Advertisement

Surat kabar berbahasa Jawa di Surakarta yang mulai terbit pada tanggal 5 Januari 1865 dan kemudian diubah namanya menjadi Bromartani pada tahun 1871. Perubahan nama itu dilakukan atas permintaan Sri Susuhunan Paku Buwono IX, untuk mengenang surat kabar dengan nama sama yang jaga diterbitkan di Surakarta hanya selama satu tahun, 29 Maret 1855 sampai 20 Maret 1856.

Bromartani generasi kedua ini mungkin merupakan surat kabar berbahasa pribumi yang pertama kali terkena delik pers, yaitu pada tahun 1896. Penerbitnya dijatuhi hukuman denda karena menyiarkan tulisan yang menuduh seorangpanewu polisi (polisi kewedanaan) melakukan tindak pidana.

Advertisement

Surat kabar ini selama hidupnya yang hampir 70 tahun, sampai Februari 1932, mengalami empat kali pergantian pemimpin redaksi. Mula-mula surat kabar ini dipimpin oleh F.W. Winter dan Ch. Moodly, kemudian Soedarmanto dan Raden Hardjopoespito pada tahun 1925. Sesudah itu nama pemimpin redaksinya tidak disebutkan walaupun diketahui bernama Raden Ngabei Tjondropradoto.

Sikap surat kabar ini pada umumnya dikesankan loyal terhadap pemerintah Hindia Belanda. Hal ini berbeda dengan sikap politik surat kabar “kembar” berbahasa Jawa dan Melayu, Djawi Kondo dan Djawi Hisworo yang juga diterbitkan di Surakarta, yang anti Barat dan gemar memuat berita pelanggaran hukum oleh orang Eropa.

Isi Bromartani baru alias Djoeroemartani tidak hanya berupa berita lokal, tetapi juga berita “luar negeri,” yakni yang berasal dari luar daerah Kesunanan Surakarta. Surat kabar ini sering pula memuat berita tentang keluarga dan pegawai keraton, termasuk pengangkatan dan alih tugas para pejabat kesunanan.

Advertisement