat bersumber pada skema atau kategorisasi kognitif seseorang. Demikian pula prasangka dapat timbul karena adanya rangsang yang secara mencolok sangat berbe’da dari lingkungannya. Misalnya, orang Eropa di tengah penduduk desa di Jawa Tengah akan menimbulkan berbagai prasangka karena bentuk fisiknya yang lain daripada yang lain sehingga segera menimbulkan disonansi kognitif. Dalam hubungan ini terjadi proses generalisasi. Kalau “bule” yang pertama datang ke kampung itu membawa cokelat, penduduk akan menyangka bahwa bule-bule yang berikutnya datang ke kampung itu semua akan membawa cokelat.

Dalam masalah terorisme, misalnya, karena pengalaman beberapa kali menunjukkan bahwa teroris adalah orang Islam dan Arab, Islam dan Arab dianggap sebagai teroris. Bahkan, di Amerika Serikat ternyata orang kulit putih berpendapat bahwa jumlah orang kulit hitam di negara itu adalah 32% dan orang Hispanic berjumlah 21%. Padahal, yang benar adalah bahwa kulit hitam berjumlah 12% dan Hispanic berjumlah 9% saja dari populasi (Gallup poll, 1990).

Akhirnya, kejadian-kejadian yang luar biasa yang kebetulan terjadi bersamaan, juga dapat memicu prasangka karena terjadi proses menghubungkan antarelemen kognitif. Misalnya, terjadi pembunuhan (satu perisitwa) dan pelakunya adalah homo,  (peristiwa kedua), dalam media massa pasti dipaparkan tentang segala hal yang berkaitan dengan homo, seakanakan homoualitas itu berkait langsung dengan pembunuhan (padahal, pembunuhan dapat dilakukan oleh siapa saja). Gejala seperti ini dinamakan           (illusory correlation) (Myers, 1966).

 

Incoming search terms:

  • dinamika kepribadian
  • pengertian dinamika kepribadian
  • definisi dinamika kepribadian
  • yang dimaksud dinamika kepribadian

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • dinamika kepribadian
  • pengertian dinamika kepribadian
  • definisi dinamika kepribadian
  • yang dimaksud dinamika kepribadian