Advertisement

Upacara terbesar umat Hindu di Indonesia yang dilakukan negara sejak Sri Maha­raja Tapolung bertakhta di Bedulu, Bali (1324-1343), sebelum Majapahit menaklukkan Pulau Bali pada ta­hun 1343. Upacara ini dilaksanakan setiap 100 tahun Saka sekali dan berpusat di pura induk Pura Besakih, di lambung Gunung Agung, Bali. Upacara Eka Dasa Rudra terakhir dilaksanakan pada bulan Maret tahun 1979. Sebelumnya upacara itu pernah diadakan pada bulan Maret 1963, tetapi waktu dan upakaranya ti­dak tepat dan keliru menurut perhitungan penanggal­an tahun Saka.

Sementara itu di Bali banyak terjadi malapetaka: Gunung Agung meletus 18 Maret 1963, peristiwa G30S/PKI teriadi pada tahun 1965 dengan banyak korban, bencana alam menyerang Tejakula pada tang­gal 5 Februari 1969 dan 20 Februari 1972, pesawat Pan Am jatuh pada tahun 1974 dengan korban seluruh pe­numpang dan awak pesawat, gempa bumi terjadi tang­gal 14 Juli 1976, hama wereng menyerang sawah- ladang berulang kali, hama tikus dan belalang meng­hancurkan tananrainii seluruh Bali, banjir, tanah longsor, kecelakaan lalu-lintas, kelahiran bayi aneh, dan keresahan lain terjadi berturut-turut. Semua itu menyebabkan para rohaniwan dan masyarakat umum menyatakan kepada Parisada Hindu Dharma Pusat, bahwa sudah saatnya diadakan upacara besar Eka Dasa Rudra yang tepat waktu dan tepat upakara­nya.

Advertisement

Upacara ini ditujukan kepada Tri Murti (Yang Esa), yang berwujud Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa. Eka Dasa Rudra terdiri atas serangkaian upacara memin­ta bimbingan para dewata agar menuntun umat Hin­du Bali ke jalan yang benar. Selama 27 hari para dewa memperoleh persembahan dan penghormatan dari umatnya. Upacara penutupan merupakan upacara un­tuk mempersilakan para dewa kembali ke kahyangan. Pada hari terakhir itu, 200 orang pendeta seluruh Bali duduk bersimpuh dan bersembahyang di hadapan padmasana, lambang Dewa Tri Murti.

Menurut kitab sastra Rajapurana, satu bulan se­belum Eka Dasa Rudra, dalam Sasih Kesanga (Bulan Sembilan) tanggal 1 (apisan) sampai panglong 15 (Bulan Mati), selama 30 hari, seluruh Bali harus me­nyucikan diri, tidak boleh melakukan perbuatan “sadatatayi” (membakar rumah, menganiaya, berke­lahi, membunuh, menumpahkan darah dan segala per­buatan yang dipandang dapat menodai jalannya upa­cara. Seluruh upacara Eka Dasa Rudra berada di ba­wah wewenang Sang Amawa Rat (penguasa, peme­rintah) dan seluruh rakyat yang bergabung dalam de­sa adat dalam jumlah 1456. Jika tidak dilaksanakan, dunia belum memperoleh “pemrayascita” (penyu­cian). Hal ini sangat penting bagi kesejahteraan hi­dup umat. Menurut babad Gunung Agung (tersimpan di Karangasem), Eka Dasa Rudra pernah dilaksana­kan pada tahun Saka 11 (89 Masehi) oleh Yogi Mar- kandya dan tahun Saka 111 (189 Masehi) oleh Batara Puta Jaya.

Upacara Eka Dasa Rudra terbesar dan terakhir dia­dakan mulai 27 Februari sampai 23 Maret 1979. Se­luruh umat Hindu di Indonesia merayakannya. Upa­cara tahun itu dihadiri juga oleh Presiden Soeharto, Menteri Agama pada saat itu, Gubernur Propinsi Bali, Ida Bagus Mantra, dan berbagai pejabat lainnya. Pada hari bersejarah itu dibuat sebuah prasasti yang kemu­dian disimpan di Pura Besakih. Prasasti itu dibuat di desa Kamasan, Kabupaten Klungkung, dan ditulis oleh Anak Agung Gde Purwa. Isi prasasti adalah segala hal yang bersangkutan dengan upacara Eka Dasa Ru­dra tahun 1979. Prasasti itu berukuran 3 X 30 senti­meter, terbuat dari perunggu dan terdiri atas dua lembar.

Pada hari bersejarah tertanggal 28 Maret 1979 itu, setelah upacara Hari Taur Agung, dipersembahkan sesaji dan doa untuk keselamatan rakyat Bali dari se­gala bencana alam, penyakit, dan sebagainya. Dalam upacara penyucian itu dipercikkan air suci, air tirta, untuk “membersihkan” Bali dari segala “kotoran”, dan memohon doa restu untuk kelangsungan hidup masyarakat Bali untuk 100 tahun mendatang. Air su­ci yang digunakan dalam upacara itu berasal dari 11 sumber air yang terdapat di Pulau Bali dan satu dari Gunung Semeru, Jawa.

Sebagai upacara agung, Eka Dasa Rudra memer­lukan suatu pengaturan yang cukup rumit. Panitia pe­nyelenggara menyiapkan segala bahan persembahan untuk Dewa Tri Murti berupa sesantun, seekor ayam panggang, sesari. Di samping itu panitia memberikan secarik kain putih, bokor tempat bunga, dan santa­pan kepada setiap pendeta yang melakukan ibadah itu.

 

Incoming search terms:

  • eka dasa rudra
  • eka dasa rudra besakih
  • upacara eka dasa rudra
  • eka dasa ludra
  • pengertian eka dasa rudra
  • upacara eka dasa rudra di besakih
  • eka dasa rudra di pura besakih
  • eka dasa rudra terakhir
  • pengertian upacara eka dasa rudra
  • makna upacara eka dasa rudra

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • eka dasa rudra
  • eka dasa rudra besakih
  • upacara eka dasa rudra
  • eka dasa ludra
  • pengertian eka dasa rudra
  • upacara eka dasa rudra di besakih
  • eka dasa rudra di pura besakih
  • eka dasa rudra terakhir
  • pengertian upacara eka dasa rudra
  • makna upacara eka dasa rudra