Advertisement

Kumpulan sajak penyair Sapardi Djoko Damono (lahir 1941), diterbitkan oleh pelukis Jeihan di Bandung tahun 1969. Kumpulan sajak yang berjumlah 42 sajak itu ditulis tahun 1967-1968. Kumpulan ini mencerminkan sikap perfeksionis penyairnya dalam menyusun kata-kata. Pemilihan setiap kata, penempatannya, penggunaan huruf besar, koma dan tanda kurung, diperhitungkan benar-benar dengan makna pikir dan makna rasa yang diinginkan. Ciri-ciri ini dipertahankan penyairnya dalam kumpulan selanjutnya. Tema utama kumpulan ini adalah kesunyian dan kerinduan manusia terhadap Tuhan sehingga kritikus Goenawan Mohamad menamakan buku ini sebagai “Nyanyi Sunyi Kedua”, yaitu kumpulan sajak Pujangga Baru, Amir Hamzah, yang bertema serupa. Keistimewaan gaya kepenyairan Sapardi Djoko Damono, yang dapat melihat hal-hal istimewa dalam peristiwa sederhana, diungkapkan dengan bahasa yang jernih dalam imajinasi yang samar sehingga pembaca bebas memberi makna sajaknya.

Kedudukan buku puisi Sapardi ini cukup penting dalam sejarah sastra Indonesia modern karena sejak terbitnya buku ini muncul gaya pengucapan dan tema yang serupa di kalangan penyair muda. Hanya dalam hal perfeksionisme, Sapardi tetap sulit memperoleh ; peniru yang setaraf.

Advertisement

Incoming search terms:

  • dukamu abadi
  • analisis puisi dukamu abadi
  • arti puisi dukamu abadi
  • makna dari dukamu
  • makna puisi dukamu abadi
  • makna puisi sarpadi djoko damono dukamu abadi
  • puisi dukamu
  • puisi dukamu abadi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • dukamu abadi
  • analisis puisi dukamu abadi
  • arti puisi dukamu abadi
  • makna dari dukamu
  • makna puisi dukamu abadi
  • makna puisi sarpadi djoko damono dukamu abadi
  • puisi dukamu
  • puisi dukamu abadi