Advertisement

“keanekaan”, “keragaman”, atau “keanekaragaman”, adalah ukuran variasi dalam komunitas ekologi. Keanekaan dalam suatu komunitas didasarkan pada tiga aspek, yaitu ruang (spasial), waktu (temporal), dan makanan (trofik). Semua aspek tersebut berhubungan dengan diferensiasi relung.

Ragam penggunaan ruang bertambah dengan meningkatnya stratifikasi vertikal (berdasarkan bentuk pertumbuhan serta kekuatannya dalam persaingan akan kebutuhan ruang, cahaya, air, dan zat hara) dan horizontal (penyebaran organisme, terutama tumbuhan melalui permukaan tanah atau melintasi tajuk hutan). Stratifikasi ini menyediakan lebih banyak habitat mikro untuk dimanfaatkan dan relung untuk diisi. Hewan dapat membagi-bagi habitat di antara sesamanya. Makin kecil pembagiannya, makin banyak jenis yang dapat hidup bersama. Keanekaan tumbuhan dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan dalam tipe tanah, drainase, kandungan hara, letak tinggi, dan sebagainya.

Advertisement

“Perubahan temporer” dalam penggunaan habitat juga meningkatkan keanekaan. Yang paling jelas adalah perubahan musim. Di daerah beriklim sedang, tumbuhan bunga musim semi memberikan tempatnya kepada tumbuhan bunga musim panas dan musim gugur. Jenis-jenis yang aktif di siang hari digantikan oleh yang aktif di malam hari. Perubahan temporer dan pergantian demikian meningkatkan keanekaan jenis dalam komunitas.

Perbedaan dalam “penggunaan makanan”, terutama perbedaan kecil dalam kebiasaan makan di antara jenis yang ada dalam satu tingkat trofik, meningkatkan keanekaan. Misalnya, beberapa jenis hewan ungulata adalah hewan perambah, artinya memakan tumbuhan berkayu, sedangkan jenis lainnya memakan tumbuhan herba. Selain itu, ada yang menyukai tumbuhan muda, ada pula yang menyukai tumbuhan dewasa.

Dalam beberapa hal, diversitas sering dihubungkan dengan kestabilan ekosistem. Ekosistem yang terdiri atas sedikit spesies, atau yang dikatakan mempunyai struktur trofik sederhana, biasanya lebih peka terhadap perubahan ekologi besar-besaran, dibandingkan dengan ekosistem yang struktur trofiknya rumit.

Makin banyak spesies ditemukan dengan relung hidupnya, makin banyak jalan bagi sistem dalam menghadapi tekanan lingkungan, dan makin efisien penggunaan materi dan energi. Misalnya, pada ekosistem darat di daerah Kutub Utara, seluruh sistem akan ambruk jika produksi lumut kerak, sumber utama kehidupan di sana, terganggu. Sebaliknya, pada sistem di daerah beriklim sedang atau tropis, tempat persediaan berbagai sumber makanan dapat saling menggantikan, lenyapnya salah satu jenis jasad hidup tidak membahayakan keseluruhan sistem.

Jadi, struktur trofik yang rumit secara ekologi lebih kuat dan lebih mantap daripada sistem yang lebih sederhana. Sejalan dengan hal tersebut, fakta memperlihatkan bahwa suatu daerah atau kota yang mempunyai berbagai sumber daya alam secara ekonomi akan lebih stabil daripada yang hanya bergantung pada satu sumber saja.

Manusia mempunyai pengaruh besar terhadap keanekaan spesies di muka bumi ini. Kegiatan pertanian, yang pada hakikatnya merupakan pengelolaan rantai makanan oleh manusia, cenderung mengarah ke penyederhanaan sistem dan pemendekan rantai makanan.

Manusia membajak padang rumput dan membasmi ratusan jenis herba dan rumput asli untuk digantikan dengan tanaman jagung, gandum, atau hijauan makanan ternak. Hal ini meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan hasil. Akan tetapi, kepekaan dan ketidakstabilan ekologi bertambah. Kalau terjadi serangan oleh satu macam hama saja, seluruh tanaman yang hanya sejenis tersebut akan rusak atau binasa. Hal ini bisa dihindari jika tanaman itu dilindungi dengan bahan atau obat-obatan kimia, seperti pestisida, dan pertumbuhannya ditunjang dengan pupuk buatan. Oleh karena itu, pertanian modern membutuhkan energi lebih besar untuk memproduksi pupuk, pestisida, dan mengoperasikan alat-alat berat untuk menanam atau memanen hasilnya.

Selain keanekaan biologis, ada pula keanekaan budaya yang diinginkan demi tujuan bersama, yaitu kerja sama menghindari kerusakan lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup semua warga dunia. Politik monokultur, seperti juga pertanian monokultur, dapat dengan mudah binasa jika kondisi berubah. Oleh karena itu, kita harus hidup dan berperilaku secara simultan pada tiga tingkat budaya, yaitu mikro kultur, makrokultur, dan superkultur.

Incoming search terms:

  • pengertian diversitas
  • diversitas adalah
  • Diversitas
  • apa itu diversitas
  • arti diversitas
  • definisi diversitas
  • pengertian Superkultur
  • pengertian makrokultur
  • pengertian difersitas
  • pengertian diversitas tanaman

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian diversitas
  • diversitas adalah
  • Diversitas
  • apa itu diversitas
  • arti diversitas
  • definisi diversitas
  • pengertian Superkultur
  • pengertian makrokultur
  • pengertian difersitas
  • pengertian diversitas tanaman