PENGERTIAN EKLEKTISISME DALAM PSIKOTERAPI – Diperlukan sebuah kata akhir tentang paradigma dan aktivitas para terapis. Dari presentasi kami tentang berbagai pendekatan dalam penanganan, sepertinya terdapat praktik-praktik berbagai terapi yang terpisah dan tidak saling tumpang tindih. Anda mungkin memperoleh kesan bahwa seorang terapis perilaku tidak akan pernah mendengarkan penuturan klien tentang suatu mimpi, juga seorang psikoanalis tidak akan memberikan training asersi kepada seorang pasien. Dugaan seperti itu sangat tidak benar. Sebagian besar terapis menerapkan eklektisisme, menggunakan berbagai ide dan teknik terapeutik dari berbagai sudut pandang (Garfield & Kurtz, 1976).

Para terapis sering kali bertindak tidak konsisten dengan teori yang mereka anut. Selama bertahun-tahun para terapis perilaku mendengarkan klien mereka dengan empati, mencoba memahami perspektif mereka terhadap berbagai peristiwa, dengan asumsi bahwa pemahaman tersebut akan membantu mereka merencanakan program yang lebih baik untuk mengubah perilaku bermasalah. Teori behavioral tidak menyarankan prosedur semacam itu, namun berdasarkan pengalaman klinis, dan mungkin berdasarkan rasa kemanusiaan mereka sendiri, para terapis perilaku menyadari bahwa mendengarkan dengan empati membantu mereka membangun kedekatan dengan klien, menentukan apa yang sesungguhnya mengganggu klien, dan merencanakan program terapi yang masuk akal.

Dengan cara yang sama, Freud sendiri diceritakan lebih mengarahkan dan melakukan banyak hal untuk mengubah perilaku saat ini dibanding yang dapat disimpulkan dari tulisan-tulisannya. Dan para psikoanalis dewasa ini lebih memberikan perhatian pada perilaku yang terlihat dan menghilangkan simtom-simtom dibanding apa yang diberikan teori analitis awal. Beberapa penulis kontemporer, seperti Paul Wachtel, bahkan telah menyarankan agar para analis menggunakan teknik-teknik terapi perilaku, dan secara terbuka mengakui bahwa terapi perilaku dapat digunakan untuk mengurangi patologi perilaku.
• Beberapa paradigma utama, atau perspektif, digunakan dalam studi psikopatologi dan terapi. Pilihan terhadap satu paradigma memberikan konsekuensi penting dalam cara mendefinisikan, meneliti, dan menangani perilaku abnormal.
• Paradigma biologis berasumsi bahwa psikopa-tologi disebabkan oleh suatu kerusakan biologis. Dua faktor biologis yang relevan dengan psi-kopatologi adalah genetik dan kimiawi saraf. Terapi biologis berupaya untuk memperbaiki kerusakan biologis tertentu yang menyebabkan terjadinya gangguan atau menghilangkan simtom-simtomnya, sering kali dengan menggunakan obat-obatan.
• Psikoanalisis, atau psikodinamika, suatu paradigma yang berasal dari karya Sigmund Freud. Paradigma ini berfokus pada represi dan proses-proses bawah sadar lainnya yang dapat ditelusuri ke konflik-konflik di masa kecil. Paradigma psikoanalisis secara umum mencari penyebab abnormalitas dalam ketidaksadaran dan masa awal kehidupan pasien, walaupun analis ego di masa kini memberikan penekanan lebih besar terhadap fungsi-fungsi ego yang
• Para teoris kognitif berargumentasi bahwa skema tertentu dan interpretasi irasional merupakan faktor-faktor utama dalam abnormalitas. Dalam teori maupun praktik, paradigma kognitif biasanya digabungkan dengan behavioral dalam suatu pendekatan terhadap intervensi yang disebut kognitif-behavioral. Para terapis perilaku kognitif seperti Beck dan Ellis berfokus pada mengubah skema dan interpretasi negatif pasien.
• Karena setiap paradigma tampaknya memberikan sesuatu terhadap pemahaman kita mengenai gangguan mental, belum lama ini muncul suatu gerakan yang mengembangkan paradigma yang lebih integratif. Paradigma diathesis-stres, yang mengintegrasikan beberapa sudut pandang, berasumsi bahwa individu dipicu untuk bereaksi secara negatif terhadap berbagai stresor lingkungan. Diathesis dapat berupa biologis atau psikologis dan mungkin disebabkan oleh pengalaman masa kanak-kanak awal, karakteristik kepribadian yang diturunkan secara genetik, atau berbagai pengaruh sosiokultural.
• Sejalan dengan minat terhadap paradigma integratif dewasa ini, sebagian besar ahli klinis dewasa ini bersifat eklektik dalam pendekatan terhadap intervensi, menggunakan berbagai teknik di luar paradigma yang mereka anut, namun tampaknya bermanfaat dalam menangani kompleksitas berbagai masalah psikologis manusia.

Filed under : Bikers Pintar,