Advertisement

Dalam contoh kasus di awal, ada dua macam sikap terhadap uang pemberian Bapak Dulkoming (objek sikap). Yang pertama adalah sikap yang positif (Bapak Kepala Sekolah, Pak Darwis dan Bu Lastri) dan yang kedua adalah sikap negatif (Fat dan Noel). Kedua macam sikap itu didasarkan oleh pengetahuan dan kepercayaan (domainatau bagian kognitif) yang berbeda, sehingga menimbulkan perasaan afektif) dan kecenderungan bertingkah laku  konatif) yang berbeda pula. Pak Kepala Sekolah dan kawan-kawan yakin bahwa pemberian itu bukan suap melainkan sekadar ucapan terima kasih dan masalah pergaulan serta sopan santun. Karena itu, mereka senang saja menerima uang itu dan akhirnya mereka mau menerima uang itu. Sebaliknya, menurut Fat dan suaminya, uang itu adalah suap, melanggar aturan, dan melanggar agama. Karena itu, perasaan yang timbul adalah tidak senang, gelisah, dan mereka tidak mau menerima uang tersebut.

Jadi, sikap itu mengandung 3 bagian (domain). Ketiga sikap itu adalah kognitif, afektif, dan konatif (Allport, 1954a; Hilgard, 1980; McGuire, 1969; Ajzen, 1988). Myers (1996) memberikan istilah yang lebih mudah diingat, yaitu (perasaan), Behavior(perilaku), dan Cognitive(kesadaran) yang disingkat: ABC.

Advertisement

Karena ketiga domain itu saling terkait erat, timbul teori bahwa jika kita dapat mengetahui kognisi dan perasaan seseorang terhadap suatu objek sikap tertentu, kita akan tahu pula kecenderungan perilakunya. Dengan demikian, kita dapat meramalkan perilaku dari sikap yang dampaknya besar sekali dalam penerapan psikologi, karena dapat dimanfaatkan baik dalam hubungan antarpribadi, dalam konseling maupun hubungan antarkelompok.

Namun, dalam kenyataan tidak selalu suatu sikap tertentu berakhir dengan perilaku yang sesuai dengan sikap tersebut. Pak Kepala Sekolahdanteman-temannyamemangberperilaku (menerima uang) yang sesuai dengan sikapnya (positif). Akan tetapi, Fat dan Noel, akhirnya menerima uang itu juga walaupun tidak sesuai dengan sikapnya (negatif). Dalam contoh sehari-hari sering kita alami ketidaksesuaian antara sikap dan perilaku seperti itu. Orang yang suka sekali makan nasi goreng (sikap positif) pada saat-saat tertentu tidak mau makan nasi goreng (misalnya, sudah kenyang, karena terlalu mahal, teman-temannya lebih menyukai makanan lain dan sebagainya). Sebaliknya, orang yang sudah sangat malas ke sekolah (sikap negatif) tetap saja bersekolah terus (karena disuruh orangtua, tidak tahu apa yang harus dilakukan kalau tidak sekolah, diancam guru, dan sebagainya). Menurut Triandis (1982), ketidaksesuaian antara perilaku dan sikap disebabkan karena ada 40 faktor (selain sikap) yang terpisah-pisah yang mempengaruhi perilaku. Karena itu, para pakar psikologi sosial mulai menyelidiki sampai seberapa jauh sikap dapat meramalkan perilaku.

Incoming search terms:

  • domain sikap
  • domain perilaku
  • pengertian domain perilaku
  • contoh sikap berdasarkan domain Affect behaviour dan cognition
  • domestik domain sikap
  • domain perilaku adalah
  • domain dalam perilaku
  • contoh sikap berdasarkan domain abc
  • contoh domain abc
  • triandis ketidak sesuaian perilaku dan sikap

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • domain sikap
  • domain perilaku
  • pengertian domain perilaku
  • contoh sikap berdasarkan domain Affect behaviour dan cognition
  • domestik domain sikap
  • domain perilaku adalah
  • domain dalam perilaku
  • contoh sikap berdasarkan domain abc
  • contoh domain abc
  • triandis ketidak sesuaian perilaku dan sikap