PENGERTIAN EKLEKTISISME – Kebanyakan ilmuwan sosial menganut salah satu atau lebih strategi teoritis yang baru saja kita bicarakan. Mereka menggunakan strategi yang dianggap lebih tepat sebagai alat yang kurang lebih eksklusif dan memberi orientasi bagi pemikiran dan membimbing upaya-upaya penelitian mereka. Namun, sejumlah ilmuwan sosial yakin bahwa secara intelektual tidak dapat dibenarkan hanya bersikukuh kepada satu pendekatan tertentu. Para ilmuwan ini mengklaim bahwa lebih baik mengakui kegunaan semua pendekatan yang ada. Pandangan ini dikenal sebagai eklektisisme. Mereka yakin bahwa masingmasing pendekatan memberikan pemahaman terhadap realitas yang valid secara parsial, dan apabila semua pendekatan ini digunakan dengan melakukan kombinasi, maka sebuah pemahaman yang lebih lengkap akan tercapai. Salah satu versi eklektisisme berpendirian bahwa masalah-masalah yang berbeda harus diterangkan dengan menggunakan pendekatan yang berbedabeda pula. Sementara penganut eklektisisme yang lain bertindak lebih jauh dari itu dan mengklaim bahwa setiap masalah tertentu harus diterangkan dengan menggunakan pendekatan ganda. Sebagian mereka ada yang lebih ekstrim lagi. Mereka berpendirian bahwa apa yang disebut dengan “kebenaran” ilmiah itu tidak ada, dan karena itu tidak ada penjelasan yang “tepat” bagi sebuah gejala.

Para penganut pendirian ini suka berpikir bahwa peridirian mereka lebih dapat dipertanggungjawabkan karena ia terbuka, dan penolakan terhadap pandangan eklektisisme merupakan indikasi dogmatisme dan kekakuan. Apa yang gagal diakui oleh penganut pandangan ini adalah bahwa mereka tidak lebih terbuka dari pihak yang mereka kritik karena bersikap dogmatis. Mereka sendiri berpegang teguh kepada pandangan-pandangan tertentu, secara ironi, mereka berpegang teguh kepada pandangan bahwa tidaldah dapat dibenarkan bagi seseorang berpegang kepada suatu pandangan tertentu. Dengan demikian, pertanyaan tentang keterbukaan sikap dan dogmatisme adalah isu yang tidak benar.

Problem utama dengan eklektisisme adalah karena pendirian tersebut akan membawa kepada kekacauan teoritis yang gawat (Harris, 1979; Sanderson, 1987). Karena berbagai strategi teoritis yang berbeda menggunakan asumsi-asumsi dan prinsip-prinsip yang tidak hanya berbeda tetapi seringkali kontradiktif, menerima semua strategi tersebut sebagai strategi yang valid berarti menerima adanya kontradiksi internal. Sebagai contoh, seseorang tidak mungkin menjadi teoritisi fungsionalis dan teoritisi konflik sekaligus dalam waktu yang sama, karena kedua strategi ini menawarkan interpretasi yang bertentangan tentang realitas sosial. Problem kontradiksi internal dan inkonsistensi hanya akan menjadi semakin buruk bila lebih dua pendekatan dipakai secara bersamaan.

Tujuan utama ilmu (termasuk tujuan sosiologi) adalah untuk mencapai pemahaman yang koheren dan utuh terhadap semua gejala yang relevan (cf. Maxwell, 1974a, b). Penjelasan yang koheren dan utuh dicapai (atau didekati) apabila penjelasan atas suatu gejala sangat terkait dengan penjelasan bagi gejala-gejala yang lain. Semakin sedikit prinsip yang digunakan, dan semakin besar jumlah dan keragaman gejala-gejala yang diterangkan prinsip-prinsip ini, maka semakin baik penjelasan ia berikan.** Eklektisisme langsung menyimpang dari tujuan ini dan karena itu merupakan strategi yang tidak kukuh bagi pengembangan ilmu. Tujuan ini hanya dapat dicapai apabila para ih-nuwan mengikatkan diri kepada strategi tertentu dan berusaha menjelaskan gejala dengan strategi tersebut sejauh yang dapat dilakukan. Tentu saja, tidak ada strategi teoritis yang dapat menjelaskan segala hal. Dari waktu ke waktu berbagai strategi lain dimanfaatkan untuk menjelaskan fenomena tertentu. Tetapi melakukan ini tidaklah harus menganut eklektisisme; ini sekadar mengakui bahwa betapa kompleks dan beragamnya gejala-gejala sosial yang dikaji seorang ilmuwan.

Filed under : Bikers Pintar,