PENGERTIAN DUNIA KETIGA ADALAH – Dalam banyak hal status kaum wanita di masyarakat negara sedang berkembang kontemporer sangat menyerupai dengan yang dijumpai pada masyarakat agraris masa lampau (Ward, 1985). Dalam sektor pertanian petani pria cenderung mendominasi pekerjaan pertanian, dan kontrol ekonomi u1i memberi mereka pengawasan atas sektor-sektor kelembagaan utama kehidupan sosial lairmya. Jadi, hubungan patriarkhi yang kuat di antara kedua jenis kelamin itu adalah ciri-ciri kehidupan petani yang menyeluruh di Dunia Ketiga, di mana dikhotomi luar-da.lam agraris lama tetap kuat bertahan.

Di luar sektor pertanian, peranan kerja tentu saja sangat berbeda, tetapi status wanita ternyata masih sangat rendah. Kaum wanita cenderung berkonsentrasi pada pekerjaan-pekerjaan yang dibayar paling rendah dan dengan . prestis sosial yang paling rendah. Mereka paling sedikit terwakili dalam posisiposisi profesional dan manajerial dan terlalu banyak terwakili dalam pekerjaan jasa, khususnya dalam pekerjaan pelayanan rumah tangga seperti memelihara rumah, masak, mengasuh, menjaga anak, dan pelayan. Kaum wanita juga banyak terwakili dalam pekerjaan tangan tradisional seperti pembuatan tembikar, membuat pakaian, membuat keranjang dan tikar, dan menenun (cf. Chinchilla, 1977; Arizpe, 1977). Perubahan akhir-akhir ini dalam organisasi sistem kapitalis dunia mempunyai implikasi penting atas pekerjaan dan status kaum wanita di Dunia Ketiga (cf. Ward, 1985). Dalam dua dekade terakhir ini telah muncul keeenderungan ke arah “pembagian kerja internasional yang baru” (Frobel dkk, 1980). Negara-negara kapitalis yang sudah maju telah melakukan relokasi banyak industri mereka ke dunia yang sedang berkembang sebagai suatu cara menggunakan tenaga kerja mu•ah sehingga mengurangi biaya produksi. Industri yang paling sering mengalami relokasi ialah industri tekstil, dan negara-negara seperti Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Jamaica, Republik Dominika, dan El Sal Vador adalah beberapa dari negara penting di mana relokasi uzi terdapat (Safa, 1981). Para pekerja Dunia Ketiga yang terlibat meliputi kaum wanita, khususnya yang muda dan bujangan. Apa sajakah implikasi dari perubahan-perubaha_n ekonomi utama itu bagi kaum wanita di Dunia Ketiga? Salah satu hasil positif yang mendasar ialah bahwa pekerjaan mereka yang baru memberikan otonomi ekonomi yang baru pula dan memperlonggar pengawasan keluarga, khususnya ayah, atas diri mereka. Namun seperti telah dikemukakan oleh Helen Safa (1981), otonorni ekonomi yang baru ini agaknya disertai oleh suatu bentuk eksploitasi ekonomi yang berat. Pekerjaan-pekerjan yang dilakukan oleh kaum wanita dalam industri yang baru ini memerlukan sedikit sekali keterampilan dan dibayar sangat rendah. Sebagian besar pekerjaan itu sangat menjemukan dan sering meminta periode konsentrasi intens yang lama. Dalam industri elektronik, di mana para pekerja harus menghabiskan banyak waktunya melihat melalui mikroskop, mereka sering mengalami kerusakan penglihatan sesudah beberapa tahun bekerja (Safa, 1981). Lagi pula, bukan saja pembayarannya sangat rendah, tapi pada umumnya tidak ada keuntungan tambahan, seperti halnya pekerja yang mempunyai serikat sekerja atau bentuk organisasi pekerja lainnya yang dapat memperbaiki kondisi. Di banyak negara Dunia Ketiga yang mempunyai industri baru itu, pemerintah telah mengambil tindakan-tindakan tegas untuk mencegah para pekerja yang memprotes (Safa, 1981). Generalisasi mengenai status kaum wanita di Dunia Ketiga adalah sulit, karena ada beberapa variasi yang besar di antara negara yang satu dengan yang lainnya. Namun, pada umumnya kaum wanita menduduki suatu status yang sangat rendah di Dunia Ketiga, dan jelas bahwa posisi mereka itu telah membaik sejalan dengan adanya beberapa perubahan ekonomi akhir-akhir ini. Keadaan Dunia Ketiga yang menyedihkan adalah hal yang serius, dan kaum wanita jelas lebih banyak menanggung beban ini dibandingkan kaum pria.

Filed under : Bikers Pintar,