Advertisement

Konsep efek desakan yang mengacu pada penyusutan kegiatan sektor swasta ketika sektor pemerintah meningkatkan perannya, telah menjadi bahan perdebatan akademik dan politik yang semakin penting. Semua pihak dalam perdebatan itu mempersoalkan pernyataan yang mengatakan bahwa jika perekonomian berada pada kondisi full employment, maka kenaikan belanja pemerintah akan mengurangi belanja sektor swasta. Perdebatan ini terpusat pada dampak kenaikan belanja pemerintah terhadap kondisi full employment itu sendiri. Jika belanja pemerintah bertambah 100 juta dolar, sedangkan kenaikan pendapatan nasional yang terjadi sesudahnya tidak sebanyak itu. maka di situlah terjadi efek desakan. Jadi, efek desakan erat kaitannya dengan konsep penggandaan multiplier dalam makroekonomi. Bahkan sekalipun pendapatan nasional naik lebih dari 100 juta, maka hal itu akan dibarengi dengan lonjakan suku bunga yang menurunkan investasi swasta, sehingga pada akhirnya ada elemen-elemen penting dalam pendapatan nasional itu yang mengalami “desakan”.

Tumbuhnya minat terhadap efek desakan itu berkaitan dengan sengitnya kritik kaum monetaris terhadap kebijakan makroekonomi, baik aspek teoretis maupun empirisnya, setelah terbitnya studi dari Federal Reserve Bank of St. Louis di AS. Meskipun banyak aspek dari hasil studi itu didiskreditkan, pengaruh politiknya ternyata besar. Selain suku bunga, ada variabel-variabel penting lain yang bisa terkena efek desakan. Kenaikan belanja pemerintah bisa saja menyurutkan harapan masyarakat atas produktivitas perekonomiannya di masa mendatang. Atau, investasi yang seringkah sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga itu bisa saja menyusut lebih besar lagi (inilah kasus Knight, mengambil nama perumusnya, ekonom Chicago Frank Knight). Contoh kasus yang diambil kaum monetaris untuk menjelaskan efek desakan itu adalah kasus pembiayaan defisit anggaran pemerintah. Guna memberi dampak tertentu terhadap perekonomian, defisit harus dibuat bertahan cukup lama. namun selama itu pemerintah harus punya cukup dana untuk menutup atau membiayainya (ini bisa dilakukan dengan meminjam, atau mencetak uang baru). Jika langkah yang dipilih adalah meminjam, maka suku bunga akan terdorong naik yang selanjutnya akan menyurutkan inves-tasi. Jika cetak uang yang dipilih, maka akibatnya adalah inflasi. Namun karena pengaruhnya terhadap investasi lebih kecil, maka langkah ini dianggap lebih baik. Meskipun dukungan empirisnya memadai, kaum monetaris gagal meyakinkan pemerintah akan lebih baiknya langkah cetak uang itu untuk membiayai defisit. Rendahnya faktor penggandaan di sejumlah negara, termasuk Inggris, ikut membuat argumen itu kurang menarik. Menurut hitungan Departemen Keuangan Inggris dan model Institut Riset Nasional Keynes, faktor penggandaan jangka panjang di Inggris berkisar antara 1,1 hingga 0,4. Angka ini memang kurang mendukung argumen efek desakan. Konsekuensinya, sekalipun lebih sulit, kebijakan fiskal tetap lebih disukai ketimbang kebijakan moneter dalam rangka menggairahkan perekonomian.

Advertisement

Advertisement