Advertisement

Salah satu perilaku yang hampir selalu menimbulkan disonansi adalah pengambilan keputusan. Bila kita harus mengambil keputusan di antara dua alternatif atau lebih pilihan apa pun yang kita ambil sampai tahap tertentu tidak akan konsisten dengan beberapa keyakinan kita. Setelah kita mengambil keputusan, semua aspek yang baik dari alternatif yang tidak dipilih, dan semua aspek yang buruk dari alternatif yang dipilih menjadi tidak sesuai dengan keputusan. Jika kita memutuskan untuk membeli Mercedes-Benz untuk menggantikan Pinto, kecepatan dan gaya Mercedes, dan kekakuan dan kesederhanaan Pinto, menjadi sesuai dengan keputusan. Tetapi harga dan biaya perbaikan Mercedes yang mahal, dan ketidakmahalan Pinto, menjadi tidak sesuai. Disonansi ini dapat dikurangi dengan mengubah penilaian kita terhadap alternatif yang dipilih dan yang tidak dipilih. Peningkatan penilaian kita terhadap alternatif yang dipilih akan mengurangi disonansi, karena segala sesuatu yang bersifat positif tentang alternatif itu akan sesuai dengan keputusan. Disonansi juga dapat dikurangi dengan merendahkan penilaian terhadap alternatif yang tidak dipilih. Semakin kurang menarik alternatif tersebut, semakin kurang disonansi yang akan timbul dengan memilih alternatif yang lain. Oleh sebab itu, setelah orang mengambil keputusan, ada kecenderungan untuk meningkatkan rasa suka mereka terhadap pilihannya dan untuk mengurangi kesukaannya terhadap apa yang tidak mereka pilih.

Penelitian yang dilakukan oleh Brehm (1956) memperlihatkan efek ini. Kepada para mahasiswi diperlihatkan delapan buah produk, seperti misalnya alat pemanggang roti, stopwatch, dan radio, dan mereka diminta untuk menunjukkan sejauh mana keinginan mereka untuk memiliki masing-masing benda tersebut. Kemudian, kepada mereka diperlihatkan dua dari delapan produk itu dan diberitahu bahwa mereka akan diberi produk mana saja yang mereka pilih. Setelah objek dipilih dan subjek menerima produk yang telah mereka pilih, mereka diminta untuk menilai kembali semua benda-benda itu. Pada penilaian yang kedua, terdapat kecenderungan yang kuat dari para mahasiswi itu untuk meningkatkan penilaian mereka terhadap barang yang telah mereka pilih dan mengurangi penilaian mereka terhadap barang-barang lain. Kelompok kendali tanpa disonansi (diperlihatkan pada baris bawah dalam tabel) me-nunjukkan bahwa efek itu terutama berkaitan dengan penurunan disonansi. Para mahasiswi ini membuat penilaian yang pertama, tetapi—tanpa pemilihan berikutnya antara dua benda dan menerima pilihannya—mereka hanya diberi satu dari produk yang mereka nilai tinggi. Ketika mereka menilai kembali semua produk tersebut, mereka tidak memperlihatkan kecenderungan untuk meningkatkan penilaian terhadap objek yang mereka miliki. Hal ini memperlihatkan bahwa penilaian kembali tidak hanya berkaitan dengan rasa bangga terhadap hak milik—pengambilan keputusan merupakan faktor yang kritis.

Advertisement

Kecenderungan terhadap penilaian kembali terutama menjadi kuat bila pada mulanya kedua alternatif dinilai sebagai dua hal yang mempunyai daya tarik yang hampir sama. Anggaplah bahwa Anda sedang berusaha memilih antara mobil Ford dan Toyota, dan pada mulanya Anda lebih memilih mobil. Fprd. Anda hanya akan menemui sedikit kesulitan dalam memutuskan dan setelah itu mengalami sedikit disonansi. Ada sedikit alasan mengapa Anda perlu membuat pilihan yang berlawanan dan oleh sebab itu, terdapat sedikit disonansi. Karena terdapat sedikit disonansi, maka timbul perubahan yang relatif kecil dalam penilaian Anda terhadap kedua alternatif. Di lain pihak, jika mobil Ford dan Toyota itu mempunyai penilaian yang hampir sama bagi Anda, sebelum keputusan tersebut diambil, akan timbul banyak sekali disonansi. Semakin banyak alasan yang Anda miliki untuk memilih Toyota, semakin banyak disonansi yang ditimbulkan oleh pemilihan Ford. Jadi, bila dua alternatif memilik daya tarik yang hampir sama, akan timbul banyak disonansi Setelah keputusan diambil, diperlukan penilaian kembali yang lebih baik terhadap kedua alternatif itu. Brehm juga menguji gagasan ini. Kepada beberapa wanita, dia memberikan pilihan antara produk yang mereka nilai paling tinggi dan produk yang menurut mereka mempunyai nilai satu poin kurang dari produk tertinggi. Wanita yang lain diberi pilihan antara produk yang mempunyai nilai paling tinggi dan produk yang, rata-rata, mempunyai nilai dua atau satu setengah poin kurang dari produk tertinggi. Kedua kondisi itu sangat berbeda dalam jumlah penurunan disonansi yang dihasilkan setelah pemilihan.

Bila pada mulanya produk-produk itu dinilai jauh berbeda (kondisi disonansi-rendah) terdapat penurunan disonansi sebesar 0,37 poin skala; bila produk-produk itu dinilai hampir sama (kondisi ketidaksesuaian-tinggi), terdapat penurunan disonansi sebesar 0,85 poin skala. Seperti yang diprediksi teori, semakin dekat nilai sejumlah alternatif pada mulanya semakin banyak disonansi yang ditimbulkan oleh suatu keputusan dan semakin banyak perubahan sikap yang terjadi setelah keputusan itu dibuat. Disonansi sering timbul bila, dengan bersungguh-sungguh melakukan suatu tindakan tertentu, kita menemukan bahwa hasilnya tidak konsisten dengan apa yang kita harapkan. Berikut ini adalah reaksi suatu kelompok yang memprediksi datangnya hari akhir dunia. Mereka berpikir dunia akan berakhir pada suatu hari tertentu, tetapi mereka akan diselamatkan oleh sebuah pesawat dari angkasa luar. Kelompok tersebut merahasiakan hal ini, menghindari publisitas, dan pada j umumnya tidak banyak bicara tentang kepercayaannya. Bila hari yang menentukan itu tiba dan berlalu tanpa adanya kehancuran dunia, pada awalnya mereka akan sangat tergoncang. Namun respons mereka bukanlah menghentikan keyakinan mereka dan kembali ke kehidupan normal. Ini tidak akan mengurangi disonansi yang ditimbulkan oleh segala usaha yang telah mereka rancang. Sebaliknya mereka memutuskan bahwa kedatangan hari tersebut ditunda, dan saat akhir dunia tetap akan datang. Kemudian mereka mengubah gaya mereka. Tidak lagi bersikap tenang dan menghindari publisitas, mereka menyatakan bahwa usaha mereka itu menunda tibanya akhir dunia. Dan mereka menjadi lebih aktif dalam usaha memperoleh pendukung yang baru (Festinger, Riecken & Schachter, 1956). Nampaknya, hal ini membantu mengurangi disonansi yang mereka alami, yaitu dengan memperlihatkan bahwa kepercayaan mereka pada dasarnya benar, dan kenyataannya, makin banyak orang menerima gagasan ini. Bagian dari daya tarik teori disonansi kognitif adalah bahwa teori ini sering menimbulkan prediksi yang berlawanan dengan intuisi. Dalam kasus ini, akal sehat kita mungkin menyatakan bahwa kelompok itu akan membubarkan diri setelah prediksinya gagal total. Tetapi, teori disonansi memprediksi bahwa ketiadaan bukti mi tidak akan membuat mereka membuang teori mereka tetapi justru membuat mereka makin berusaha keras mempertahankan teori itu. Dan itulah yang terjadi.

Perilaku yang Tidak Sesuai dengan Sikap Situasi lain di mana teori disonansi kognitif paling sering diterapkan adalah situasi perilaku yang tidak sesuai dengan sikap. Bila seorang individu mempunyai keyakinan dan melakukan tindakan yang tidak konsisten dengan keyakinan itu, maka akan timbul disonansi. Penganut paham perdamaian yang menjadi anggota marinir akan mengalami disonansi. Dia dapat mengurangi disonansi ini dengan mengubah sikapnya terhadap paham perdamaian. Bila seseorang melakukan perilaku yang tidak sesuai dengan sikap, dia pasti mengalami disonansi dan ada kecenderungan untuk mengubah sikapnya. Perhatikan bahwa hal ini mengasumsikan bahwa unsur lain dalam situasi (pengetahuan bahwa mereka melakukan perilaku) tidak mudah berubah. Dalam kenyataannya, orang melakukan tindakan dan menemukan kesulitan untuk meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka tidak melakukannya. Sebagian besar tekanan itu harus dikurangi dengan mengubah sikap.

Advertisement