Advertisement

Menggambarkan bunyi bahasa dengan standardisasi kaidah tulis menulis. Biasanya ejaan ini mempunyai tiga aspek; aspek fonologis yang me­nyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan pe­nyusunan abjad; aspek morfologis yang menyangkut penggambaran satuan morfemis; aspek sintaktis yang menyangkut penanda ujaran berupa tanda baca.

Ada empat prinsip yang dipakai dalam penyusun­an suatu ejaan bahasa:

Advertisement

(1) prinsip kecermatan. Sistem ejaan adalah sistem yang tidak boleh berkontradiksi. Bila satu tanda atau huruf sudah digunakan untuk me­lambangkan satu fonem, untuk seterusnya tanda itu dipakai untuk fonem tersebut. Misalnya, ditetapkan huruf u digunakan untuk melambangkan fonem /u/, untuk selanjutnya huruf u saja yang digunakan, tan­pa campur aduk dengan huruf oe untuk melambang­kan fonem /u/;

(2) prinsip kehematan. Bila prinsip satu tanda untuk satu fonem tidak dapat dijadikan pegangan, perlu dicari suatu standar sehingga orang dapat menghemat tenaga dan pikiran dalam berko­munikasi;

(3) prinsip keluwesan. Suatu sistem ejaan tidak boleh menutup kemungkinan perkembangan ba­hasa di kemudian hari, misalnya dalam Ejaan yang Disempurnakan (EYD) diresmikan penggunaan/un­tuk kata aktif, sifat, fakultas, dan sebagainya. Dalam ejaan yang sebelumnya, ejaan Soewandi, tidak ada ke­tetapan tentang pemakaian huruf f, v, z, sj (dalam EYD sy) dan ch (dalam EYD k h);

(4) prinsip keprak­tisan. Dalam prinsip ini diusahakan supaya tidak menggunakan huruf baru yang tidak lazim. Bila di­gunakan huruf baru yang tidak lazim, mungkin hu­ruf tersebut tidak terdapat pada mesin ketik sehingga menimbulkan ketidakpraktisan dan kesulitan dalam mengetik.

Ejaan tidak hanya mengatur cara menulis huruf sa­ja, tetapi juga cara menulis kata dan menggunakan tanda baca seperti yang terdapat pada sistem ejaan EYD.

Dalam aksara alfabetis diusahakan agar setiap hu­ruf menggambarkan satu fonem, namun pada ke­nyataannya usaha semacam ini tidak selamanya ber­hasil, karena sifat bahasa bermacam-macam. Di sam­ping itu bahasa selalu berubah sepanjang masa dan supaya tulisan dapat melayani pemakainya seharus­nya tulisan juga berubah sesuai dengan perubahan ba­hasa. Namun kenyataannya tidak demikian, misalnya cara menuliskan kata-kata bahasa Inggris sekarang ini

masih didasarkan pada lafal bahasa Inggris Abad Pertengahan yang dipakai Chaucer dan lafal bahasa Ing­gris Modern Awal yang dipakai oleh Shakespeare. Ejaan yang “campur aduk” itu dipersulit lagi oleh pa­ra pencetak pada waktu itu, yaitu orang Belanda. De­ngan demikian didapat kesan bahwa bahasa Inggris mempunyai ejaan yang kacau.

Pada bahasa bernada seperti bahasa Thai, bahasa Mandarin, dan sebagainya, usaha membuat ejaan yang baik lebih sulit lagi, karena bahasa tersebut mem­punyai nada yang membedakan arti kata. Dalam ba­sa Mandarin, pada ejaan Wade Giles terdapat tam­bahan angka arab di samping kanan atas huruf ter­akhir untuk menyatakan nada tertentu pada morfem itu. Pada ejaan Hanyu Pinyin yang diresmikan pema­kaiannya oleh pemerintah RRC pada tahun 1955, di­gunakan tanda diakritis di atas vokal inti setiap mor­fem untuk menyatakan nada.

Incoming search terms:

  • definisi ejaan
  • kecermatan ejaa
  • pengertian dari kecermatan ejaan#spf=1

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • definisi ejaan
  • kecermatan ejaa
  • pengertian dari kecermatan ejaan#spf=1